12 Hal yang Harus Diingat Ketika Kamu Menjalin Hubungan dengan Anak Broken Home

0
SHARE
pacaran dengan anak broken home, berpacaran dengan anak broken home, tips pacaran dengan anak broken home, pacar anak broken home
Cr image: Alejandro-o on DeviantArt

“Dampak tertinggi dari perceraian pada anak itu terjadi 15-25 tahun kemudian, tepat ketika anak memasuki hubungan romansa yang serius … mereka menyangka kalau hubungan mereka pun akan sama gagalnya.”

Demikian keterangan peneliti sekaligus psikolog, Judith Wallerstein, via Peggy Nolan Lifehack.

Kalau postingan ini ibarat api, maka bensinnya adalah seorang laki-laki yang mengirim email pada saya. Dia mengaku sedang menjalin hubungan spesial dengan seorang perempuan, yang kebetulan orang tuanya sudah bercerai.

Dia juga mengklaim kerap membaca blog ini, karena ingin memahami kekasihnya itu. Bagaimana pun, dia ingin membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius. Manis, bukan?

Saya hanya bisa mengingatkan, kalau berpacaran dengan anak broken home itu mirip dengan menenggelamkan diri dalam tantangan.

Ada beberapa hal yang sebaiknya diingat dan dipertimbangkan:

1Masih terluka

Perceraian atau permasalahan keluarga lain meninggalkan luka. Meski kejadiannya sudah lama, namun luka itu masih ada dan nyata. Oleh karena itu, mohon maklum jika kami masih begitu sensitif soal keluarga, cinta, masa depan, dll. Ada orang tua yang sedang jalan-jalan sama anaknya saja bisa bikin baper.

2Mudah minder

Berangkat dari keluarga retak memang tidak mudah. Ada rasa rendah diri dan merasa kurang pantas, apalagi ketika menjalin hubungan dengan seseorang kalangan keluarga harmonis atau keluarga yang lengkap. Bagaimana pun, banyak orang yang memberi stigma terhadap anak broken home.

Banyak yang menganggap gagal, ‘enggak bener’, reputasinya bandel, suka membangkang, mentalnya labil, takut masa depannya seperti orang tua, dll. Rasanya tidak percaya ada sosok yang menerima kami dan latar belakang kami apa adanya. Oleh karena itu, ketika sosok tersebut memang ada, kami sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya.

Baca Juga :  Broken Home Bisa Memberi Dampak Bagi Anak Dengan 7 Cara Ini

3Tidak mudah percaya

Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya ketika percaya orang tua itu tidak akan berpisah, tetapi pada akhirnya menjalani hidup masing-masing. Dulunya mungkin mereka saling berkomitmen, namun lihatlah mereka berubah. Keadaan benar-benar tidak bisa diprediksi. Tidak heran kalau kami membuat benteng kokoh dan tinggi untuk memercayai.

4Kurang mampu mengekspresikan diri

Rasanya sulit untuk curhat terbuka. Sulit untuk menceritakan tentang perasaan, pengalaman, atau kisah masa lalu. Kami sudah terbiasa memendamnya. Sebab kalau pun diceritakan, keadaan tidak akan berubah. Orang-orang malah akan mengasihani dan memandang iba. Tetapi kalau kami sudah percaya dan memang ingin bercerita, kami juga bisa melakukannya. Pelan-pelan saja.

5Menghargai keterbukaan

Ironis, sih. Di satu sisi, kami itu cukup tertutup. Sulit rasanya untuk mengekspresikan diri secara terbuka. Di sisi lain, kami sangat ingin partner yang terbuka. Dengan demikian, kami pun akan belajar untuk membuka diri juga. Sebab kami sadar, keterbukaan itu menjadi salah-satu modal penting agar komunikasi berjalan dengan baik.

