Demi Melindungi Hati, Kita Boleh Jaga Jarak dan Putus Hubungan dengan “Orang Beracun”

Posted on
toxic people, apa itu toxic people, melindungi diri dari orang beracun, menjauh dari toxic people, melindungi hati
Image via: humansarefree.com

Eh, “orang beracun” itu seperti apa?

Toxic people alias orang-orang yang mengandung racun itu eksis tanpa kita sadari.

Tetapi mereka bukanlah sosok yang memiliki bisa atau menyengat. Kamu tahulah, mereka itu memiliki karakter yang khas yang negatif. Tiap mereka ada, kita jadi enggak nyaman dan enggak betah.

Toxic people itu biasanya manipulatif, pembual, suka ngejudge, hobi menyalahkan, terlalu kepo hal-hal pribadi padahal kita enggan membahasnya, anti minta maaf, tidak pelupa pada detail kesalahan atau kekhilafan orang lain, suka datang kalau ada kebutuhan saja, doyan mengorek-ngorek sisi terburuk dari sesuatu, punya prinsip ‘punyaku untukku dan punya orang lain untukku juga’, berlagak menolong tapi ternyata menjerumuskan, berlagak memuji tapi ternyata menghina, dsb. Masih banyak lagi.

[Baca Juga: 16 Ciri Kalau Kita Termasuk Orang yang Negatif]

Malangnya Introvert yang Berteman dengan Toxic People

Sebagai sosok introvert, daku pribadi butuh waktu untuk dekat dengan seseorang. Orang introvert bahkan baru mulai terbuka jika seseorang itu bisa bikin nyaman, khususnya secara emosional. Enggak bisa dipaksa-paksa. Kalau sudah enggak nyaman dengan seseorang, daku biasanya menjauh dan sebisa mungkin enggak berurusan dengan orang tersebut. Sekali pun dulunya kami berhubungan dekat.

Apalagi kalau sudah berhadapan dengan orang yang amat sangat cerewet, pengen ngorek-ngorek urusan pribadi padahal kami enggak dekat, doyan menyindir tentang segala hal, sombongnya minta disekolahin, suka memaksa, dsb, maka sebaiknya daku mundur dan cenderung disconnected alias putus hubungan.

[Baca Juga: 15 Hal yang Perlu Diingat Kalau Ingin Berteman atau bersahabat dengan Orang Introvert]

Kamu tahu ‘kan maksudnya? Kita tetap membalas sapaan atau panggilan, tapi enggak akan memulai duluan kalau situasinya tidak begitu krusial.

Perlindungan Hati

Enggak apa-apa deh enggak karib juga. Sekalipun dia orangnya populer, tajir, pendidikannya tinggi, status sosialnya dihormati, pekerjaannya keren, pengaruhnya kuat, dll. Daku cuma ingin melindungi diri sendiri, terutama hati.

Ibarat kata, lebih baik ditemani satu atau dua orang yang memahami, ketimbang dikelilingi ribuan teman yang beracun semua.

Hal ini benar-benar memengaruhi pergerakanku. Sebut saja di media sosial. Daku tadinya rutin update status atau mengunggah poto, jadi semakin jarang bahkan menghentikan aktivitas itu karena ‘gangguan’ dari para toxic people. Begitu ‘ketemu lagi’ di media sosial lain, daku lebih memilih untuk tidak berteman atau tidak menjadi follower-nya. Demikian juga jika tergabung dalam grup, misalnya WhatsApp, daku akan lebih banyak diam dan lebih berhati-hati dalam bersikap.

Kita Lebih Butuh Energi Positif

Namanya juga ‘orang beracun’, mereka memang memiliki efek kurang baik terhadap diri kita. Energi negatif yang mereka bawa itu bikin kita ingin segera menumpasnya. Kalau bisa diubah atau diperbaiki, ya syukurlah, tetapi kalau tidak, masih ada miliaran orang lain.

Orang sempurna itu memang tak ada, tetapi sosok yang lebih baik dan positif itu belum punah.

Kita memerlukan pasangan, sahabat, teman, atau rekan kerja yang lebih positif, tidak mudah melabeli atau ngejudge, punya tenggang rasa, selalu mengingatkan pada kebaikan, dan segenap karakter keren lain. Kalau sudah menemukan figur yang demikian, sebaiknya jaga hubungan agar tetap dekat dan tetap connect. Sosok-sosok yang seperti itu sangat berharga.

Jangan-jangan kita sendiri merupakan toxic people?

Ups! Refleksi diri itu urusan pribadi. Yang jelas, kita sudah tahu seperti apa dan bagaimana pengaruhnya orang-orang beracun terhadap kehidupan. Apa kita juga semestinya sudah tahu bagaimana cara untuk menyikapinya. Demi Melindungi Hati, Kita Boleh Jaga Jarak dan Putus Hubungan dengan “Orang Beracun”. #RD

2 thoughts on “Demi Melindungi Hati, Kita Boleh Jaga Jarak dan Putus Hubungan dengan “Orang Beracun”

  1. Susahnya ngadepin orang kaya gitu ! disetiap populasi, komunitas, perkumpulan ataupun kelompok pasti ada aja orang yang bikin kita gak nyaman. dan sebagai sesama introvert saya juga setuju lebih baik saya jaga jarak atau kalo bisa saya menjauh aja atau disconnected dari orang kaya gitu, toh gak kenal juga gak akan rugi.
    Bagi saya pribadi selama sikap dan perlakuan negatifnya masih dalam tahap wajar (wajar menurut saya) saya biarkan aja tapi jikalau sudah keluar dari batas saya harus mengambil sikap “Anjing menggonggong kafilah berlalu”. tapi jika gonggongannya sudah dirasa mengganggu saya lempar batu apalagi jika anjingnya mau menggit saya tembak mati.
    Yup..benar! sosok yang lebih baik itu masih banyak kehidupan adalah tentang keseimbangan jika ada toxic people maka ada honey people atau antivenom people yaitu orang” yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan yang bisa menetralisir racun dari para toxic person itu.
    Apa manfaat terbesar orang” yang beracun itu bagi kehidupan selain sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan kita atau kecerdasan emosional kita seperti bisa ular yang bisa dimanfaatkan sebagai obat artinya seburuk apapun mereka (toxic people) mereka juga masih ada gunanya maksud saya jika kita pernah atau sedang bermasalah dengan para toxic person itu kita harus belajar untuk bisa mengambil hikmahnya.

    1. Haha dari lembut sampai ke ekstrem nih, yang “anjing menggonggong kafilah berlalu itu”. Mulai dari diabaikan sampai tembak mati. 😀

      Jadi dapet istilah baru nih; honey people, antivenom people, atau mereka yang bisa menetralisir kita dari energi negatif para toxic people.

      Wah benar sekali! hikmah dari eksistensi para toxic people memang bisa menguji sekaligus meningkatkan keimanan serta kecerdasan emosional kita, ya. As always. Komentarnya mantap! Terima kasih banyak. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 16 =