Menguping Obrolan 3 Siswi SMA Dalam Angkutan Kota

Posted on
angkot, cerita dalam angkot, 3 siswi dalam angkot, obrolan dalam angkot, inspirasi angkot, ide menulis dalam angkot
Image via: trojansyndicate.deviantart.com

Pada Sabtu (03 Maret 2018) sore, saya merumuskan caption pribadi untuk diri sendiri. Kebiasaan itu dilakukan kalau diri ini sedang rileks dan blank, dalam arti tidak fokus menyelesaikan suatu pekerjaan. Contohnya yaitu ketika dalam perjalanan pulang via angkutan umum.

“Ada apa dengan cuaca? Barusan terang-benderang, lalu tiba-tiba malah turun hujan. Mungkinkah cuaca juga bisa moody layaknya manusia?”

Suasana hati saya ketika berangkat untuk membeli pesanan pelanggan lumayan stabil. Tak ada hal-hal yang langsung merusaknya, yang bisa mengubah seorang puteri manis menjadi penjahat judes nan bengis. Justeru saya mendapati tong sampah dalam angkot, yang ajaibnya, bikin keadaan jadi sumringah. Sopirnya peduli sampai. Dan, oh, bonus atmosfer cerah.

Pulangnya, saya diantar gerombolan gerimis. Air hujan merembes ke kerudung dan baju, benar-benar menaikkan nafsu untuk segera mandi dan membaui wangi sabun. Tetapi situasi itu bukan alasan utamanya. Saya cukup cinta dengan musim hujan. Aroma dan aura yang diuarkannya tak akan ditemukan di musim panas. Ya iyalah!

Yang bikin dongkol itu ketidaktersediaan barang utama yang hendak saya beli. Keterlambatan angkot pun berkontribusi. Akhirnya, saya cuma berharap sembunyi-sembunyi supaya tidak bertemu orang yang dikenal dalam angkot. Saya sedang tak bisa memastikan, apakah bisa tersenyum tulus atau tidak. Sampai setengah perjalanan, saya memang hanya sendirian. Beruntung bagi saya, dan buntung bagi sang sopir.

Momen semi melamun saya terusik ketika ada tiga siswi SMA yang masuk, secara tidak langsung memaksa saya untuk tidak duduk menyilang. Kami berbagi ruang dan napas. Satu orang duduk di sebelah saya, yang duanya lagi ada di hadapan.

Semula saya tidak ambil pusing, mereka mau membicarakan pelajaran atau gebetan, silakan. Mau sekadar diam berjemaah sambil mijitin ponselnya juga, monggo. Tetapi cuping telinga saya seakan siaga ketika mereka mulai bercengkerama. Pasalnya, topik yang mereka angkat biasanya jarang dibahas para remaja. Lebih lagi dalam kondisi sedang di angkot dan suasananya santai.

“Eh kalau dalam Bahasa Inggris, tulisan Insya Allah itu jadi Insha Allah, ya,” siswi yang di sebelahku bilang sambil mendaratkan tatapannya pada smartphone.

“Kalau dibaca secara Bahasa Indonesia, jadi Inso Allah, dong!” timpal yang berkerudung segitiga di depan si penanya.

Ye. Ini kan masalah logat,” yang berkerudung instan di depanku berujar, “Bisa jadi, orang China mah ngomongnya Inca Allah.

Saya jadi teringat perbedaan pelafalan Fikih, Fiqh, dan khusus orang Sunda, malah jadi Pikih.

“Oh! Sama kayak penulisan aameen, tuh!” yang berkerudung segitiga menghadapkan tubuhnya ke arah teman di sebelahnya.

“Iya, kalau di kita ‘kan aamiin aja biasa.”

Ada jeda sebentar. Saya pribadi langsung ingat WA Story teman, yang menyebutkan kalau memotong dan mengumpulkan kuku ketika haidh itu hanya tradisi nenek moyang. Waktu itu saya komentari, sebab guru ngaji di kampung memang mengajarkan demikian. Saya terus mematuhinya sampai sekarang.

Dengan modal ilmu dan kebijaksanaan yang super tipis, saya meminta dia untuk menghormati madzhab yang diikuti. Hal-hal seperti itu tak sepatutnya dipersoalkan. Enggak zaman.

“Islam kita dan orang luar negeri beda tapi sama, ya?” siswi pemegang HP merobek keheningan tanpa melepas tatapannya pada gadget, “Ngomong-ngomong, kalau kita ini madzhabnya siapa, sih?”

