17 Serba-Serbi Cinta Di Mata Anak Broken Home

Posted on
pasangan dari keluarga broken home, calon suami dari keluarga broken home, kata kata buat pacar yang broken home, cara menghibur anak broken home, kata kata broken home menyentuh hati
Image via: jianshu.com

Anak broken home mengalami momen patah hati pertama bukan karena orang yang ditaksir menjalin kasih dengan yang lain. Kami sudah merasakannya ketika orang tua sendiri mesti berpisah. Yeah…

1. Hati-hati

Soal cinta, kami cenderung sangat hati-hati. Betapa tidak, kami sudah menyaksikan sendiri bagaimana hancurnya perasaan orang tua ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Patah hati juga terjadi di mana-mana. Entah pada teman kami yang putus-nyambung, mereka yang diselingkuhin, mereka yang diputusin sepihak, dll.

2. Kepercayaan Pada Cinta Sejati

Jujur, kami cenderung skeptis alias sangsi. Di balik eksistensi cinta sejati, terdapat api dan luka yang siap membinasakannya kapan saja.

Namun semakin dewasa, ada saja kisah cinta yang berlangsung langgeng. Kami ikut bahagia. Tetapi kami lebih semestinya tidak meninggikan ekspektasi… takut terlalu kecewa.

3. Mengatakan “I Love You” Duluan?

Tidak. Sepertinya kami akan berpikir, entah berapa kali, untuk menyembulkan ungkapan sakral itu. Apalagi kalau kami mengucapkannya duluan? Hmm… rentan!

4. Komitmen

Mungkin kami terbilang jarang berurusan dengan cinta, sebab komitmen itu jadi perkara yang sangat serius.

komitmen, contoh komitmen, komitmen dalam hubungan, arti komitmen dalam pacaran, perbedaan komitmen dan janji, curhatan anak broken home, diary anak broken home,
Alexandra Celia Photography via heather-allison.com

5. Cinta adalah… banyak pertanyaan

Kami senang menjalani relasi asmara. Namun kami juga sering dihantui pertanyaan, yang semoga saja dimengerti dan dijawab oleh partner. Kami bertanya-tanya; kenapa mereka bisa cinta? apakah ada motif tersembunyi? mungkinkah nanti cinta itu memudar? Tegakah jika nanti mereka berkhianat? dsb.

Semua pertanyaan itu tampaknya lahir karena ‘parnonya’ kami pasca perceraian orang tua sendiri.

6. Cinta Kami Semakin Dalam Ketika…

…ada seseorang yang tetap tinggal, mencintai, dan menerima kami, sekali pun di saat-saat terburuk. Sejak anak-anak atau di masa-masa merasa sendirian pasca perceraian, kami memang mendambakan ‘pahlawan’ itu.

7. Cinta itu Layak Diperjuangkan

Ketika sudah mendapat cinta sah yang diakui negara dan dilindungi agama, rasanya kami ingin menjaganya secara total. Mungkin terbersit pikiran, kalau dulu perjuangan orang tua tidak begitu keras dan cerdas, sehingga kebersamaan mereka harus kandas. Kami tak mau tragedi itu terjadi kembali. Cukup kami saja yang merasakan. Keturunan kami sebaiknya jangan.

8. Komunikasi itu Vital

Kurangnya komunikasi bisa menyebabkan kesalahpahaman, pertengkaran, rasa percaya yang memudar, sampai perpisahan yang menyakitkan. Kalau pasangan mencurigakan, misalnya tidak memberi kabar atau hanya merespons secara singkat, ingin rasanya kami menelusuri ada apa sebenarnya. Kami tak tenang, jika hanya dengan diberi jawaban berupa ‘gpp kok’.

komunikasi dalam hubungan, pentingnya komunikasi dalam hubungan jarak jauh, hubungan tanpa komunikasi, hubungan ldr tanpa komunikasi, komunikasi anak broken home
Image via: trackchanges.postlight.com/

9. Menikah itu tampaknya… wow!

Idealnya, seseorang itu hanya menikah satu kali dan dengan satu orang saja. Kadang kami tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau hanya mencintai dan menghabiskan seumur hidup hanya dengan seorang insan. Kami kerapkali dilanda keraguan, apakah dua sejoli bisa terus saling cinta dan mempertahankan rasa bahagia?

