Skandal Plagiat: Psikologi Para Plagiator Zaman Now

Posted on
psikologi plagiat, pengertian plagiat adalah, artikel tentang plagiat, plagiator jaman now, mengapa plagiat dilarang, agar tidak plagiat, kata lain dari plagiat
Image via: elearningindustry.com

Memplagiat karya orang lain itu adalah perilaku atas dasar kehendak pelaku, bukan menjadi penyakit mental tertentu.”

Pernyataan di atas keluar dari Jean Kim M.D. via Psychologytoday. Bukan saya, ya. Saya cuma mengutip saja.

~

Plagiarisme

Kalau menurut KBBI daring sih, artinya adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. Orang-orang juga memaknainya sebagai perampokan ide, pendapat, karya, karangan, dll. Kasarnya, plagiator itu sama dengan pelaku kriminal. Mohon maaf.

Plagiator Zaman Now

plagiat adalah, plagiat adalah orang yang, contoh plagiat, pengertian plagiat dan contohnya, cara menghindari plagiat, ciri ciri plagiat, plagiat adalah kejahatan akademik
Image via: ezzat.info

Akhir-akhir ini, di Facebook sedang geger. Seorang gadis, sebut saja Tulip – kalau Mawar takut bosan, diduga memplagiat sejumlah cerita pendek (cerpen). Parahnya, dia memanfaatkan cerpen-cerpen itu sebagai karya lomba menulis. Parahnya lagi, dia sering menang, bahkan jadi runner up sebuah ajang bergengsi yang dihelat komunitas literasi ternama. Parahnya juga, dia mengirimkan cerpen-cerpen itu ke media. Yang lebih parah, kiriman-kiriman dia berhasil nangkring. Eh masih ada lagi yang parah: dia memamerkannya di media sosial mainstream seperti Facebook dan Instagram.

Tetapi oh, yang super duper parah, aksinya itu baru ketahuan sekarang. Lihai benar. Dia menjadi plagiator ulung yang sudah kekenyangan untung.

Di era serba online ini, skandal plagiarisme ternyata masih tinggi. Padahal kita sudah cukup mudah mengecek keaslian karya seseorang. Namun jangankan komunitas menulis yang terlalu fokus menempa penulis dan memproduksi karya, orang nomor 1 di negara ini saja pernah kecolongan, kan?

Benar-benar jadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya yang  bergerak di bidang tulis-menulis. Termasuk juga blog. Duh!

Kasus Plagiat Dilihat Dari Sisi Psikologi

artikel plagiarisme, contoh kasus plagiarisme, kasus plagiat, kasus plagiarisme, jurnal plagiarisme, plagiarisme menurut psikologi, plagiat menurut psikologi
Image via: boekscoutblog.nl

Kembali merujuk pendapat Ibu Jean Kim M.D., ya. Sebenarnya aksi plagiarisme itu belum memiliki disoder alias gangguan alias kelainan yang pasti. Namun, fenomena ini kerap disandingkan dengan “mythomania” atau “pseudologia fantastica”.

Jadi, pelakunya itu terus-terusan berbohong, bukan untuk mengelabui atau menipu orang lain, melainkan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa kebohongannya itu nyata. Malangnya, dia begitu enjoy ketika publik memujinya, memperhatikannya, memberinya reward, membuatnya jadi populer, memudahkannya menerbitkan buku, dsb. Padahal semua itu merupakan hasil jerih payah berbohong.

Belum ada literatur penelitian yang mengungkapkan kalau plagiator itu mengidap sebuah gangguan mental tertentu. Cukup misterius. Mirip kasusnya dengan fenomena cryptomnesia, atau momen psikologis di mana seseorang terjebak melakukan plagiarisme tanpa sadar. Pemicu momen ini tak jauh dari ingatan atau pengalaman yang tersimpan, kemudian keluar lagi ketika ada dorongan kreatif dalam dirinya.

Ide, kutipan, atau karya orang lain yang dulu sempat dibacanya – dia kira – sebagai ‘ilham’ yang datang tiba-tiba. Namun fenomena ini biasanya murni ketidaksengajaan pikiran si pelaku.

Kontras dengan para plagiator licin, yang seakan melakukan perencanaan matang untuk meniru dan mengambil gagasan atau hak cipta seseorang. Tetapi ketika plagiator itu ceroboh, misalnya dengan menjiplak keseluruhan karya tanpa editing atau otak-atik, maka di saat itulah dia sudah bunuh diri.

Hal inilah yang menimpa Tulip. Aksi copas-nya begitu brutal.

Masih menurut keterangan Ibu Jean Kim, ya. Plagiarisme juga kemungkinan berkaitan dengan perilaku yang adiktif. Hm… ungkapan ini cukup menjelaskan, kenapa Tulip sampai melakukan kejahatannya berkali-kali. Tidak cukup satu kali.

Tetapi, kecanduannya itu tidak buru-buru dan tidak begitu sering terulang. Tidak seperti yang kecanduan game, judi, alkohol, dll. Kecanduan memplagiat itu lebih hati-hati dan terstruktur. Pelaku mengemas karya supaya pembaca, editor, dan juri terpukau dengan hasilnya. Lebih tepatnya bukan terpukau, sih, tapi tertipu.

Jadi Bagaimana, Apakah ada Pengampunan untuk Sang Plagiator?

Bicara tentang masalah mental, kelainan kepribadian, atau penyimpangan tingkah laku itu sangat rumit. Kita tak bisa asal judge. Tak bisa asal hukum.

Tetapi kita bisa menilai masing-masing kasus. Ada plagiator yang tampak melakukan aksinya dengan lihai dan lama, dan ada juga yang terjerembab pada satu momen kekhilafan.

Skandal ini menjadi peringatan juga bagi semuanya, khususnya saya, untuk semakin peka dan mengapresiasi karya orang lain. Apa pun itu. Termasuk juga gambar, meme, kutipan, caption, cerpen, artikel, puisi, apalagi sampai novel. Kalau tahu penciptanya, sertakan saja kredit. Jangan sampai mengaku-aku atau mengklaim yang bukan hak.

Mari belajar.

Dan yang pasti, skandal serius ini sulit dimaafkan, dimaklumi, apalagi dilupakan dengan alasan apa pun. Kalau pelaku sudah terciduk, kredibilitasnya pasti langsung buruk. Skandal Plagiat: Psikologi Para Plagiator Zaman Now. #RD

2 thoughts on “Skandal Plagiat: Psikologi Para Plagiator Zaman Now

  1. palin gak suka sama orang yang plagiat, yg punya tulisan asli kan merana. pernah tulisan di blog dicontek semua persis sampai foto2nya segala ,

    1. Haha iya, Mbak Hastira. I feel you.. pernah juga tulisan blog ini dicopas blak-blakan tanpa menyertakan sumber. Sakit hati, sih, mengingat bagaimana proses pembuatan tulisan itu. Kadang jadi galau sendiri, takut belum sempat menyertakan semua sumber.. heuheu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + sixteen =