13 Pengakuan Pribadi Orang Introvert

Posted on
rahasia introvert, rahasia seorang introvert, rahasia orang introvert, sifat wanita introvert, sifat laki laki introvert, diary si introvert, diary seorang introvert
Image via: npr.org

Apakah saya tak benar-benar menjadi diri sendiri, ya?

Meski masuk ke dalam golongan introvert, namun saya senang menaiki kendaraan umum dan bertemu orang-orang asing. Meski masuk ke dalam golongan introvert, namun saya mau tak mau mesti mahir berbasa-basi ketika terjebak kebersamaan dengan sosok tidak dikenal. Meski masuk ke dalam golongan introvert, namun saya masih mampu berbicara di depan adik-adik pelajar.

Well, beda konteks bisa beda keadaan, ya.

“Label introvert” tak mesti mendefinisikan saya sebagai makhluk yang selalu diam dan sendirian. Lagipula introvert juga terbagi menjadi beberapa jenis. Ada yang mengkategorikannya sebagai introvert sosial, introvert berpikir, introvert anxious (cemas), dan introvert restrained (terkendali/ menahan diri). Kalau Myers-Briggs membagi introvert menjadi ISTJ, ISFJ, INFJ, INTJ, ISTP, ISFP, INFP, dan INTP.

Baca Juga: Ada 8 Jenis atau Tipe Orang Introvert, Kamu yang Mana?

Meski demikian, introvert tetaplah introvert. Ada beberapa ciri khas yang senada. Misalnya introvert itu mudah lelah – secara fisik, psikologis, dan emosional – ketika bersosialisasi atau berinteraksi. Lalu me time menjadi momen untuk membugarkan segalanya.

Nah berikut ini 13 pengakuan para introvert, yang sebenarnya bersifat pribadi dan jadi rahasia. Jom!

penyendiri introvert, introvert suka menyendiri, sendiri di tengah keramaian, alasan orang menyendiri, keistimewaan introvert, karakter orang penyendiri
Image via: strangerdiaries.wordpress.com

1. Hasrat untuk Menyendiri itu Sangat Kuat

Saya lebih senang menyendiri ketika menulis, membaca, memasak, dll, termasuk ketika bepergian jauh. Bisa fokus, waspada, mandiri, dan tidak terusik oleh orang lain. Saya cenderung jarang mengandalkan “hiburan” dari orang lain. Jangan salah paham. Saya tetap mencintai dan mengapresiasi keluarga dan sahabat, namun tetap saja kesendirian itu sangat menyenangkan.

2. Sering Kewalahan dengan Manusia

Introvert bisa berbaur dengan manusia lainnya, namun biasanya tak bisa lama-lama. Kalau sudah kelamaan, saya pribadi sering butuh yang namanya “people-break”, alias momen tanpa manusia lainnya.  Bukannya anti dengan makhluk hidup lain, namun selalu saja ada titik jenuhnya.  Daripada merusak acara dan menyinggung yang lain, menyendiri bisa jadi pilihan aman.

Suatu malam, saya dan kawan-kawan makan dan karaokean. Sederhana. Kami menikmatinya. Namun tak lama, saya pamit lebih dahulu. Karena tak mau menjadi party pooper juga, saya biarkan teman yang lain melanjutkan acara.

3. Mayoritas Obrolan itu Membosankan

Kalau bukan karena norma kesopanan, saya ingin menyudahi basa-basi. Kalau bisa, saya juga ingin mengubur diri sendiri ketika mengobrol dengan orang lain dalam jumlah banyak. Apalagi kalau topiknya tentang sesuatu yang tak saya pahami, tak saya kuasai, atau yang berisi deretan pencapaian tak mengesankan. Saya hampir menguap lebar ketika ada yang menggembar-gemborkan pendapatan besar, karena berhasil bekerja atas uluran tangan “orang dalam”.

4. Merasa Sering Berpura-pura

Pengalaman mengajarkan saya banyak hal, termasuk ketika bertemu orang baru. Saya dinasihati untuk menyapa mereka, berbicara jelas, mengulurkan tangan, menanyakan hal-hal umum, menatap matanya ketika berbicara, menyimaknya, dsb. Trik tersebut sudah general. Saya yang sebenarnya tetaplah rikuh.

5. Sering Gagal Berkesan di Pertemuan Pertama

Seorang teman bilang, ketika pertama kali kenal, saya itu terkesan judes. Dia pun sempat sungkan untuk berteman. Namun kini kami suka bercanda sampai kebablasan. Nah, saya tidak menyalahkan sikap judgemental-nya. Tanpa disadari, mungkin demikianlah tingkah-laku saya terhadap orang yang tidak begitu karib. Tetapi setelah bergaul lama, personaliti masing-masing keluar dengan sendirinya.

laki laki introvert, menghadapi pria introvert, bahasa tubuh pria introvert jatuh cinta, karakter pria introvert, pria introvert marah, pria introvert di mata wanita, ciri pria introvert
Image via: hrrockstars.co.uk

6. Undangan/ Ajakan Mendadak itu Menyebalkan

Saya selalu mencari-cari alasan untuk tidak menghadiri ajakan teman di menit-menit terakhir, sekalipun mereka mengajak pada acara yang bisa saya nikmati. Enggan rasanya kalau “rencana” saya untuk menikmati waktu luang dan kesendirian itu terganggu, kecuali kalau sudah tahu dari awal-awal. Saya juga menghibur diri sendiri agar tidak merasa bersalah karena sudah menolak undangan mereka.

7. Hanya Segelintir Orang yang Saya Persilakan Masuk (Ke Hati)

Di era medsos seperti saat ini, saya bisa bergaul sampai jauh menggapai akun-akun luar negeri. Tetapi pada akhirnya, hanya beberapa orang yang tetap dekat dan click. Lingkarannya kecil, tetapi saya menyukainya.

8. Pikiran Bising

Ada orang yang menghindari “berpikir keras” karena takut stres dan jadi lupa cara tertawa lepas. Namun pikiran saya sudah kadung jejal. Bahkan sempat bertanya-tanya sendiri bagaimana jadinya kalau saya dan kucing tukeran? Seperti apa tipsnya bisa naik haji di usia muda? Akan ke mana saya kalau sudah meninggal? Di bawah tanah yang saya injak itu ada apaan? Dsb.

9. Sering Punya Keinginan Absurd

Saya pernah membayangkan kalau semua benda di dunia ini terbuat dari gabus, busa, atau styrofoam. Dengan demikian, anak-anak yang bermain dan para pengendara jalanan akan baik-baik saja ketika mereka terjatuh. Saya juga pernah berimajinasi menjadi liliput, terbang, menyusup ke dalam hati seseorang, dll. Semuanya ingin dilakukan sendiri, dan tentu tidak abadi.

10. Kurang Cocok dengan Pembicara Cepat

Katakanlah loading lama atau telat mikir, tetapi saya memang butuh masa untuk memproses dan merespons. Ketika ada yang bicara, saya cenderung menimbang-nimbang dulu hendak menjawab apa. Kalau bicaranya cepat, saya bisa kewalahan.

ekspresi introvert, suara hati orang introvert, hati hati dengan introvert, introvert sakit hati, rahasia introvert, perasaan introvert
Image via: medicaldaily.com

11. Kurang Ekspresif

Bisa dibilang, saya ini payah kalau soal menunjukkan perasaan. Seseorang pernah mengatakan kalau saya terlihat tidak antusias ketika mengunjungi sebuah tempat, padahal aslinya saya senang dan sudah lama ingin ke sana. Namun rupanya ekspresi saya tidak cukup kuat membuktikannya.

Poin yang satu ini bisa menjadi bumerang. Di satu sisi, saya jadi memiliki efek misterius. Orang hanya tahu tampilan luar, dan mereka bahkan tak bisa meraba-raba apa yang sebenarnya saya rasakan. Rahasia dijamin aman. Namun di sisi lain, saya cenderung sering memendam perasaan. Sebenarnya jengah, namun pura-pura betah. Pokoknya ada tabir yang menghalangi kejujuran.

12. Enggak Lihai “Keep in Touch”

Istilah keep in touch sering diartikan sebagai upaya untuk tetap saling berhubungan atau bertukar kabar. Saya pun ingin melakukannya dengan orang-orang yang dicintai, dikasihi, dan disayangi. Hanya saja praktiknya sulit. Saya seringkali mudah terganggu dan “tersesat” pada dunia sendiri.

Saya juga gampang illfeel alias muak ketika merasa gagal untuk keep in touch. Misalnya ketika menanyakan kabar via aplikasi WhatsApp. Ketika mereka membalasnya lama padahal sudah dibaca, dan ternyata balasannya singkat, saya jadi “trauma” untuk ngechat duluan. Demikian juga ketika dalam grup, sapaan salam saya tidak dijawab dan malah melenceng ke perihal lain, saya pun langsung menjadi member bahkan admin yang bungkam.

13. Rindu akan Hubungan Sejati

Entah sudah berapa momen yang bikin saya meringis. Enggak enak rasanya mendengar pasangan suami istri yang dulunya terlihat mesra tiba-tiba bercerai, hancur rasanya mendengar percekcokan parah antara adik dan kakak, ngeri rasanya mendengar sahabat yang saling menjatuhkan, dsb. Hhh … hubungan sejati apa pun memang jadi dambaan setiap orang, tapi susah juga ya untuk terjalin dan bertahan. Demikian, 13 Pengakuan Pribadi Orang Introvert. #RD

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − ten =