6 Pikiran Keliru Anak Broken Home tentang Cinta atau Sebuah Hubungan

Posted on
anak broken home, diary anak broken home, pikiran keliru anak broken home tentang cinta dan hubungan, sifat anak broken home, ciri anak broken home, ciri ciri keluarga broken home, cerita anak broken home, derita anak broken home, psikologi anak broken home
Via: osegredo.com.br

Apa iya anak-anak broken home memiliki peluang perceraian yang lebih tinggi di kemudian hari?

Oh…

Entah ada atau tiada studinya, namun tampaknya kasus perceraian memang sudah sangat banyak. Kita sudah tak terkejut lagi dengan kabar semacam ini. Namun bagi anak broken home, dibutuhkan kesabaran dan usaha ekstra untuk “move on” dari perceraian orang tua.

Ada kalanya kami terjebak ke dalam masa lalu, tepat di mana masih merasakan betul betapa pahit dan ngerinya ketika orang tua berpisah. Kalau kebetulan sedang menjalin hubungan, ingatan itu akan membuat kami semakin menjaga keutuhan cinta. Kami begitu trauma.

Masa-masa “healing”-nya juga tidak sekejap. Perlu waktu.

Lebih lagi, kami sempat memiliki asumsi tersendiri terkait cinta atau relationship. Jom!

  1. Awalnya Mengira Kalau Setiap Hubungan itu Akan Hancur atau Berpisah

Kedengarannya pesimis, ya?! Bagaimana pun, kami sudah menyaksikan dua orang yang dulu memiliki ikatan cinta kuat, namun pada akhirnya bercerai-berai juga. Asumsi yang menyimpang itu sempat membuat kami “agak gimana gitu” terhadap pernikahan. Bawaannya sensitif kalau ada yang bilang kalau pernikahan itu bakal langgeng, awet, bahagia selama-lamanya. Pernikahan itu sangat sakral. Kami takut akan perceraian.

Setelah ini dan itu, kami sadar kalau kelanggengan pernikahan itu memang tak pasti. Namun sebaiknya kami fokus untuk menjaga agar apa yang sudah dibangun tak mudah roboh begitu saja. Kami sudah tahu dan mengalami, bagaimana dampaknya perceraian. Karena itu sebaiknya jangan berpikiran negatif, jangan menyerah, dan kami harus membuktikan kalau anak broken home bisa sukses dalam pernikahan.

Baca Juga: 10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home

  1. Awalnya Kami Merasa Ikut Bertanggung-Jawab atas Perceraian Orang Tua

Kami memupuk perasaan bersalah sekaligus kehilangan lantaran orang tua harus berpisah. Kami menebak-nebak; mungkin semuanya terjadi gara-gara kami, atau perceraian terjadi karena kami gagal total mengubah keputusan orang tua.

Setelah ini-itu, kami justru merasa ikatan dengan orang tua dan saudara-saudara jadi semakin kuat. Betapa tidak, kami sudah menghadapi masa yang penuh uji coba bersama-sama. Pada akhirnya, kami saling ada dan mendukung satu sama lain. Kalau pasca perceraian masih bisa mempertahankan hubungan harmonis dengan saudara-saudara dan orang tua, kami sangat mensyukurinya.

  1. Awalnya Kami Ragu dengan Hubungan dan Pasangan Sendiri

Kepercayaan menjadi satu dari sekian isu yang paling menantang. Kami tumbuh dengan mental yang ‘tak mudah percaya apapun atau siapapun’. Bagaimana pun, kami melihat sendiri bagaimana orang tua yang (mungkin) sudah berjanji untuk sehidup semati malah berhenti di tengah jalan. Peristiwa itu ibarat pengkhianatan yang terus tertancap di ingatan dan sangat memengaruhi kepercayaan di masa mendatang.

Setelah ini-itu, kami sadar kalau hubungan yang baik harus didasari atas kepercayaan. Kita harus belajar memercayai pasangan dan hubungan yang sedang dijalani. kita harus menepis rasa ragu yang terus menghantui. Kita tak perlu berpura-pura, tak harus menahan-nahan emosi, tak perlu berlagak ‘selalu strong’, dsb. Kita harus terus berjuang untuk memaafkan masa lalu, melepas amarah dan kecewa, mengampuni orang tua dan diri sendiri, serta mulai merangkul pasangan seutuhnya.

anak broken home menyendiri, pikiran keliru anak broken home tentang cinta dan hubungan, diary anak broken home, ciri ciri keluarga broken home, cerita anak broken home, derita anak broken home, psikologi anak broken home
Via: everypixel.com
  1. Awalnya Kami Mengira Kalau Menghindari Cekcok itu Jalan yang Terbaik

Cekcok atau adu argumen itu memang tak menyenangkan. Kalau sampai hilang kendali malah bisa berakibat fatal. Untuk itu, kami sering lari atau bersembunyi dari masalah ketimbang dengan menghadapi dan meluruskannya. Solusi itu kami ambil agar pertengkaran bisa dihindari.

Setelah ini dan itu, kami sadar kalau cekcok biasanya datang dari kesalahpahaman atau kurangnya kejelasan. Kami mulai paham kalau salah-satu bagian dasar yang paling penting dari sebuah hubungan adalah komunikasi yang baik dan benar. Semua itu membimbing kami untuk terbuka dan jujur apa adanya.

  1. Awalnya Kami Merasa Berhak untuk Bersikap Bodoh dan Mencari Perhatian

Kami ini sering ‘playing victim’ atau berlagak sebagai seorang korban, menyalah-nyalahan pihak lain, melakukan kenakalan, dan tak bertingkah dewasa. Kami merasa teraniaya, merasa haus kebebasan, dan merasa tak perlu bertanggung-jawab atas apa yang sudah diperbuat. Pokoknya kami suka cari perhatian orang tua atau orang lain, agar mereka memahami kami. Agar mereka berempati, sayang, dan mencurahkan perhatian pada kami.

Baca Juga: 17 Arti atau Makna Tentang Dewasa

Setelah ini-itu, kami jadi malu sendiri. Tak perlu bertingkah menyimpang atau membahayakan untuk mengundang perhatian orang-orang. Kalau mereka ‘tak peka’ sesuai dengan harapan, yang ada, kami malah semakin marah dan frustasi. Seharusnya kami menebar serta memupuk cinta dan sayang, agar kami bisa menuai cinta dan sayang juga.

  1. Awalnya Kami Merasa Tak Akan Pernah Bisa Jadi Panutan Anak-Anak (Kelak)

Anak broken home mana pun tak menginginkan anaknya kelak mengalami hal yang sama. Kami tak tega membayangkan kalau mereka akan melalui masa-masa yang sulit, menantang, dan penuh ujian. Kami juga takut kalau mereka akan menghadapi pelabelan negatif yang sama persis.

Setelah ini-itu, kami seharusnya tidak terjebak pada rasa takut akan hal-hal yang belum terjadi. Kami masih memiliki opsi untuk menunjukkan dan mencontohkan bagaimana hubungan yang suportif, nyaman, dan bahagia. Kami justru memiliki kesempatan untuk menjadi role model atau panutan mereka.

6 Pikiran Keliru Anak Broken Home tentang Cinta atau Sebuah Hubungan. #RD


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 4 =