Menjadi Orang Positif yang Justru Negatif

Posted on
menjadi orang positif, pribadi positif, sifat positif dan negatif pada manusia, pikiran positif menjadi negatif, ciri orang negatif, contoh hal-hal positif dalam diri
Via: lifehacker.com

Seseorang dikhianati oleh kekasihnya, oleh figur yang dia bayangkan akan menjadi masa depannya. Dia begitu membanggakan sang kekasih, dan rela berkorban ini-itu demi melengkungkan senyumnya. Tetapi demikianlah yang dia terima. Rasa cinta dan harapannya yang menggebu sudah bikin buta.

Hanya saja, ketika bersama  teman-teman, dia tetap bisa menebar senyuman. Dia bahkan tertawa atas candaan receh yang ada. Padahal ketika mengobrol berdua, dia tak segan-segan menyatakan kesedihan dan kekecewaan beratnya. Katanya, apa pun yang terjadi, dia ingin berusaha menjadi orang yang positif.

Wait, what?

Jadi maksudnya, orang positif itu… yang tetap (terlihat) ceria di tengah kondisi duka? Yang tidak marah-marah ketika ada orang yang menghinanya? Yang tidak melawan ketika ada orang yang menuduhnya? Yang terus berkata manis? Yang terus tersenyum? yang terus mengikuti seminar motivasi? yang terus membagikan quotes inspiratif? yang terus membagikan postingan agamis? yang terus berujar ‘semua akan indah pada waktunya’?

Persetan itu semua.

Kok mirip dengan denial alias penyangkalan, ya? Mirip juga dengan pembualan dan penciptaan oh so sugary image.

Apa Orang Positif Tidak Boleh Mengekspresikan Emosi Negatif?

Kadang kita keliru ketika mengartikan pikiran dan sikap positif. Atas nama positif, kita jadi terlarang untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif. Misalnya mengeluh, menangis, menyendiri, menggerutu, mengeluarkan kata-kata umpatan, menampar, memukul benda, menjerit, menjadi melankolis, memutarkan lagu-lagu sedih, dsb.

Bukankah emosi yang terus diendapkan itu berbahaya? bisa jadi bom waktu nantinya?

Orang-orang yang stress atau depresi bisa jadi berawal dari ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi diri. Mereka memakai topeng berupa senyuman dan wajah “baik-baik saja”. Mereka takut dibilang cengeng, lemah, dramatis, lebay, dan negatif. Dari luar tampak normal, namun dari dalam, ternyata dia tengah menghadapi medan perang sendirian.

Beda masalah, beda orang, beda juga reaksinya. Kita tak bisa memukul rata. Bagi Si A, matinya hewan peliharaan bisa menjadi sumber kesedihan yang mendalam. Hal itu belum tentu berlaku bagi Si B, C, D, dst. Demikian juga ketika Si E yang sangat terpukul atas kegagalan hubungan percintaannya. Maka efek yang sama belum tentu berlaku juga bagi Si F, G, H, dst.

Kita bisa saja berkata, “santai senyumin saja”, “kalem nanti juga ada hikmahnya”,  “liat tayangan komedi gih biar terhibur!”, “daku mengerti perasaanmu”, “daku bisa merasakan kesedihanmu”, dsb. Tapi, benarkah? Faktanya, kita tak bisa benar-benar memahami orang lain. Vice versa, tak ada orang yang bisa benar-benar memahami kita.

Kita boleh saja mengekspresikan emosi negatif. Asal tetap kendalikan diri, dan jangan sampai berlarut-larut. Pada akhirnya, kita akan selalu belajar untuk melepaskan, mengikhlaskan, menyerahkan semua pada-Nya, dan move on.

Tetap positif dan berbahagia selalu hadir di daftar pilihan. Pertahankan pemikiran dan sikap positif.  Terus dekati orang-orang positif. Menjadi Orang Positif yang Justru Negatif. #RD

2 thoughts on “Menjadi Orang Positif yang Justru Negatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 − 1 =