10. Diam-diam, Kami Setuju Kalau Cinta itu Tak Pernah Mati

Saling berpisah, bukan berarti saling melenyapkan cinta. Jauh di lubuk hati, rasa itu masih ada. Karenanya ketika kami sendiri putus hubungan, ingin rasanya untuk – minimal – tetap menjalin silaturahim. Kami juga berharap hal yang sama pada orang tua.

11. Kami Percaya Pada Kegilaan Cinta

Rasanya kami bisa memaklumi kalau cinta bisa menciptakan hal-hal gila. Kamu jadi lupa segalanya. Ibaratnya, kamu bersedia naik ke tempat tertinggi, walau tahu kalau kemungkinan untuk jatuh itu sangat besar. Kamu bersedia mengiba, berpisah dengan keluarga, mengorbankan karier, dsb.

12. Cinta itu Perhatian dan Peduli

Mental mengayomi ini mungkin tercipta karena secara tidak langsung kami justru ‘mengurus’ kedua orang tua, dan sebaliknya, kurang mendapat pengasuhan secara utuh dari mereka. Hal ini terbawa ketika kami diamanahi pasangan. Perlu juga untuk mengetahui apakah partner sudah makan, cukup tidur, demamnya reda, dsb. Hal sekecil ini, bagi kami, bisa terus memupuk rasa yang ada.

13. Sebenarnya Kami Tak Bisa Benar-Benar Terbuka

Ya, keterbukaan menjadi salah-satu elemen penting dalam cinta. Jangan ada rahasia. Namun rupanya, kami tak bisa terlalu terbuka. Itu… mengerikan juga.

mencintai anak broken home, pacar anak broken home, calon suami dari keluarga broken home, calon istri dari keluarga broken home, cara mengatasi pacar broken home, pasangan dari keluarga broken home
Image via: theodysseyonline.com

14. Kami Bukan Cinta yang Mudah

Seseorang yang pernah dekat, atau bahkan menjalin kisah cinta dengan anak broken home pasti merasakannya. Mendekati, mendapat kepercayaan, dan memasuki ruang hatinya bukan perkara simpel. Butuh proses. Tetapi begitu menerima, kami berusaha mengerahkan segenap upaya untuk mengapresiasi dan mempertahankannya.

15. Kami Kesulitan Menghadapi Momen Putus

Cinta itu tak selamanya manis dan mengayomi. Kami saksikan sendiri, cinta juga bisa tega dan kejam. Yang dulunya berjanji untuk saling bersama, malah menelantarkan dan meninggalkan. Kami merasa ngeri kalau sensasi perpisahan itu terulang.

Meski belum menikah dan tidak mengalami perceraian, namun putus pun sudah jadi kejadian yang menyesakkan. Sekali pun putusnya baik-baik, tetap saja ada rasa yang mengganjal. Kami sedih, iba, merasa bersalah, dsb.

16. Kami Mudah Memaafkan Cinta

Saling menyakiti dalam percintaan itu memang tak terhindarkan. Namun ketika marah atau kecewa, kami masih peduli, bahkan tak tega kalau tak membalas chat. Kami juga tak bisa melakukan hal ekstrem seperti menghapus atau memblokir.

17. Keluarga Harmonis itu Mengesankan

Kami selalu iri, tertarik, dan ingin meneladani keluarga yang rukun, harmonis, dan adem ayem. Mereka bisa jadi tak memiliki bisnis turun-temurun atau kekuasaan dinasti, namun hubungannya itu sangat hangat. Apakah cinta menjadi landasan keharmonisan mereka?

Perseteruan orang tua membuat kami berpikir, hubungan buruk pasca perceraian itu membawa dampak terlalu panjang. Sebaliknya, tidak ada efek positif yang didapat. Jadi, kenapa tidak akur saja? 17 Serba-Serbi Cinta Di Mata Anak Broken Home. #RD

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × one =