3 Pelajaran Penting dari Kambing Di Masa Kecil

Posted on
pelajaran dari kambing, hikmah seekor kambing, kambing kacang super, nama lain domba atau kambing, kata lain dari kambing, siklus kambing
Image via: annabeth.photos

Bicara tentang masa kecil itu memang bittersweet. Manis sekaligus pahit. Manis, karena di dalamnya banyak momen bahagia. Pahit, karena sebahagia apa pun momen itu, masa kecil tak akan pernah terulang. Semua sudah selesai.

Lalu bicara tentang kambing, saya memiliki tetangga yang keren. Kami, anak-anak kecil jaman old, memanggilnya Abah Midi. Beliau memelihara seekor kambing, domba, atau embe. Uniknya, hewan memamah biak yang ukurannya sedang itu seakan sudah punya chemistry tersendiri dengan Abah Midi. Dia begitu jinak dan manja di tangan Si Abah.

Yang paling saya dan kawan-kawan tunggu, yaitu waktu petang. Abah Midi akan membawa kambingnya ke luar – ke jalan. Tanpa ada pengikat. Liar begitu saja.

Anak-anak sampai orang tua berkumpul tanpa pengeras suara. Kami menempati spot paling enak: aman, nyaman, tapi bisa jelas melihat pertunjukan. Bagaimana, ya… takut diseruduk, tapi penasaran ingin jadi penonton yang terdepan.

Lalu, Abah Midi akan bermain-main dengan binatang peliharaannya. Kambing akan melompat-lompat, berlari ke sana-kemari, mengunyah ini-itu, atau seperti menjaili kami – para penonton. Bukan main efek show gratis dan mendadak itu! Jeritan histeris berpadu dengan tawa. Suasana begitu riang gembira.

Kini, ketika mengingat-ingat kembali, ada catatan yang berbeda tentang kambing – yang entah sekarang sudah ada di mana.

1. Jangan Kesepian

Saya tahu via Wikipedia, kalau kambing itu – di alam aslinya – hidup berkelompok dari 5 sampai 20 ekor. Itu artinya, kamu mesti memelihara lebih dari 1 kambing, ya. Jangan dibiarkan sendirian. Mereka butuh pasangan/ teman.

Mirip manusia. Jangan sampai kita kesepian. Kita butuh teman-teman, agar hidup jadi lebih baik dan panjang. Nah, kalau manusia lebih rumit, sih. Apalagi yang dikelilingi banyak teman, namun hatinya masih merasa kesepian. Huft.

Baca Juga: 14 Momen Di Mana Kita Merasa Kesepian dan Hampa di Tengah Keramaian

2. Bersukacita

Kita bisa menebak mood seseorang sedang baik kalau dia nraktir, senyum-senyum, bersenandung, banyak bercanda, dsb. Kambing pun punya ciri khusus manakala mereka bersukacita. Entah dengan melahap aneka makanan, berjingkrak-jingkrak, bahkan melompat ke arah manusia.

Sewaktu kecil, ketika kambing Abah Midi melompat ke arah kami, sontak kami langsung lari. Takut sih, tapi malah terbahak-bahak. Penonton dari arah lain menertawakan. Si Abah sumringah. Kambingnya juga malah nyengir. Dia seakan tahu, kalau aksinya bisa menciptakan sukacita yang rupanya sangat sederhana.

Hm… momen bahagia itu tak harus tercipta dengan mahal dan akbar.

3. Mau, Tapi Ragu

Kerumunan penonton memiliki karakter yang hampir sama: kami senang menyaksikan aksi si kambing. Kami bertepuk tangan. Kami tertawa lepas.

Kalau sudah musim smartphone dan medsos, mungkin kami sudah menghabiskan daya demi mendokumentasikan kambing lewat gambar, video, bahkan menghelat IG live. Siapa tahu?

Ingin rasanya bisa mendekati kambing, mengelus bulunya, atau berinteraksi dengannya sebagaimana Abah Midi. Kelihatannya seru dan… cool (?). Entah kenapa, penggembala hewan itu memang terlihat santai dan tenang. Enjoy aja, gitu.

Tetapi kami freak out ketika kambing mendekat. Pikiran langsung negatif. Takut kambingnya nyeruduk, enggak mau bau, enggak mau kotor, dsb. Padahal ada Abah Midi. Lagipula, semua itu risiko.

Tetapi begitulah, kadang kita pun cuma bisa berkehendak. Tetapi ketika dihadapkan pada risikonya, kita jadi sangsi, takut, pesimis, dan was-was. Akhirnya semangat mengendur, dan kita bahkan tergoda untuk langsung mundur. 3 Pelajaran Penting dari Kambing Di Masa Kecil. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =