Home » My Files » Diary Tentang Menulis atau Blogging » 13 Hal Merepotkan Ketika Tulisan Kita Semakin Banyak yang Membaca

13 Hal Merepotkan Ketika Tulisan Kita Semakin Banyak yang Membaca

13 Hal Merepotkan Ketika Tulisan Kita Semakin Banyak yang Membaca

13 Hal Merepotkan Ketika Tulisan Kita Semakin Banyak yang Membaca, penulis, menulis, blogger, blogging, belajar menulis,

Via: lisatener.com

Penulis terus-terusan belajar, menulis, memosting/ menerbitkan, dan mempromosikannya. Semua dilakukan untuk menggaet pembaca yang lebih banyak. Tapi setelah mereka berdatangan, masalah tidak lantas selesai.

~

Kata orang, hidup ini simpel. Kitanya saja yang bikin rujit. Begitu, ya?

Seperti kebanyakan dari kita, yang banting-tulang mencari pekerjaan atau pendapatan. Semakin ditumpuk, uangnya semakin banyak. Tetapi urusan kita semakin merepotkan saja. Musti membeli barang-barang update nan lux, menggaji para pekerja, menanamkan berbagai aset, memperketat keamanan harta, menjaga keselamatan diri serta keluarga, dsb.

Well, kembali lagi pada topik menulis. Entah orang lain menganggap nulis itu mudah atau susah, yang jelas bagiku aktivitas yang satu ini cukup keramat, tak bisa diremehkan begitu saja. Tulisan bisa membuat seseorang merasa jatuh cinta, tergugah, terhibur, atau justeru tersayat hatinya. The power of tulisan memang begitu besar.

poto perempuan menulis, penulis anime, gambar penulis kartun, perempuan sedang main laptop

By: Tomasz Usyk via Behance

Sebagai orang yang belajar menulis dan ngeblog, jumlah pengunjung atau pembaca yang menanjak tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita memang menjaring ide dan menguraikannya khususon untuk mereka. Namun di saat yang sama, berbagai beban mulai berdatangan.

Orang-orang bilang kalau penulis itu harus bisa menyampaikan sesuatu yang baik lah, informasi yang bisa dipertanggungjawabkan lah, mengandung pesan moral lah, tulisannya sesuai EYD lah, memakai bahasa baku lah, dsb. Semua itu selalu terngiang. Kalau saja kita tidak bersyukur, semuanya bisa menjelma jadi beban yang bikin hancur.

Jika dibuatkan list, hal merepotkan apa saja yang musti dihadapi ketika pembaca tulisan kita semakin banyak? Hehe… jom!

membaca, perempuan membaca, membaca dan imajinasi,

Via: globalfolio.net

#1. Harus Membaca Lebih Banyak

Kita kebanyakan “menyampaikan kembali” apa yang sudah dibaca atau diketahui, hanya saja semua itu dikelola dengan versi diri sendiri. Namun kita menulis bukan karena bacaannya lebih banyak dan keren. Enggak sama-sekali.

Ketika menyadari pembaca kita lebih luas dan banyak, dorongan untuk membaca berbagai hal lebih besar. Tentu kita tak perlu mengurai ulang apa manfaat mengagumkan di balik aktivitas membaca. Yang jelas, keharusan yang satu ini terbentuk dengan sendirinya.

Baca Juga :  7 Kondisi Berbahaya Ketika Blogwalking Ke Celeb Blog

#2. Harus Menulis Lebih Sering

Sampai saat ini, daku masih membaca atau mendengar aneka tips menulis. Walau tak jauh-jauh dari apa yang sudah diketahui, tetap saja ada dorongan untuk terus belajar dan memahaminya. Yang lebih pentingnya lagi, kita musti mengeksekusi semua teori itu.

Skill menulis tak ujug-ujug digenggam hanya dengan menghapal teori atau mendatangi seminarnya. Kita musti praktik. Sesering mungkin. Atau paling tidak, kita harus menjadikan agenda menulis sebagai rutinitas. Tak peduli sependek atau sepanjang apapun itu. Latihan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan.

#3. Harus Melakukan Editing Berulang-ulang

Kita tak bisa terus bersembunyi di balik ungkapan “penulis juga manusia, bisa salah ataupun lupa”. Hal tersebut tak akan cukup untuk menebus kesalahan ketik kita. Karenanya, ketika pembaca kita lebih banyak, ada kesadaran sendiri untuk melakukan editing ulang atau review sebelum diposting. Siapa tahu ada typo, lupa memberi tanda baca, ada info keliru, dsb.

#4. Harus Lebih Terbuka dan Jujur

Bicara soal keterbukaan, hal ini bukan “daku banget”. Namun blogger Pakde Abdul Cholik pernah bilang, baiknya kita membuka jati diri pada pembaca. Baiklah, daku masih bisa melaksanakannya, selama informasi itu masih di jalur yang dasar-dasar saja. Entah itu nama asli, akun media sosial, alamat email, atau mungkin daerah tempat tinggal.

Poin yang satu ini memang bisa mempererat hubungan antara penulis dan pembaca. Kesannya lebih enak ketimbang kita membaca tulisan yang pengarangnya saja anonim. Jika sudah begitu, kita juga akan lebih nyaman untuk menyampaikan berbagai hal.

#5. Harus Mencari Ide Segar

Sesuatu yang mainstream memang kurang digemari. Bukan jelek, sih, hanya saja kita semakin terdorong untuk mencari ide atau sesuatu yang lebih baru. Tapi tak perlu dipikirkan dengan berlarut-larut juga. Apa saja yang terlintas bisa jadi gagasan emas. Hanya saja kita musti lebih peka lagi.

#6. Harus Lebih Hati-hati dengan Isu Plagiarism

Tentu saja isu cukup sensitif ini tak ada matinya. Entah sudah berapa penulis yang terjungkal akibat problem ini. Memang, karya kita pasti terpengaruh penulis atau tulisan lain. Namun pengemasannya masih berpeluang untuk berbeda.

Baca Juga :  12 Cara Isi Ulang Ide dan Kreativitas Menulis

Kalau pun soal ide, kita memiliki opsi untuk terbuka pada pembaca. Misalnya dengan memberitahukan kalau tulisan A terinspirasi dari anu, tulisan B dari anu. Demikian juga dengan gambar, poto, ilustrasi, kutipan, dsb. Kalau semua itu bukan milik kita, tak perlu mengakuinya. Syukur-syukur kalau kita tahu siapa kreatornya, tentu namanya musti diberi kredit tersendiri.

#7. Harus Belajar Potografi atau Membuat Gambar Sendiri

Khususnya blog, ya. Menurut sahabat, kakak, sekaligus mentorku memang begitu. Alangkah baiknya bagi kita untuk semakin orisinil. Entah tulisan ataupun aneka pemanisnya. Selain bisa membubuhkan nama sendiri, kesannya pun memang lebih eksklusif.

Kalau hal ini masih terasa berat, google image masih bisa jadi tempat bersandar. Namun sebisa mungkin kita mencari tahu dan memberi tahu, dari mana sumber gambar tersebut berasal. Sampai sekarang, daku kebanyakan masih mengandalkan pilihan kedua. Hehe…

blogger, belogger menulis, blogger dan potografi, blogger potografer

Via: yarddiant.com

#8. Harus Merespons Email atau Komentar yang Masuk

Pengin gitu kayak blog populer, yang sekali posting, kolom komentarnya langsung banjir. Rasanya hangat dan seru juga, menyaksikan bagaimana komunikasi antara penulis dan pembaca itu terjalin. Begitu pun dengan blog-blog yang pemiliknya rajin blogwalking. Nah, daku tak bisa melakukan program ini dengan baik. Enggak apa-apa, lah.

Namun sejauh ini, masih ada saja komentar atau email yang datang. Apa terganggu? selama isinya bukan sesuatu yang mengganggu, tentu saja tidak. Justeru ada rasa senang tersendiri, kita bisa semakin dekat. Hanya saja, ada momen di mana kita belum bisa membalas semuanya. Setiap saat semuanya semakin menumpuk saja. Jadinya kita malah telat memberi balasan. Hal ini yang kadang bikin enggak enak.

#9. Harus Setia pada Gaya Sendiri

Entah ada berapa orang yang mengomentari gaya menulisku. Daku hanya mendengarnya saja. Kalau opini mereka senada, berarti daku sudah memiliki “warna menulis” tersendiri. Dan selama daku dan pembacanya nyaman, rasanya gaya yang sudah dipakai tak akan banyak diubah.

Gaya menulis seseorang memang beragam. Daku juga menemukan banyak sekali penulis yang penulisannya begitu keren. Pengin sekali daku tiru style itu. Namun di sisi lain, aksi tersebut nantinya bisa menimbulkan kelabilan dalam menulis. Jadi tak apa, menulis ala diri sendiri saja, ya.

Baca Juga :  Cara Sederhana Mendapatkan Sertifikat Blogger Indonesia (Gratis)

#10. Harus Meningkatkan Kualitas

Hey, seperti apa sih tulisan yang berkualitas itu? Tentu kompleks, ya. Orang bisa beranggapan kalau tulisan dengan kualitas tinggi itu musti mengandung pengelolaan kata yang baik, data yang akurat, sesuai tata bahasa yang baik nan benar, menembus hati pembacanya, dsb. Apapun itu, daku masih sedang belajar. Terus belajar.

#11. Harus Menjaga Passion Menulis

Mimpi buruk bagai menjelma jadi kenyataan apabila passion kita perlahan padam. Sebab, sejatinya “pencabut nyawa” dari passion itu tak jauh-jauh merupakan diri kita sendiri. Demikian juga dengan “pembangkitnya”. Semua ada di tangan kita.

Ganjalan menulis macam writer’s block memang kerap terjadi. Saat-saat semacam ini benar-benar enggak enak. Ide dan jari-jemari seperti bersekongkol untuk bikin dongkol. Mereka semua seakan-akan mogok kerja. Namun hal tersebut wajar adanya. Mungkin kita memang memerlukan istirahat, untuk kemudian menghidupkan kembali gairah menulis yang sempat mati suri.

#12. Harus Konsisten

Membaca dan menulis satu kali itu memang baik. Namun konsisten dalam melakukan semua itu tentu jadi yang terbaik. Semakin banyak tulisan kita tersebar di jagat dunia maya ini, musti semakin tinggi juga tingkat konsistensinya. Baik itu konsisten untuk membaca, memungut ide, meningkatkan kualitas, dan pokoknya belajar.

#13. Harus Ikhlas

Menulis dengan ikhlas itu capek banget. Menulis dengan tidak ikhlas juga capek banget. Rasanya seperti serupa. Namun efek dan keberkahannya pasti berbeda, ya. Tapi ya sudah, urusan ikhlas atau tidak mah biar jadi pertimbangan antara penulis dan Pihak Yang Berhak. Hehe…

Selamat melanjutkan perjuangan, khususnya bagi Bro-Sist yang memiliki minat sama di bidang kepenulisan. Sejatinya semua hal-hal merepotkan di atas memang diutus untuk kebaikan kita dan para pembaca, ya. Kita sama-sama tahu… semakin naik levelnya, semakin banyak dan sulit juga tantangannya.

Nah, kami juga mengucapkan terima kasih pada para pembaca, yang sudah sama-sama menemani proses belajar dan berjuang. 13 Hal Merepotkan Ketika Tulisan Kita Semakin Banyak yang Membaca. #RD

 

error: