5 Alasan Utama Kenapa Menulis Diary Alias Catatan Harian itu Baik Buat Orang Introvert

Posted on
diary, isi buku diary sedih, arti diary, menulis diary, manfaat menulis diary, diary orang introvert, diary introvert, 5 Alasan Utama Kenapa Menulis Diary Alias Catatan Harian itu Baik Buat Orang Introvert
Image via: gamblershelpwestvic.org.au

Pernah tidak sih kamu menulis diary, terus setelah beberapa waktu terlupakan, catatan itu muncul dan terbaca?

Daku kadang senyum-senyum sendiri ketika membaca jurnal harian lama. Di sana ada cuplikan kejadian, keterangan waktu, nama-nama, rahasia, emosi, dan misteri. Sensasi yang menarik, bukan?

Di satu sisi, kita ingin menjadikannya sebagai rahasia besar. Di sisi lain, ada setitik harapan kalau orang lain bisa menemukan dan membacanya. Lalu, terkuaklah apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita.

Diary itu Basi?

Sebagian orang mungkin menganggap kalau penulis diary itu payah. Sekarang sudah ada fasilitas poto dan video yang bisa mengabadikan momen. Namun masih ada juga yang setia menuliskan segenap aktivitas secara detail. Tak harus setiap hari, tetapi setidaknya ada update.

Kebiasaan yang mulai on-and-off ini, bagiku pribadi, memang sudah menjadi terapi. Lebih lagi sekarang ada blog, yang tentunya semakin membantu. Orang introvert yang notabene kurang bisa terbuka pun bisa tertolong.

[Baca Juga: 101 Alasan Kenapa Mesti Menulis Diary]

Setidaknya ada 5 alasan utama kenapa menulis diary atau jurnal harian itu baik, khususnya bagi si introvert. Jom!

  1. “Bersih-Bersih” Otak dan Hati
wanita introvert, gadis introvert, introvert sendirian, beres beres hati, beres beres ota, merapikan isi hati
Via: Picjumbo.com

Ya, pikiran dan perasaan kita seringkali berantakan oleh berbagai hal. Urusan uang, sekolah, kerjaan, cinta, pertemanan, keluarga, politik, kemiskinan, dll, berserakan. Jejal. Tak heran kalau kita jadi mudah hilang fokus, emosional, dan lemas duluan.

Diary bisa membantu “merapikan” semua hal yang berantakan itu. Kita bisa menuliskan apa pun, meluapkannya sampai tuntas. Kalau perlu jangan ada yan disensor. Mau berkata kasar, menuliskan nama, atau menyemprotkan emosi juga bebas. Kalau sudah plong, setidaknya beban hati jadi tak begitu berat lagi. Kita bisa lebih produktif dan konsentrasi.

  1. Menjadi “Juru Bicara” Setia
pikiran introvert, komunikasi orang introvert, isi buku diary sedih, arti diary, menulis diary, manfaat menulis diary, diary orang introvert,
Via: introvertspring.com

Salah-satu hal yang dulu membuatku tertarik untuk menjadi guru, yaitu karena kita akan memiliki murid. Lalu murid itu akan mendengarkan apa pun yang kita omongkan. Entah itu berisi pelajaran, nasihat, atau mungkin sekadar obrolan. Pasti senang rasanya kalau sudah memiliki pendengar setia yang fokus memerhatikan kita.

Namun ketika PPL, rupanya apa yang ingin daku sampaikan ke kelas malah tidak sesuai dengan apa yang sudah dikonsep. Otak dan mulut sepertinya tidak bisa diajak kerja sama. Lebih lagi daku tidak begitu ekspresif, sehingga semuanya terkesan kikuk. Beda lagi jika kita menulis diary atau jurnal, khususnya yang dipublikasikan seperti blog atau via media sosial.

[Baca Juga: 15 Tips Menghadapi PPL (Praktik Pengalaman Lapangan)]

Kalau lewat tulisan, setidaknya kita bisa mengedit atau membaca ulang dulu sebelum di-share ke khalayak. Benar-benar membantu introvert untuk mengkomunikasikan ide, pendapat, atau segala hal yang ingin disampaikan. Itulah kenapa, mayoritas introvert lebih nyaman chatting, texting, atau surat-menyurat ketimbang dengan teleponan.

