10 Alasan Kenapa Karyawan Teladan Sampai Keluar Dari Pekerjaan Lamanya

10 Alasan Kenapa Karyawan Teladan Sampai Keluar Dari Pekerjaan Lamanya

keluar kerja, keluar dari pekerjaan, keluar dari pekerjaan lama, bebas dari beban pekerjaan, beban kerja
Via: idealistcareers.org

“Daku rencananya mau keluar kerja aja, ah,” seorang temanku bilang begitu.

“Serius?” Daku memastikan.

Dia mengangguk.

“Di saat orang lain sedang kelimpungan cari kerja, kamu yang udah dapet malah kepikiran buat keluar? Hadeuh…” Daku malah keberatan, “Pertimbangkan dulu, ah!”

“Hhh.. iya sih,” Dia menghela napas, “Tapi kerja di sini maksimalnya paling digaji Rp. xxx. Entah deh kapan sampai naik. Di mana kemajuannya, coba? Orang biaya hidup aja sudah maju, maksudnya mahal, gitu.”

Daku tercenung. Kalau gitu, mending berbisnis aja! Hehe…

Menurutku pribadi, nominal gajinya sudah cukup besar untuk ukuran kota kecil. Namun apa yang ia utarakan memang benar adanya. Lebih lagi ketika BBM naik, dan ia musti terus menggunakan transportasi umum yang tarifnya juga ikut naik.

“Gaji PNS aja ada bedanya, dari waktu ke waktu ada harapan buat naik, nah perusahaanku?” Dia memperkuat alasan, “Wajar ‘kan kalau daku pengin harapan fee yang lebih baik?”

Oke. Tentu biaya gaji karyawan perusahaan swasta dengan pemerintahan itu berbeda. Tapi daku maklum dengan misinya untuk mendapat income yang lebih besar. Heck, manusia memang tak pernah menyentuh kata “cukup”. Kurang terus. Namun ternyata bukan uang saja yang jadi titiknya. Dia juga memikirkan kemajuan, atau masa depan dari kariernya.

“Ya sudah, sambil kerja, kamu bisa cari kerja lagi. Baru kalau udah fix diterima di tempat baru dan gajinya sesuai, kamu bisa keluar. Kalau rencana ke depan saja belum ada, jangan dulu!” akhirnya begitulah pendapatku.

“Emang!”

~

Daku bukan rekan kerjanya. Bosnya juga bukan. Namun daku bisa berasumsi kalau dia itu termasuk pekerja yang berdedikasi. Dia juga cinta akan pekerjaannya. Pengabdiannya terhadap perusahaan pun tak diragukan.

Dia pernah curcol merasa legowo ketika kerja lemburnya tidak dibayar (malah bawahannya yang dapet), pernah cidera di tempat kerja tapi tak kapok, pernah tak mengambil penuh semua jatah cutinya, dan berubah sengit kalau produknya daku ejek. Namun seideal apapun dia, ternyata ada gong-nya. Bahwa ia pengin pindah ke tempat yang benar-benar mengapresiasi dedikasinya.

Nah kalau dirangkum dalam list, berikut ini alasan kenapa karyawan teladan bisa keluar dari kerjanya:

#1. Tidak Dihargai

Prioritas seorang bos kebanyakannya tak jauh dari profit atau pemasukan. Padahal di balik semua itu ada sosok-sosok yang memiliki andil besar. Mereka adalah para pekerja. Karenanya, para pekerjaan pun musti mendapat penghargaan tinggi, bukan justeru sebaliknya. Misalnya gaji tidak sesuai kesepakatan, waktu kerja melebihi batas (tanpa disertai gaji tambahan), lingkungan kerjanya kurang nyaman, ketika sakit keras tidak ditengok/ diberi uang tali asih, dsb.

#2. Karier “Menggantung”

Rata-rata dari kita enggan melakukan pekerjaan yang itu-itu saja, dan menerima penghasilan segitu-gitu saja di sepanjang hayatnya. Pikiran akan jengah jika usaha dan taraf hidupnya jalan di tempat. Begitu pun dengan para pekerja, yang diam-diam mengharapkan progress dalam kariernya. Kita memang akan lebih “hidup” dengan gaji yang merangkak, karier yang maju, skill yang terus terasah, inovasi yang lebih terkini, dsb.

#3. Berbau “Pilih Kasih”

Seorang siswa saja akan kurang respect jika gurunya berlaku pilih kasih. Demikian juga dengan para pekerja. Mereka ingin semua kebijakan yang sudah disepakati itu diterapkan secara adil oleh pimpinan perusahaan. Tak perlu ada diskriminasi apalagi bullying. Lingkungan kerja memang tak akan nyaman lagi jika masih ada isu senior-junior, rasis, agama, si A salah – lalu dihukum sementara B salah – lalu didiamkan, dsb. Kalaupun ada, seyogyanya hal tersebut ditindak tegas.

#4. Parah!

Biasanya jika lingkungan sekitar kita itu negatif, kemungkinan untuk bertahan akan semakin tipis. Bagaimanapun, kita bekerja secara tim. Rasanya akan sia-sia belaka jika kita bekerja sendirian dengan jujur, namun rekan kerjanya asal-asalan bahkan berlaku tak sepantasnya, seperti pelecehan. Proses dan misinya saja sudah berbeda, dampaknya pun bisa dirasa di kemudian hari. Karenanya sebelum lebih parah, kita bisa menghindar dengan beralih ke lingkungan yang lebih baik. Namun tentu akan sangat keren jika kita justeru bisa mengubahnya.

#5. Tak Ada Apresiasi Kerja

Penyanyi sudah senang ketika karyanya laku keras di pasaran. Namun ia akan semakin termotivasi jika mendapat review positif atau suatu penghargaan tertentu. Demikian juga dengan para pekerja. Namun majikan tak perlu membuat piala. Cukup dengan senyum bangga, pujian, ucapan terima kasih, memberi uang lebih, hadiah, dsb. Selain menjadi motivator, apresiasi yang diberikan atasan menandakan bahwa ia perhatian. Paling tidak, pekerja akan “merasa dianggap ada”. Jika tidak, karyawan akan merasa jadi “makhluk ghaib” jika segala usahanya tak dilirik.

pekerjaan, keluar kerja, keluar dari pekerjaan lama, bebas dari pekerjaan, merasa lega setelah mengundurkan diri dari pekerjaan
Via: tinybuddha.com

#6. Bikin Antuasiasme Kerja Jadi Anjlok

Dalam hati tiap pekerja, kadang tersembul asa kalau tempat kerjanya bisa langgeng dalam kesuksesan. Apalagi kalau masih jadi karyawan baru, tentu banyak ide atau opini demi meningkatkan tempat kerja. Hanya saja, kadang mereka down sendiri oleh sistem yang ada. Misalnya si bos dan para pegawai lama enggan dengan yang namanya perubahan drastis. Lama-lama hal tersebut bisa melumpuhkan antusiasme pegawai. Ketika mereka memiliki inovasi atau ide kreatif, semuanya terpendam sebab selalu takut kalau rekan kerjanya tidak setuju. Lama-lama, waktu pagi untuk berangkat kerja malah sudah tak merasa semangat lagi.

#7.  Posisi Penting Dipegang Orang yang Kurang Kompeten

Ada istilah, majikan yang keren itu akan merekrut sosok yang lebih baik dari dia. Namun faktanya, kadang ada beberapa tempat kerja yang tidak demikian. Si bos hanya mencomot beberapa orang untuk posisi-posisi vital dengan alasan yang kurang kuat. Entah karena masih keluarga, saudara, atau teman dekat. Mereka tidak mempertimbangkan skillnya, kapabilitasnya, pengalamannya, dan profesionalitasnya. Wajar kalau keputusan itu terkadang menimbulkan kecemburuan di kalangan karyawan yang sudah mengabdi lama, atau mereka yang memang lebih bisa diandalkan.

#8. Diktator

Memang, suatu tempat kerja pasti memiliki aturan main tersendiri. Namun jika terlalu ketat juga kurang baik. Apalagi kalau pegawai kehilangan hak untuk bersuara atau menyampaikan pendapatnya. Ibaratnya, suara atasan itu selalu benar sedangkan bawahan itu selalu salah. Tempat kerja semacam itu bisa kehilangan gagasan brilian, bahkan memunculkan haters yang bisa “main belakang”. Karyawan pura-pura bekerja secara tulus, padahal mereka begitu keberatan dengan tiadanya otonomi pekerja.

#9. Janji-Janji Palsu

Sebagian orang hobi berjanji. Sayang, mereka juga hobi mengingkarinya. Kita pun tentu jengah dengan sosok semacam ini, apalagi kalau mereka ternyata alasan sendiri. Entah beberapa kali mereka bilang akan menaikan gaji, memberi tunjangan, menghadiahkan piknik, memberi bonus, dsb. Namun di saat yang sama mereka tak pernah menepatinya. Lama-lama karyawan dongkol sendiri dan keinginan untuk keluar pun akan semakin besar.

#10. Tujuannya Tak Jelas dan Hampir Bangkrut

Pada dasarnya, tim pekerja bekerja untuk kemajuan bersama. Mereka pengin perusahaan yang dijalankan berbarengan itu menggapai goals tertentu. Namun semua harapan itu memiliki kendala dari dalam, apabila atasannya sendiri tak bisa jadi leader. Dia terkesan asal-asalan ketika me-review laporan kerja, tak peduli kemajuan atau kemunduran tempat kerjanya, jarang bertemu atau diskusi dengan karyawan, dsb.

Well, keluar dari pekerjaan merupakan salah-satu opsi yang berat dalam hidup. Sebelum mencekli pilihan ini, alangkah lebih baiknya untuk mempertimbangkan secara matang. 10 Alasan Kenapa Karyawan Teladan Sampai Keluar Dari Pekerjaan Lamanya. #RD

You May Also Like

error: