10 Catatan Inti Ketika Merasa Tidak Dianggap, Dimengerti atau Diapresiasi

10 Catatan Inti Ketika Merasa Tidak Dianggap, Dimengerti atau Diapresiasi

10 Catatan Inti Ketika Merasa Tidak Dianggap, Dimengerti atau Diapresiasi
By: @cuordicarciofo aka Mrs Cinzia Bolognesi via Ig: @deeannrose

Tidak dianggap? Tidak dihargai? Tidak dipahami? Tidak dihormati? Atau, tidak diapresiasi?

Semua itu benar-benar terjadi apa cuma perasaan kita saja, ya? entahlah, yang jelas kita pasti akan sama-sama merasa sebal jika diperlakukan demikian. Kita merasa mereka, ya mereka, sama-sekali tidak memahami kelelahan yang sudah dirasakan.

Kalau perasaan tidak dimengerti seperti ini dibiarkan, biasanya akan semakin tumbuh dan menggerogoti jiwa sendiri. Suka tiba-tiba capek, sakit dan menderita, begitu. Apalagi kalau kita tidak dianggap oleh orang-orang yang mestinya menjadi penguat di belakang. Oleh pasangan, orang tua, adik, kakak, sahabat, keponakan, tetangga, rekan kerja, majikan, bawahan, dsb. Lama-lama bisa marah, emosi, frustasi, atau depresi. Jahat. Kejam. Tegaan. Menyiksa sekali hidup ini.

Well, kita senasib.

Daku yakin sebagian besar diantara kita pernah merasakannya. Seperti yang sekarang-sekarang daku alami. Sedang manja, mungkin. Hehe… atau memang sedang ingin menyendiri, dan tidur lebih lama (lagi).

Lalu, bagaimana ini? Oke, jom!

#1. Apa Kita Juga Begitu, Ya?

Kita bisa sejenak introspeksi dulu. Diri ini merasa tidak diacuhkan oleh mereka. Catatan. Kita dan mereka sama-sama manusia biasa. Jadi kemungkinan besar kita pun pernah seperti mereka; pernah lupa mengapresiasi, pernah gagal memahami orang lain atau pernah memandang remeh segala kenikmatan yang dirasakan. Entah itu pada orang-orang tersayang, makhluk hidup sekitar atau justeru pada Pencita kita sendiri?!

#2. Kita Ikhlas Apa Enggak, Sih?

Ndak perlu dijawab secara gamblang juga. Ikhlas atau tidak rasanya tak akan mampu memiliki takaran yang pas. Hanya Allah Swt dan mungkin diri sendiri yang tahu. Di sini kita bisa mengambil waktu sejenak untuk mempertanyakan segala yang sudah dilakukan atau dikorbankan, apa kita tulus melakoninya atau memang pengin balasan belaka? Kenapa kita harus sangat kewalahan ketika tidak dianggap oleh mereka?

Baca Juga :  70 Fakta Menarik Tentang Raden Adjeng atau RA Kartini

#3. Ikhlas atau Tidak, Sama-sama Capek. Tapi…

Mencangkul sepetak sawah dengan ikhlas, napas jadi ngos-ngosan. Begitupun ketika tidak ikhlas, napas ngos-ngosan juga. Saking capeknya. Namun bedanya… yang ikhlas itu akan meraup bonus besar.

Meski apresiasinya tidak seberapa, tapi ada nilai lebih tersendiri untuk yang ikhlas. Usaha kita akan terasa nikmat, ada perasaan bahagia sudah mengorbankan tenaga, lega sudah bisa bermanfaat, senang bisa membahagiakan orang dengan keringat sendiri dan apa yang dilakoni bisa termasuk ibadah (insya Allah). Sementara yang tidak ikhlas???

#4. Kita Sedang Dididik agar Jadi Pribadi yang Pengasih dan Penyayang

Bisa kita bayangkan, ada Dzat yang memberi anugerah tiap hari. Dia mencurahkan oksigen secara gratis, siap menerima pengaduan kita atau selalu menjamin pengampunan manakala kita memohonnya. Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tapi kita sendiri sering mengabaikannya, tak mengapresiasinya.

Sekarang… ketika orang-orang sedang lupa mengapresiasi usaha kecil kita, mungkin kita tengah ditempa agar memiliki karakter pengasih dan penyayang juga. Memang tak akan sempurna, tapi setidaknya kita turut merasakan bagaimana kalau diabaikan.

#5. Sharing Pencapaian atau Prestasi yang sudah Didapatkan

Poin ini “berbau” kesombongan, tapi tujuannya memang untuk mengapresiasi diri sendiri juga. Sesekali biarkan dunia tahu kalau kita ini tidak diam saja. Kita juga sedang berusaha, mengikhtiarkan sesuatu, ya… walau hasilnya belum seberapa atau masih merangkak. Kalau orang lain sedang “tidak melirik” apa yang sudah kita perbuat, paling tidak diri sendiri yang menghargainya. Tapi kalau terlalu malu, kita bisa melakukannya secara privat bersama orang yang dipercayai.

Perindah suasana hati dan jiwa, sabar dan syukur tak pernah sia-sia
By: Tinyartshop on Etsy via IG: @deeannrose

#6. Sabar dan Syukur itu Tak Akan Sia-sia

Terlalu banyak pahlawan di luar sana yang bekerja-keras namun tak mendapat pembalasan yang layak… dari manusia. Kita bisa saja berbuat baik atau berkorban, namun tak mendapat ucapan “terima kasih”. Tak apa, toh mereka itu manusia seperti kita. Tak Maha Mengetahui.

Baca Juga :  Menyambut Lebaran, Ada 3 Ciri Keberhasilan Kita di Bulan Ramadan

Namun kita mesti terus menebalkan keyakinan, bahwa ada Yang Maha Tahu dan Maha Mengawasi. Dia juga Dzat yang sebaik-baiknya memberikan pembalasan, baik pada makhluknya yang bersyukur atau pada mereka yang bersabar. Semua tak akan jadi kesia-siaan belaka.

#7. Fokus Pada SIkap Bersyukur, Bukan Berharap

Salah-satu tips agar hidup bahagia adalah… tidak terlalu berharap atau menaruh harapan terlalu tinggi, apalagi terhadap sesama manusia. Biasanya harapan itu membuat kita mudah goyah. Sebab, sekalinya apa yang diharapkan tak tercapai, maka rasa syukur kita bisa hancur berkeping-keping.

#8. Perbaiki Hubungan yang Sudah Retak Karena Kesalahpahaman Ini

Kita sudah merasa tak dianggap oleh mereka, lalu hubungan yang sudah terjalin pun jadi berbeda. Segalanya berubah. Dan, situasi itu tentunya menyiksa kedua belah pihak.  Kalau tak ada pihak yang sudi mengendalikan ego dan bersikap rendah hati, maka konflik tersebut akan terus berlanjut.

Mungkin tak mengenakkan, namun kita bisa mencoba sekeras mungkin untuk menginisiatif percakapan atau permintaan maaf. Itu pun kalau kita sudah terlanjur marah dan tanpa terasa meluapkan emosi lewat sikap, perkataan atau perbuatan. Bagaimanapun, marah yang berkepanjangan tak lantas membuat segalanya jadi lebih baik.

#9. Mengapresiasi Apresiasi

Apa yang kita lakukan pastinya pernah mendapat perhatian dari siapapun itu, walau pun sedikit. Ketika mereka yang kita harapkan justeru diam saja dan tak menganggap, kita bisa lebih fokus pada orang lain yang menunjukkan apresiasinya. Kita bekerja siang-malam menjadi buruh di sebuah pabrik. Tak apa kalau keluarga tidak menunjukkan rasa apresiasi. Kita bisa tengok pujian yang dialirkan oleh bos atau orang lain. Intinya… begitu datang apresiasi, sebisa mungkin kita menunjukkan apresiasi balik. Biasanya ada kehangatan tersendiri yang mengalir dalam hati.

Baca Juga :  8 Ciri-ciri Utama Orang Fake, Palsu, atau yang Pura-pura Baik

#10. Bertahan, Semua Ada Akhirnya…

Apa yang sebenarnya kita inginkan? Kalau kita ingin tetap bekerja keras, tetap ingin bermanfaat bagi orang sekitar, tetap ingin membahagiakan yang terkasih, tetap ingin bersabar, tetap ingin bersyukur dan sekaligus ingin mendapat balasan paling layak, maka tak ada jalan selain bertahan. Khususnya kalau apa yang tengah dilakukan memang sesuatu yang positif, dengan niat dan tujuan yang baik juga.

Bicara soal rasa lelah atau penat, kita tak sendirian. Seluruh penjuru dunia merasakannya. Namun kabar baiknya… semua ini hanya sementara. Akan ada satu titik yang mengakhiri segalanya. Dan kalau kita sangat beruntung, di kehidupan selanjutnya kita tinggal beristirahat, menikmati segala manisnya keringat. Kita tinggal meneguk manisnya rasa lelah yang diperas dengan ikhlas. Insya Allah.

Nah, kita bisa kembali mengingat poin awal… sudahkah kita mengapresiasi orang sekitar serta mensyukuri segala pemberian-Nya? Demikian, 10 Catatan Inti Ketika Merasa Tidak Dianggap, Dimengerti atau Diapresiasi. #RD

You May Also Like

2 Comments

Comments are closed.