Bahagia itu adalah Pilihan dan Sifatnya Sederhana Saja, Benarkah?

Posted on
Bahagia itu adalah Pilihan, bahagia itu sederhana, memilih bahagia, kebahagiaan, bahagia adalah
Via: istockphoto.com

Daku sempat memosting tulisan tentang “9 Pengakuan Blak-Blakan Tentang Orang-Orang dan Kehidupan”. Di dalamnya ada poin yang menjelaskan kalau… kadang-kadang bahagia itu bukanlah pilihan dan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Poin itu memicu salah-satu pembaca blog, yang kemudian menuangkan komentarnya di kolom yang sudah tersedia. Beliau menamai diri sebagai Nemesia de Lumiere, yang mana sudah enggak asing lagi di blog ini. Pandangannya memang selalu menarik, dan beliau tak segan-segan menyampaikannya di berbagai postingan.

Daku sangat bersyukur tulisan-tulisan di blog ini sudah dibaca dan bahkan dikomentari oleh sosok-sosok seperti beliau. Perbedaan dan perdebatan itu memang jadi hal yang tak terhindarkan. Tetapi kita terbuka saja…

Kali ini, daku rasa daku harus membuat postingan khusus terkait pendapat beliau. Khususnya tentang kebahagiaan. Apakah bahagia itu memang pilihan? Apakah bahagia itu sesederhana seperti kata orang? Apa benar kita jangan terlalu larut dalam kebahagiaan? Apa benar kita juga, sesekali, ‘butuh’ penderitaan atau kesedihan? Jom!

bahagia dan sedih, happy and sad, poto bahagia dan sedih, bahagia itu pilihan, bahagia itu tidak sesederhana yang dibayangkan, memilih bahagia, bicara tentang kebahagiaan
Via: istockphoto.com

Penulis: Nemesia de Lumiere

Saya memilih keduanya seperti saya butuh cahaya saat terjaga dan butuh gelap untuk tidur… seperti saya butuh kenyang saat lapar dan butuh lapar setelah kenyang… seperti saya butuh sakit saat sehat dan butuh sehat saat sakit.

Jadi saya pilih keduanya kebahagiaan dan penderitaan karna saya membutuhkan keduanya.

Kebahagiaan membuat tubuh saya sehat, membuat saya dan orang disekitar saya tersenyum. Tetapi kebahagiaan juga membuat hati saya lemah, selalu membuat saya lengah. Sementara penderitaan membuat saya kurus orang di sekitar saya ikut susah, membuat saya susah tidur, dsb.

Tetapi penderitaan membuat hati saya kuat membuat saya lebih kreatif, membuat saya semakin paham siapa dan bagaimana saya, membuat saya bisa merasakan betapa nikmatnya mendengarkan musik death metal saat hati sedang down.

Kebahagiaan dan penderitaan adalah takdir sekaligus juga pilihan karna itu saya juga setuju sekaligus tidak setuju dengan ungkapan bahwa “bahagia itu sederhana”. Itu artinya kebahagiaan sebagai pilihan, ada banyak hal yang bisa menjadi sumber kebahagiaan dan penderitaan disekitar saya dan ungkapan itu benar bagi saya.

Saya masih memiliki tubuh yang sehat, pikiran saya masih waras, masih punya penghasilan yang bisa dibilang masih bisa dicukupcukupinlah, masih bisa makan 2 atau 3 kali sehari, masih punya teman dan kerabat yang masih menyayangi saya,..

Saya hidup di Indonesia yang bukan negara konflik dan terlepas dari berbagai kesulitan. Ujian yang dialami sehari-hari, saya rasa masih tidak tidak ada apa apanya dibanding kebahagiaan yang saya rasakan.

Jadi ungkapan “bahagia itu sederhana” memang pada kondisi dan waktu tertentu memang benar, tapi ungkapan itu tidak berguna saat penderitaan datang sebagai takdir. Karna itu, saya tidak setuju dengan ungkapan itu. Walau sehebat apapun seseorang, kalau sudah waktunya susah ya susah.

Sebut saja anak anak kelaparan, para korban penganiayaan, korban pelecehan, dll. Jadi ungkapan “kadang-kadang, bahagia itu bukanlah pilihan dan tidak sesederhana yang dibayangkan” itu artinya… kebahagiaan dan penderitaan adalah takdir sekaligus juga pilihan. Bahagia itu adalah Pilihan dan Sifatnya Sederhana Saja, Benarkah? #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =