14 Hal yang Pura-Pura Kita Benci Tapi Diam-Diam Malah Disukai

2
SHARE
pura pura benci padahal suka, benci tapi suka, pura pura benci, diam diam suka, ketika benci berubah jadi cinta, kata kata kebencian cinta
Via: amazing3dtattoos.blogspot.com

Apakah atau siapakah itu? Kenapa terkadang kita tidak bisa jujur, walau itu pada diri sendiri?

~

Petang kemarin, ketika rumah yang tadinya ramai kembali sepi, daku membuka blog dan merangkai berbagai postingan. Namun tak ada yang jadi dan berhasil dipublish. Merasa stuck, daku pun jalan-jalan ke blog orang.

Senyumku mekar ketika membaca tulisan Callie Byrnes via Thought Catalog. Dia tengah membahas hal-hal yang diam-diam kita sukai, padahal kita pura-pura membencinya. Nah daku kemas dan tambahkan, ya. Apa saja? Jom!

  1. Nama Panggilan atau Nickname

Kalau dibuat daftar, entah ada berapa nama panggilan yang tertuju padaku. Nama asliku Dian. Namun ada yang memanggil Iyang, Rose/ Ros, Rosediana, Diana, Dayana, Dee/ Di, Ian/ Iyan, Neng, Dede, Enok, Diot, Badiot, Didong, Diyay/ Iyay/ Yay, dll.

Sebutan khusus itu keluar dari berbagai orang. Ada yang memplesetkan nama, menyingkat, atau sekadar membuat panggilan fun saja. Dan diantara nama itu, sebenarnya ada beberapa yang (awalnya) daku benci. Namun lama-lama, daku mengaku menyukai sebutan itu.

Daku suka dan nyaman terhadap orang-orang yang melepas formalitas.  Setidaknya, panggilan khusus itu menjadi bukti kalau kami sudah dekat atau intim. Apalagi kalau mereka membuat panggilan khusus tersendiri yang tak berlaku bagi orang lain. Spesial.

  1. Pujian atau Rayuan (Yang Terkesan) Gombal

Apa tanggapanmu ketika dirayu? Atau dipuji ‘cantik banget!’, ‘tampan yang bikin klepek-klepek’, ‘multitatalenta tiada duanya’, dsb. Atau mungkin dipanggil dengan sebutan Kekasih Sempurna Dunia Akhirat Selamanya, Cinta Satu-satunya, my princess, my knight in shining armour, dsb.? Beberapa orang pasti langsung menaikkan ujung bibir, mencibir, atau bilang ew. Ada juga yang sudah tak bisa berekspresi lantaran hambarnya kegombalan ini.

Kita juga seakan merasa terganggu dan risih. Tetapi kalau semua rayuan itu mendadak berhenti atau hilang, rasa hampa itu pasti terasa juga. Lagipula, laki-laki atau perempuan, rasanya akan suka pada pujian atau rayuan. Iya enggak, sih?

  1. “Dibully” Orang-Orang Terdekat

Dibully di sini dalam tanda kutip, ya. Tak ada pihak yang terancam atau dalam bahaya, kok. Maksudnya hanya bercanda. Entah itu oleh sahabat, keluarga, pasangan, rekan kerja, dsb.

Baca Juga :  Tugas "Making A Lesson Plan"

Dan ketika kita jadi korban candaan itu, rasanya pasti menyebalkan. Apalagi kalau posisi kita tersudut dan dikeroyok yang lain. Kita tak bisa berkutik dan hanya pasrah dengan kondisi yang mengenaskan. Untung kita udah kadung sayang!

Lagipula, perlakuan mereka itu menandakan kedekatan yang sangat lekat. Mereka sudah tak sungkan. Malah kalau kita dalam keadaan “dibully dunia”, merekalah yang pasti berdiri duluan paling depan.

  1. Idola, Tayangan, atau Musik Favorit

Sebagian penggemar terang-terangan menyatakan rasa sukanya terhadap sesuatu. Namun sebagian lain, mungkin termasuk kita, memilih prinsip ‘mengagumi dari jauh’. Kita tak mengakuinya secara langsung, tetapi diam-diam kita memerhatikan dan terpesona.

Ada yang diam-diam suka sama selebritis, ada yang diam-diam suka film atau drama anu, ada yang diam-diam suka sama suatu genre musik, ada yang diam-diam suka jajan jajanan anak kecil, dll. Tetapi kita enggan mengaku karena takut dijudge ini-itu.

  1. Kejutan

Pernahkah menghadapi seseorang yang ngambek setelah diberi kejutan? Kita mungkin merasa terganggu dan tak habis pikir kalau ada orang yang bikin kaget di tengah malam, tiba-tiba menyembur kita dengan seember air di hari ulang tahun, atau merekam momen yang tak kita sadari. Tetapi kalau ditelusuri, relung hati kita menyukainya. Lebih lagi kalau kejutan itu manis dan menyenangkan!

  1. Ketidakpastian Masa Depan

Yang satu ini memang bikin gundah-gulana. Lagi tenang menikmati masa muda, pas inget masa depan, malah jadi cemas sendiri. Kita belum tahu akan jadi apa, sama siapa, sedang berbuat apa. Hehe… demikian juga ketika terus tumbuh dewasa dan menua, segala ketidakkepastian di depan diam-diam menggerogoti pikiran dan perasaan.

Tapi apa jadinya kalau kita sudah tahu masa depan? Di mana letak keseruannya? Bukankah bisa stress dan uring-uringan duluan kalau kita sudah tahu pasti kapan waktu meninggal?

Rasa benci akan ketidakpastian masa depan lambat laun jadi sesuatu yang patut ditafakuri dan disyukuri, ‘kan?

  1. Diintrogasi Tentang Kehidupan Pribadi
Baca Juga :  Terus-terusan Doa, Tapi Mana Rezekinya?

Sebagian orang, termasuk daku, kurang suka kalau ada yang terlalu mengubek-ubek kehidupan pribadi. Annoying. Sebab terkadang mereka hanya bertanya karena kepo atau ingin tahu, bukan karena benar-benar peduli dan siap membantu. Kita pun jadi kikuk mau menjawab apa atau bagaimana.

Tetapi kalau kita bisa merasakan ketulusan dan empati mereka, barulah ada rasa nyaman tersendiri. Oh ternyata ada yang care sama kehidupan kita! Di momen itu, aneka pertanyaan mereka pun bisa memeroleh jawaban yang mengalir dari kita. Kalau sudah curcol sama orang tepat, efek lega dan plong akan didapat.

  1. Cinta, Cinta, dan Cinta

Sebagian dari kita mungkin akan memutar bola mata ketika ada orang yang mengagung-agungkan cinta. Yang satu sibuk memuji karya-karya berbau romansa, yang satu mengkampanyekan ‘all we need is love’, yang satu sampai rela melakukan segalanya demi cinta, dsb. Kita menyebutnya lebay alay, atau mungkin bullshit belaka.

Tetapi diam-diam, ada rasa syukur juga ketika orang-orang yang mengandalkan cinta itu “belum punah”. Setidaknya dunia ini jadi memiliki harapan untuk damai dan harmonis.

  1. Masa Lalu Buruk

Mohon maaf kalau poin yang satu ini langsung mengubek kenangan pahit dan tidak mengenakkan. Well, kamu tidak sendirian. Pasti banyak orang yang memiliki sisi kelam di masa silam.

Kita tentu membencinya. Tetapi begitu dipikir-pikir lagi, kita juga jadi kebanjiran hikmah. Setidaknya kita sempat ‘lulus’ ujian, terdidik jadi lebih kuat, lebih tegar, dan lebih mengerti permainan hidup.

  1. Sesuatu yang Membuat Kita Menangis

Banyak hal yang bisa mengundang air mata atau isak tangis kita. Sebut saja kelakuan orang, postingan di internet, buku bacaan, film sedih, lagu galau, acara sungkem sama orang tua, momen ketika berdoa, dll. Kita mengaku benci untuk menangis, membuat tampilan jadi kurang enak dipandang, dan menciptakan citera lembek atau cengeng.

Namun setelah menangis, ada sensasi puas dan lapang tersendiri. Semua emosi itu membuat kita ‘gerak’, terguncang, dan bergejolak.

  1. Orang yang Terlalu Terbuka

Kadang-kadang kita bertingkah ‘sok risih’ karena ada orang yang terlalu terbuka pada kita. Apa-apa bilang, apa-apa update. Namun jauh di dalam hati, kita sebenarnya menyukai hal tersebut.

Baca Juga :  Hati dan Otak Ketika Dibentak Orang Terdekat

Kita suka diposisikan sebagai sosok istimewa, sehingga mereka hanya cerita pada kita saja, tidak pada yang lainnya. Lagipula, ada kebanggaan tersendiri ketika orang lain bisa terbuka soal kisah, passion, atau bahkan rahasia mereka. Kepercayaan itu sangat berharga!

  1. Dicemburui

Pernah merasa keki enggak sih ketika seseorang cemburu pada kita? Entah itu cemburunya pasangan sampai ada yang disertai sikap possesif, orang-orang terdekat, atau bahkan orang asing sekalipun. Kesannya… gimana, gitu?!

Tetapi diam-diam, selama tidak berlebihan, kita juga menyukainya… ‘kan?

  1. Diam dan Kesunyian

Momen sunyi, sepi, dan senyap kadang ambigu. Kadang kita membencinya karena dianggap terlalu kosong dan mengerikan. Tetapi kita juga sering berubah suka karena memberi efek ketenangan dan kenyamanan luar biasa. Lebih lagi dunia ini sendiri sudah sangat berisik. Di mana-mana terdengar bising. Jadi kalau suasana berubah senyap, ada suatu rasa yang terserap.

  1. Ketidaksempurnaan

Pernah membenci keadaan karena kita tak tahu semua hal? Karena kita tak bisa menjangkau apa yang diinginkan? Karena kita pernah kalah? Karena kita pernah gagal? Karena kita pernah lemah? Karena kita pernah hilang arah?

Terkadang kita membenci diri sendiri, membenci dunia, bahkan sampai khilaf menuding-nuding Sang Pencipta. Tetapi kalau hatinya sudah jernih, kita jadi malu dan dibikin berpikir sendiri. Kita memang hanya manusia… biasa. Ada Dzat yang Maha Sempurna, yang menjadi tempat kita berlindung dan berserah diri.

~

Selama memiliki rasa, kita bisa menyukai atau membenci aneka hal. Kita juga memiliki kebebasan untuk beropini atau mengekspresikan selera. Kita bebas berbuat atau merasakan apa saja, tetapi kita tak bebas dari konsekuensinya.

Tetapi pada akhirnya… ketika kita menaruh kebencian akan sesuatu, ingat-ingat kembali apa sisi baik dari sesuatu itu. Perlahan tapi pasti, barangkali kita akan mengaku juga kalau ternyata begitu menyukainya. Hehe…

All in all, list ini bisa bertambah.  14 Hal yang Pura-Pura Kita Benci Tapi Diam-Diam Malah Disukai. #RD

SHARE

2 COMMENTS

Comments are closed.