6Butuh sandaran dan support

Cr image: res.cloudinary.com

Di masa kecil, orang tua atau wali mestinya support system terbaik. Namun anak-anak broken home tidak benar-benar merasakannya. Malah ada kecenderungan untuk memendam beban sendirian. Tentu saja hal tersebut “kurang sehat”. Sebagai manusia biasa, kami juga butuh bantuan. Tidak heran kalau sosok yang bisa menjadi sandaran dan pendukung itu adalah anugerah besar.

7Bagi kami, perubahan itu mesti dipertimbangkan matang-matang

Trauma saja. Dulu ketika keluarga masih harmonis dan orang tua masih bersama, tiba-tiba saja ada satu momen yang mengubahnya. Rumah berubah jadi tempat yang penuh air mata. Orang tua jadi figur yang terasa asing. Oleh karena itu, kami agak takut sama perubahan. Ketika mengubah status ‘kenalan’ menjadi ‘pasangan’, misalnya, kami kadang memerlukan waktu panjang untuk mempertimbangkannya.

Baca Juga :  Ketika Anak Broken Home Membandingkan Keluarga Sendiri dengan yang Lain

8Cukup kesulitan membayangkan hubungan “asmara yang sehat”

Secara teori, hubungan asmara yang bahagia itu terbuat dari komitmen yang baik, komunikasi lancar, rasa respect satu sama lain, kepedulian, kesetiaan, penerimaan, saling percaya, dlsb. Namun semua itu kandas karena perceraian orang tua, sebab mereka menjadi role model anak dalam hal hubungan serius. Ketika menjalani hubungan langsung, kadang bingung.

9Diam-diam masih tidak percaya dengan “cinta sejati”

Meski tidak mengucapkannya langsung, namun keraguan itu masih ada. Rasanya ingin tertawa ketika ada seorang insan yang ngegombal, rasanya hambar dengan ungkapan cinta yang berlebihan, rasanya geli melihat pasangan yang mengumbar kemesraan, rasanya skeptis terhadap orang yang tampak seperti pahlawan dan banyak berkorban (padahal mungkin ada maunya), dll. Rasa pesimis itu masih ada. Masih rentan.

10Memiliki jiwa mengasuh dan mengayomi

Anak broken home yang tinggal dengan single parent seperti ditempa untuk tidak manja. Sebab sudah terbiasa hidup dengan orang tua “yang tidak utuh”. Kadang anak pun terdidik untuk saling merawat kondisi dan emosi diri sendiri serta orang tua. Sikap ini bisa jadi terbawa ketika menjalin hubungan dengan seseorang.

11Cenderung kepo dan ingin ikut “mengatur”

Kejadian masa lalu meninggalkan trauma tersendiri. Dulu belum terlalu tahu keadaan keluarga. Dulu belum terlalu bisa mengendalikan keluarga. Dulu serasa tidak memiliki kontribusi besar terhadap keutuhan keluarga. Sehingga keretakan rumah tangga pun terjadi.

Hal ini enggan terulang. Makanya ada kecenderungan untuk ingin tahu semua hal tentang pasangan, termasuk mengatur atau memberi pendapat terkait pasangan. Dengan demikian, kami bisa menyiapkan kemungkinan terburuk.

12Jauh dalam hati, berharap cinta sejati yang langgeng itu bisa terwujud

Di tengah perjuangan panjang untuk membuka hati dan memberi kesempatan pada cinta, ada mimpi yang terus menyala. Kami benar-benar ingin mencecap kesejatian cinta. Kami benar-benar ingin menjalin hubungan yang sehat dan bahagia.

Baca Juga :  Komentar Netizen Pada Akun Instagram Orang Bunuh Diri, Miris Sekali!

Kadang ada rasa minder, rasa ingin menyerah saja, rasa gelisah, dll. Di saat itu, pasangan mesti menguatkan dan membangkitkan jiwa.

Jika pasangan sama-sama lemah, keinginan untuk menyerah bisa jadi semakin mudah. Sebaliknya, jika pasangan bisa menguatkan, maka hubungan akan tetap kokoh dan bersinar. 12 Hal yang Harus Diingat Ketika Kamu Menjalin Hubungan dengan Anak Broken Home. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.