Menghadapi Orang yang Terlalu Cemas, Dicurigai Menderita Anxiety Disorder

Posted on
menghadapi penderita anxiety disorder atau kecemasan, penyakit anxiety, penyebab anxiety disorder, cara mengatasi anxiety disorder, ciri anxiety, kisah anxiety disorder, gejala anxiety, gangguan kecemasan anxiety disorder, anxiety disorder indonesia
Via: relationclientmag.fr

“…dia itu pikirannya suka aneh-aneh.”

“Dia memang cepat panik orangnya.”

“Nah itulah, padahal santai saja…”

“Kasihan. Dia sampai bilang, belum mau meninggalkan dunia ini karena masih memiliki tanggung-jawab…”

“Ya, padahal ‘kan hidup mati itu urusan Tuhan.”

“Iya, mungkin karena sakitnya itu.”

“Mestinya dia diperiksa ke psikiater juga.”

“Iya.”

~

Pernah merasa cemas, ‘kan? Apa perasaan itu sangat menganggu?

Sebagai manusia biasa, tentu saja daku pernah mengalaminya. Rasanya itu sangat tidak nyaman. Ya panik, detak jantung tak beraturan, bahkan sampai berkeringat. Mengganggu sekali.

Tetapi paling tidak, kecemasan itu datang karena alasan kuat, dan frekuensinya tidak begitu sering. Kamu pasti cemas ketika adik yang sedang di luar rumah tidak bisa dihubungi, was-was ketika ujian sudah dekat, gelisah ketika hendak menghadapi wawancara kerja, dsb. Coba kalau kecemasan itu datangnya terlalu sering? Diakibatkan karena hal-hal kecil, bahkan kadang sampai berlebihan?

Percakapan di atas terjadi dengan temanku. Kami kebetulan sedang membicarakan teman lain, yang tengah dalam masa pemulihan pasca dirawat. Ketika sehat pun, dia terkesan mudah panik. Mirip ke perilaku Obsesif Kompulsif atau OCD juga. Ah, mudah-mudahan daku salah total.

Kini setelah sakit, rasa paniknya itu meningkat.

“Duh… itu pintu udah dikunci, ‘kan? Takut ada orang yang curi-curi kesempatan.”

“Kamu posisi di mana? Sudah sampai, belum? Terus kabari.”

“Walah, tadi daku salah ngomong. Dia kesinggung enggak, ya? Gimana dong, nih?”

Baca Juga: Takut Berlebihan Pada Sesuatu yang Belum Terjadi

Kalau sedang “terserang”, dia seperti “heboh” sendiri. Matanya mengerjap-ngerjap cepat, deru napasnya cepat, cara bicaranya juga cepat, tapi terbata dan gemetaran sebab bercampur dengan rasa gelisah. Daku tak tahu lebih jauh apakah detak jantungnya meningkat atau tidak. Namun kalau sudah kewalahan, dia hanya tergeletak seperti lemas.

Temanku pun menyampaikan saran agar dia pergi ke psikiater. Bahkan ke kebatinan juga. Selain tengah berupaya menyembuhkan penyakit fisiknya, dia pun direkomendasikan untuk menstabilkan mental.

Jangan Meremehkan Kecemasan, Please!

menghadapi penderita anxiety disorder atau kecemasan, kutipan tentang anxiety disorder, quote indonesia anxiety disorder, quote cemas, kata kata perjuangan
Via: relationclientmag.fr

Setelah membaca-baca sedikit, kecemasan berlebih ini tak bisa dipandang sebelah mata. Daku pribadi, tidak berani menganggap gangguan mental apa pun sebagai perkara enteng. Kita tidak bisa seenaknya mengatakan, ‘yah gitu-gitu aja…’ atau ‘dramatis amat sih kamu!’. Oh well, setiap orang berada di medan perang yang berbeda. Kamu tak akan paham posisi dan perjuangan mereka semua.

Yang jelas, gangguan anxiety ini bisa mengundang komplikasi yang mengerikan. Entah itu berupa kesulitan tidur (insomnia), depresi, sakit secara fisik, godaan penyalahgunaan obat, keinginan untuk menarik diri dari lingkungan, sampai nekad mengakhiri hidup.

Menghadapi Orang yang Diduga Menderita Kecemasan Berlebih atau Anxiety Disorder

Kalau sudah mengganggu kualitas hidup, atau merusak hubungan dengan orang lain, sebaiknya jangan diam. Lebih lagi kalau kita tak tahu-menahu bagaimana cara menghadapinya. Sebagai orang awam, alangkah lebih bijak jika kita menggandeng pihak yang tahu persis permasalahan ini.

Ya, mereka adalah dokter, psikiater, psikolog, atau terapis. Mereka tentu lebih bisa mengungkap faktor penyebabnya, gejalanya, stadium atau levelnya, pengobatannya, terapinya, dan cara menghadapinya. Semoga kecurigaan kita selama ini salah. Tetapi kalau sayangnya benar, tentu pihak medis akan memberi penanganan yang sesuai.

Dalam agama… kita diajarkan untuk husnudzon atau berbaik sangka, qonaah atau menerima diri sendiri secara positif, ikhlas atau melepaskan tanpa beban, tawakal atau sikap berserah diri pada Tuhan YME, serta tidak mudah putus asa.

Ah, mudah secara teori, tetapi rumit secara praktik. Menghadapi Orang yang Terlalu Cemas, Dicurigai Menderita Anxiety Disorder. #RD

4 thoughts on “Menghadapi Orang yang Terlalu Cemas, Dicurigai Menderita Anxiety Disorder

    1. Hmm… iya ya, Mbak, mirip. Cuma kalau paranoid memiliki penyebab2 tertentu, bahwa seseorang atau sesuatu bisa mendatangkan bahaya pada kita. Pikiran itu terbentuk sedemikian rupa sampai menghasilkan halusinasi/ khayalan yang tidak2, menakutkan, bikin stress, kacau pikiran, dan mengganggu.

      Kalau cemas atau anxiety merasa khawatir, tegang, dan takut berlebih, kadang tanpa alasan dan waktu yang pasti. Bisa jadi datang secara tiba2. Atau ada pemicu seperti pada orang yang panik bila gelap, takut ketinggian, resah dikerumuni banyak orang, dsb. Tapi perlu dikaji lagi mbak sama yang ahlinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + twenty =