  1. Membantu “Menjinakkan” Overthinking yang Ganas
overthinking adalah, arti overthinking, orang introvert overthinking, berpikir terlalu keras, berpikir terlalu dalam, wanita introvert, gadis introvert, introvert sendirian,
By: Starg691 via DevianArt

Overthinking, berpikir terlalu dalem dan keras, serta seperti tidak berkesudahan. Kebiasaan ini menjadi salah-satu kekurangan introvert. Sebagai makhluk berakal, kita pasti berpikir, tetapi segala sesuatu kalau sudah dalam tahap ‘keterlaluan’ tentu tidak baik juga, ya. Yang ada malah stress, gelisah, dan menyiksa diri sendiri atau mungkin orang sekitar juga.

Beruntung juga kita hidup di zaman now, di mana banyak media yang bisa digunakan untuk sharing isi kepala. Jika kita ragu untuk curhat langsung kepada keluarga dan sahabat, masih ada pilihan diary, blog, atau medsos. Cara ini bisa membantu mengendurkan pikiran yang terasa terus bekerja.

  1. Mengisi “Me Time”

Me Time atau waktu khusus untuk diri sendiri memang bisa diisi oleh berbagai hal. Introvert sepertinya akan suka membaca, nge-game, mendengarkan musik, dll. Agar lebih menghasilkan atau memberikan sesuatu, kita bisa lebih produktif lagi, misalnya dengan menulis diary.

  1. Melatih Skill Menulis

Ada beberapa keahlian yang direkomendasikan bagi introvert. Misalnya dalam bidang potografi, seni, analisis, dll, termasuk juga menulis. Percayalah, menulis itu bukan skill yang sepele… walau seringkali justru disepelekan. Kalau sering dilatih atau ditempa, skill ini tak hanya menjadi hobi, melainkan sumber pendapatan tersendiri.

Lihatlah, betapa menulis ini bisa menjadi upaya konseling atau penyuluhan dari diri sendiri pada diri sendiri. Selain tidak merepotkan orang lain, misi ini juga mudah dan murah. 5 Alasan Utama Kenapa Menulis Diary Alias Catatan Harian itu Baik Buat Orang Introvert. #RD

8 thoughts on “5 Alasan Utama Kenapa Menulis Diary Alias Catatan Harian itu Baik Buat Orang Introvert

  1. Eh…kebetulan! sekitar pertengahan maret tahun ini saya udah mulai rutin menuangkan isi fikiran saya dalam jurnal pribadi, entah itu bisa disebut diary atau bukan karna catatannya lebih banyak dengan gambar dan simbol-simbol gak jelas yang hanya saya sendirilah yang ngerti (yang parahnya setelah beberapa hari/minggu berlalu lalu saya buka lagi catatan itu saya bingung, gimana ini bacanya ? simbol ini artinya apa..?) jadi mungkin lebih ke konsep atau sketsa yah..! tapi alhamdulillah sampai sekarang (setelah beberapa kali dikalahkan rasa malas) bisa dikatakan saya rutin mencatatnya.

    1. Oh, ya?! Haha jangankan lewat simbol dan gambar, kadang lewat tulisan pun kita jadi berpikir sendiri, waktu itu kejadiannya bagaimana ya? Hehe.. tapi kadang teringatkan kembali lewat diary atau jurnal. 😀 Sebenarnya daku pun sudah on/off tidak setiap hari “curhat” ke diary, tetapi setidaknya tidak putus sama-sekali. Kadang malah diselipkan lewat artikel2 di blog ini. Hehe..

  2. Dulu saya pas SMP hobi banget nulis diary mba, entah sampai berapa buku. Tapi entah sekarang di mana buku-buku itu. Menghilang waktu pindahan rumah. Ah kalau dibaca orang, malu eh.

    Mungkin dari diary juga saya sekarang lumayan suka menulis di sosmed, walau nggak sesering dulu. Entah kenapa, rasanya berpikir puluhan kali untuk update sosmed macam facebook atau IG dengan hal hal berbau curhat, sekarang lebih mengemasnya ke dalam bentuk tulisan yang enak dibaca aja. Hehe

    Dulu Mba Dian suka nulis diary juga nggak? :))

    1. Mirip, Mbak. Daku kebetulan dari SD sudah mulai coret2 buku harian. Bahasanya polos. 😀 Baru pas SMP/ MTs itu agak-agak dipuitiskan, biar tidak semua orang memahaminya. Haha… sampai kuliah pun tetap update jurnal harian. Cuma begitu lulus dan sudah punya blog, aktivitas menulis diary di buku (pakai pulpen) sudah berkurang. Sekarang cuma “nitip curhatan” via blog atau karya fiksi aja. Hmm.. sama, Mbak, sudah jarang pakai medsos juga. Lagi nahan diri untuk tidak over sharing, apalagi hal pribadi gitu. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 5 =