“Mayoritas kan Imam Syafi’i, kita ikutin saja beliau,” pandangan gadis di depanku menerawang, “Kalau di Mekah, katanya ya, pake madzhab Imam Maliki. Tapi gak tahu!”

Siswi kerudung segitiga menautkan alisnya.

“Boleh enggak sih kalau kita mencampurkan semua madzhab?”

Ye. Awas jangan asal pilih madzhab karena kemudahannya, dan karena kita menyukainya!” Siswi pemakai jilbab instan membetulkan tas gendongnya, “Hanya karena menurut Imam Maliki, bersentuhan dengan laki-laki tidak membatalkan wudhu, kita lalu ngikutin beliau.”

“Oh, ya? Maksudnya kalau nyentuhnya enggak pake nafsu?” serobot siswi di sebelahku.

“Iya, ini cuma contoh,” dia tampak berpikir, “Tapi ada juga ajaran yang memberatkan, yang mengatakan kalau jejak anjing saja bisa najis, tapi lupa siapa.”

“Kita ikut Imam yang sudah turun-temurun saja, ya?” yang kerudungnya segitiga masih ingin meyakinkan.

“Heh,” ada ketegasan intonasi pada suara siswi di depanku, “Mereka para imam itu pasti sudah belajar lama dan ilmunya banyak. Hadis yang dihafal juga pasti sudah enggak terhitung, lha kalau kita ini apa?!”

Kedua temannya mesem-mesem. Mereka kemudian membicarakan buku bacaan masing-masing. Masih tentang agama. Yang di depanku menceritakan bagaimana pusingnya dia ketika membaca buku berbobot di usia SD. Dia juga berbagi pengalamannya ketika membaca karya filsafat yang membuatnya mual. Tak lupa, dia meminta kedua temannya – well, termasuk saya – untuk berhati-hati membaca buku, apalagi yang berbau filsafat. Suka mengecoh, katanya.

Tak lama, aroma destinasi saya semakin menyengat. Angkot berhenti. Saya turun duluan, dan usai sudah acara curi-curi dengar saya terhadap perbincangan mereka.

Yang jelas, saya dibuat flashback ke masa SMA. Dulu sewaktu saya seangkot dengan teman-teman, perasaan tema agama sangat langka diperbincangkan. Malah, saya tidak ingat apakah pernah membahas isu itu atau tidak. Memori saya penuh dengan candaan tanpa filter dan suara terbahak-bahak bersama kawan.

Selain tiba-tiba merasa malu, saya juga mengaku sepat ingin mencium punggung tangan ketiga. Khususnya yang duduk berhadapan denganku itu. Cerdas benar!

Di tengah sensitivitas perbedaan yang mengemuka, ketiga siswi SMA itu justru asyik mengobrolkan masalah khilafiyah. Tak ada perdebatan sengit, tak ada jiwa-jiwa yang baper, tak ada obsesi untuk merasa menang, dan tak ada yang merasa mengalahkan. Syukurlah, ada harapan. Menguping Obrolan 3 Siswi SMA Dalam Angkutan Kota. #RD

10 thoughts on “Menguping Obrolan 3 Siswi SMA Dalam Angkutan Kota

    1. Salam, Mbak Hani. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini. Hehe.. sama, saya pun jadi teringat masa sekolah dan introspeksi diri gitu, Mbak. 🙂

  1. Kritis juga dengan topik seperti itu. Saya saja baru mengobrol tentang hal itu akhir-akhir ini. Ketika masih berseragam putih abu-abu, saya dan teman-teman sibuk memikirkan pelajaran dan perkembangan teknologi, topik yang saling berkaitan di jurusan kami.

    1. Haha iya, makanya takjub juga ketika para siswi itu ngobrol ke arah sana. Saya jadi searching cuplikan ceramah para ustadz tentang khilafiyah via Instagram. 🙂

      Wah, bagus dong obrolan waktu yang Mbak sekolah masih ada di kategori berfaedah. Hehe

  2. Menarik, keren adek2ny tertarik untuk bahas agama, bhkan smpai masalah sbrat mazhab. Bagi aku itu berat sih, krna gk gmpng ngomongin mazhab gk berujung debat, ada aja yg narik urat krna kurg pemahaman. Salut lah hehe

    1. Betul, Mas Rizki. Enggak jarang ada yang memaksakan kehendak atau pemahamannya sama orang lain, padahal jelas2 berbeda madzhab. Syukurlah adik2 kita ini sudah paham sejak dini. Iya, salut pisan.. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + three =