Balas Dendam Terbaik itu Seperti Apa?

Posted on
balas dendam, cara balas dendam, balas dendam terbaik, balas dendam terbaik pada mantan, balas dendam dalam islam, balas dendam ali bin abi thalib, balas dendam dengan cara bahagia
Karya: Ben Heine dan Sebastien Del Grosso

Ada yang sedang dalam misi balas dendam pada mantan? pada atasan? pada teman? atau pada yang lainnya?

Wah, kalimat pembuka saja sudah begitu mengompori, ya. Hehe…

Balas dendam cenderung menjadi ungkapan yang memiliki kesan negatif, jahat, dan horor. Balas dendam itu mengundang emosi atau amarah yang terpendam. Balas dendam itu, kalau kesampaian, bisa membuat kita puas. Dan bisa jadi, balas dendam itu membuat pihak lain lebih menderita.

Daku pribadi sempat beberapa kali mengalaminya. Salah-satunya ketika seorang dosen secara tidak langsung mengatakan kalau tulisan orang biasa itu sia-sia, dalam artian tak akan banyak yang membaca. Katanya, kita harus ‘punya nama’ dulu. Kita harus punya buku dulu. Bukunya harus laris manis atau jadi best seller dulu. Jleb!

Tanpa sadar, omongannya itu sudah memupukkan dendam. Daku jadi terdorong untuk membuktikan bahwa perkataannya itu keliru. Daku pun berjuang untuk menerbitkan buku fiksi, khususnya novel. Namun ekspektasi memang tak selamanya datang bergandengan dengan realita. Upayaku mengalami kebuntuan.

Kalau daku terus berkutat pada sesuatu yang belum kesampaian, hanya karena ‘ingin balas dendam’, bisa terbayang betapa sesak dan menderitanya hidup ini.

Padahal seharusnya balas dendam yang terbaik itu tidak membuat kita terbebani, menderita, bikin down, terlalu mengasihani diri sendiri, dan mengubur rasa percaya diri.

Karena ‘kegagalan’ itu, hikmahnya, daku jadi mengenal dunia tulisan nonfiksi, artikel, atau blogging. Hal baru yang ternyata tak kalah bikin excited ini pun menggerus rasa bersalah dan ‘kegagalan’ yang daku alami. Tak apa belum menerbitkan buku, tak apa belum punya karya yang laku, tak apa tak menjadi penulis terkenal, dan pokoknya… tak sempurna tak apa.

Bahkan daku jadi lupa sama misi pembuktian pada sang dosen itu.

Apa Iya Balas Dendam Terbaik itu Dengan Kesuksesan?

perempuan marah, balas dendam, balas dendam terbaik, balas dendam dengan menjadi orang sukses, balas dendam dengan menjadi orang bahagia
Via: emunahysrael.net

Daku belum bisa menerapkan definisi balas dendam terbaik versi orang-orang, yakni harus sukses (khususnya dalam dunia kepenulisan) – karena misiku memang membuktikan itu pada sang dosen. Btw, sukses itu apa? Hehe…

Seseorang yang balas dendam pada mantan kekasihnya juga mungkin sempat berpikir kalau misinya itu dikategorikan berhasil kalau; memiliki pengganti yang lebih baik-keren-hot, pekerjaan yang lebih menjanjikan, kendaraan yang lebih mewah, dsb.

Namun apa arti semua itu kalau di hati kita justeru penuh dengan kebencian, kesombongan, dan keinginan agar orang lain (khususnya mantan atau mereka yang jadi sasaran) memiliki hidup yang tidak lebih baik?

Kalau sudah begitu, hati dan pikiran kita jadi terbagi. Kita tak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan memusingkan urusan orang lain juga. Duh, bagaimana ya kalau dia lebih sukses? Lha?!

Padahal kita sudah hidup di masa kini, tak perlu lagi menggali-gali yang sudah lalu. Bukankah lebih nyaman kalau kita tak lagi hidup di bawah bayang-bayang sesuatu atau seseorang yang sudah jadi sejarah?

Balas Dendam Terbaik adalah Menjadi Pribadi yang Lebih Baik dan Bahagia

perempuan bahagia, perempuan tersenyum, hidup indah tanpa balas dendam, balas dendam terbaik, balas dendam dengan berbahagia, balas dendam dengan move on, balas dendam dengan melepaskan dan berbahagia
Via: uprint.id

Hatiku jauh lebih terhibur ketika Ali Bin Abi Thalib memberikan makna lain terkait hal ini. Menurutnya, balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan dirimu lebih baik. Itu!

Pendapat beliau memang sangat bijak. ‘Balas dendam’ yang beliau sarankan tidaklah mengancam diri sendiri dan orang lain. Aksi ini justru menambah kualitas diri, dan manfaatnya bisa dirasakan oleh semua. Entah itu jadi sosok yang lebih peka, gaya hidupnya lebih sehat, hubungan sama Sang Pencipta semakin erat, sifatnya jadi lebih dermawan, keputusannya lebih bijak, dlsb.

Kita juga bisa balas dendam dengan cara… menjalani hidup yang lebih bahagia. Lepaskan dan move on.

Fokus saja pada diri sendiri. Lalu fokus juga pada sesuatu atau seseorang yang membuat senyum mekar, jantung berdetak kencang, kupu-kupu berterbangan, dan menyemangati kita untuk tetap bertahan di medan perjuangan. Bahagiakan diri sendiri dengan membahagiakan mereka juga.

Dengan demikian, barangkali, dendam kita sudah usai. Balas Dendam Terbaik itu Seperti Apa? #RD

2 thoughts on “Balas Dendam Terbaik itu Seperti Apa?

  1. Pemikiran yang bagus 🙂

    Wah, itu yang cerita tentang dosen agak jleb juga ya, haha. Mungkin beliau pahamnya menulis untuk dikenal, padahal kan belum tentu semua tulisan sifatnya demikian, jadi ngga ada yang sia-sia. Kalo gue denger sendiri saat itu, mungkin akan timbul dendem juga, berasa pengen buktiin kalo kata-katanya salah.

    Kalau balas dendam kita didasari rasa agar orang lain hidupnya jadi tidak lebih baik dari kita, keliatannya itu udah mengarah ke negatif. Yang ada hidup kita malah ga tenang, pasti ada yang ngeganjel di hati. Gue setuju sama ini: “seharusnya balas dendam yang terbaik itu yang tidak membuat kita terbebani, menderita, dll…”

    Ah ya, menjadikan diri kita lebih baik, that’s the best revenge ever. Kualitas hidup yang lebih baik, dengan sendirinya akan membawa kebaikan ke lingkungan 😀

    1. Terima kasih, Mas Bayu. Hehe iya saking jlebnya jadi suka teringat. Tapi semakin lama ya semakin bisa merelakan sih. 😀

      Iya, naluri manusianya “sedang ada” nih, jadi ngaku salah deh kalau pengin balas dendam tapi di atas “penderitaan” orang. Enggak dibenarkan. Makanya keluar kata2 itu; seharusnya balas dendam yang terbaik itu yang enggak membebani, menjadi sumber derita, dll.

      Hehe siap, makna balas dendam versi ali bin abi thalib itu emang ngena, Mas. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 7 =