Menjalin Hubungan Spesial Dengan Anak Broken Home? Ada 10 Hal yang Mesti Dicamkan

Posted on
pacaran dengan anak broken home, cara menghibur pacar yang broken home, calon suami dari keluarga broken home, calon istri dari keluarga broken home, kata kata buat pacar yang broken home, cara menasehati anak broken home, sifat anak broken home, cara menghibur anak broken home, perasaan anak broken home
Via: yourstoryclub.com

“… dampak puncak dari sebuah perceraian pada anak itu datang pada 15-25 tahun kemudian, tepat ketika anak broken home mulai menjalani hubungan spesial yang serius… mereka menilai kalau hubungan itu pun akan gagal.”

Demikian yang disampaikan oleh seorang psikolog sekaligus peneliti bernama Judith Wallerstein, yang daku catut via Lifehack.

Kalau dilihat dari sudut pandang pribadi sebagai anak broken home, daku rasa pernyataan di atas ada benarnya juga. Perceraian itu sangat berpengaruh besar ketika kita berada di usia yang sudah serius menjalani hubungan. Pergolakannya cukup hebat.

Ada tantangan dan kesulitan tersendiri bagi kamu yang menjalani relasi romantis dengan anak broken home. Prosesnya pasti tak mudah. Perlu kesabaran khusus dan pemahaman yang lebih dalam.

Nah berikut 10 catatan utama jika kamu pacaran atau menjalin hubungan spesial dengan anak broken home. Jom!

#1. Kami Ini Orangnya Tidak Mudah Percaya

Setelah apa yang terjadi pada orang tua, kami memang jadi sosok peragu. Khususnya akan cinta, kesetiaan, kebahagiaan, dll. Kami tak mau melakukan hal yang sama; mudah percaya dan mudah gila, apalagi ketika kepercayaan itu dikhianati.

Perlu waktu dan proses untuk membuat kami merasa percaya. Kadang sesudah menaruh kepercayaan pun – di tengah jalan – kami bisa meragu lagi. Mohon sabar, ya.

#2. Sebenarnya Kami Masih Sakit

Perceraian itu bisa saja terjadi ketika kami kecil atau masih di usia sekolah. Namun rasa sakitnya masih terasa sampai dewasa, atau mungkin sampai tua. Mohon maklum jika kami mendadak melankolis, galau, atau sendu.

Lebih lagi pasca mengobrolkan hal-hal tentang keluarga, menonton film keluarga, melihat poto keluarga, berpapasan dengan keluarga lain, dsb. Rasanya itu bittersweet, manis sekaligus pahit.

Baca Juga: 10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home

#3. Kami Ingin Memastikan, Apakah Kamu Bisa Jadi Sandaran atau Tidak

Sebelum orang lain, semestinya orang tua menjadi sandaran nomor satu. Namun ketika perceraian itu terjadi, apalagi di usia anak-anak, otomatis sandaran kami itu remuk. Bahkan kami harus menunjukkan sikap strong di tengah tekanan.

Kami sudah terbiasa untuk menanggung beban sendirian. Yang tadinya terbuka ke kedua orang tua, malah jadi ragu, dan akhirnya tertutup ke semuanya. Namun bukan berarti kami sudah kebal, dan tak butuh orang lain. Kami justru berharap kamu bisa menawarkan bahu untuk bersandar dan sejenak santai.

#4. Kami Kurang Luwes dalam Mengekspresikan Diri

Sudah disinggung sebelumnya, kalau kami jadi terdidik untuk tertutup terhadap orang tua sendiri. Kami jarang menceritakan perasaan, pengalaman, kejadian sehari-hari, dsb. Rasanya sudah biasa untuk diam dan menahan segalanya.

Kami juga frustrasi akan kondisi ini. Kami ingin mengekspresikan diri, tetapi rasanya sulit. Apresiasi yang besar jika kamu bisa memahami hal ini.

#5. Trauma dengan yang Namanya Perubahan

Masih jelas dalam ingatan ketika masa kecil. Kami begitu ceria, merasa aman, dan nyaman di tengah keluarga lengkap. Lalu kami mendeteksi ada perubahan terhadap orang tua. Mereka jadi  jarang ngobrol berdua, seperti saling menghindar, raut wajahnya sangat serius, dsb. Puncaknya mereka bercerai, dan kami pun ikut berubah. Tak ada lagi keceriaan. Semuanya seperti terrenggut.

Sampai kini, kami pun cukup trauma dengan perubahan. Ya, perubahan memang bisa jadi menuju arah kebaikan. Tetapi kalau ada perubahan, kami biasanya suudzon alias berprasangka negatif. Tak tenang rasanya kalau kamu yang biasa memberi kabar tiba-tiba ‘menghilang’, dan uring-uringan juga ketika pertemuan kita berkurang dari biasanya.

Selanjutnya:

#6. Pertanyaan Rutin Kami; Hubungan yang Sehat dan Ideal Itu Ada Enggak, sih? Seperti Apa?

2 thoughts on “Menjalin Hubungan Spesial Dengan Anak Broken Home? Ada 10 Hal yang Mesti Dicamkan

  1. Hai, Mbak Ajeng..
    Ahaha terima kasih. Daku pun suka dan menikmati tulisan Mbak. Beneran.

    Ah gitu, ya? Nah kalau ngeblog atau sharing begini ‘kan jadi tahu siapa yang samaan sama kita, ya. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =