14 Momen Di Mana Kita Merasa Kesepian dan Hampa di Tengah Keramaian

14 Momen Di Mana Kita Merasa Kesepian dan Hampa di Tengah Keramaian

kesepian di tengah keramahan, sepi dan hampa, momen di mana kita merasa sepi dan hampa
Karya: Olivia Linn

Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone, tak berarti daku kesepian ketika daku sendirian…

Ya! Bagi yang merasa familiar, kalimat pembuka di atas merupakan petikan lirik lagu “What Doesn’t Kill You (Stronger)”, miliknya Teteh Kelly Clarkson. Jadi intinya, momen ketika kita merasa kesepian itu bukan ketika sendirian. Bukan ketika tak ada orang.

Dunia ini begitu ramai. Berisik, malah. Orang ada di mana-mana, aneka berita tersebar luas, mimpi-mimpi bergelantungan, suara-suara terus bergema, dan pokoknya tak berkesudahan. Namun ada momen, di mana kita merasa “tak konek” dengan semua itu. Kita merasa sepi dan hampa di tengah keramaian yang ada.

Tapi kita memang manusia biasa. Rasa itu wajar adanya. Apalagi kalau kita sudah mengalami beberapa momen yang menyebabkannya. Seperti momen-momen berikut ini… jom!

 

#1. Ketika Orang yang Kita Sayang Sakit Parah atau Meninggal

Sakit dan kematian menjadi dua dari sekian hal lumrah yang menimpa manusia. Kita sudah tahu itu. Namun tetap saja, ketika ada orang tersayang yang mengalaminya, kita serasa mendapat ujian yang berat.

Khususnya kalau sampai menghadapi kematian mereka. Dan di saat-saat seperti ini, tak jarang kita merasa “kosong”. Dunia serasa melompong. Selain tak lagi bisa bersama mereka lagi secara fisik, kita pun harus belajar merelakan dengan ikhlas. Mereka sudah “pulang” ke tangan pemiliknya.

#2. Ketika Berada di Tengah Keramaian, Tapi Tak Bisa Menjalin Hubungan

Perasaan ini sering muncul tanpa kita sadari. Saat itu, kita memang ditemani banyak raga. Namun di saat yang sama, kita tak bisa menjalin koneksi atau interaksi dengan mereka.

Katakanlah ketika memasuki daerah asing, tempat kerja baru, transportasi umum yang sesak, atau bahkan ketika berada di tengah wajah-wajah familiar yang tak mengapresiasi keberadaan kita. Ada rasa bahwa kita ini begitu terasingkan. Namun semuanya masih wajar, kita perlu momen kesenyapan untuk diri sendiri juga.

#3. Ketika Seseorang Meninggalkan Kita Karena Sesuatu atau Seseorang yang Lain

Segala sesuatu di dunia ini datang dan pergi. Sebagian ada yang hanya lewat, mampir sejenak, atau tinggal begitu lama, lalu kemudian pergi entah ke mana. Ada juga yang memang memutuskan untuk saling berpisah dengan aneka alasan yang ujungnya beralibi… inilah yang terbaik.

Keadaan tersebut membuat semuanya berubah. Kita jadi ekstra hati-hati untuk membuka hati, sebab takut akan merasakan sensasi sakit yang sama lagi. Fase ini cukup berat, tapi kita juga jadi memiliki kesempatan besar untuk belajar move on  dan menata hidup ke depannya. Siapa tahu, semua itu menaikkan level kita. Mental kita pun akan lebih tangguh untuk menghadapi ujian berikutnya.

Baca Juga :  7 Alasan Kenapa Minum Kopi Bisa Bikin Panjang Umur

#4. Ketika Kita Meninggalkan Seseorang Karena Sesuatu atau Seseorang yang Lain

Kebalikan dari poin sebelumnya, kali ini kita sendiri yang memilih hengkang. Kita menceklis opsi untuk menyudahi semuanya karena alasan yang lebih baik. Keputusan itu bisa jadi begitu menyesakkan di awal, namun kita harus tegas.

Arahkan pandangan ke depan, tak perlu menengok ke belakang. Godaan untuk kembali pastinya kerap datang. Demikian juga dengan rasa hampa yang terus menggerogoti jiwa. Tapi keputusan memang sudah diambil. Kita harus melangkah, dan menjemput pilihan yang lebih baik dari sebelumnya.

#5. Ketika Kita Kehilangan Kesempatan yang Tak akan Pernah Terulang

Kesempatan emas yang terlewatkan pasti membuat siapa saja merasa sebal, dan amat sangat gregetan. Kesempatan itu bisa berupa karier, asmara, persahabatan, peluang bisnis, dsb. Kita melepaskannya begitu saja, lalu musti gigit jari ketika menyadari kalau semua itu tak akan datang lagi.

Menyedihkan, memang. Namun kita juga musti mengingatkan diri untuk yakin akan keputusan Tuhan. Dia pasti sudah membuat skema yang terbaik. Percayakan semua padaNya, dan upayakan yang terbaik untuk kesempatan lainnya.

#6. Ketika Kita Larut Dalam Kesibukan, dan Mengesampingkan Orang Tersayang

Banyak hubungan yang retak karena fenomena yang satu ini. Misalnya seorang ayah yang tenggelam dalam pekerjaan, sehingga tak memiliki sedikit pun kesempatan untuk menimang anaknya. Atau seorang anak yang fokus mengejar karier, sehingga tak meluangkan waktu untuk mengirim pesan atau menelepon sang ibu. Atau juga sahabat yang pikirannya sudah terjejali orang-orang baru, sehingga tak ada masa untuk bersilaturahim dengan sahabat-sahabat lama. Dsb.

Ketika menyadari semua itu, kadang kita merasa tertampar sendiri. Kita patut bersyukur kalau kesadaran ini datang di awal. Paling tidak, kita bisa memperbaikinya di sela-sela sisa waktu yang ada.

#7. Ketika Kita Pindah Ke Tempat Baru

Perhatikan koper-koper besar yang kita bawa, atau orang-orang yang membantu mengangkut berbagai barang ke sebuah tempat baru. Khususnya tempat yang jauh, di luar kota atau bahkan luar negeri. Itu pertanda… kita akan jauh meninggalkan keluarga, sahabat, kenangan, dan kenyamanan di tempat lama.

Di satu sisi, kita merasa segar sebab akan menjalani langkah baru. Namun di sisi lain, kita bisa terjebak dalam perasaan hampa. Sebab, semuanya serba baru dan asing. Tetapi saat-saat seperti itu tentu tak abadi. Kita hanya perlu waktu untuk beradaptasi dan berbaur dengan lingkungan yang baru.

kesepian, kesepian di tengah keramaian, hampa di tengah keramaian, sendirian tak berarti kesepian, perempuan sendirian dan kesepian
Via: favim.com

#8. Ketika Kita Punya Ide atau Pendapat, Tapi Tak Ada yang Menanggapi

Kita menjabarkan ide di tengah kolega kerja, tapi mereka tak meresponsnya. Kita sudah menyampaikan masa depan impian pada keluarga, tapi mereka tak mendengarnya. Atau kita sudah mengemukakan ide liburan pada teman-teman, tapi mereka tak menanggapinya. Kita merasa sudah berpikir keras, namun apresiasi mereka semuanya nihil belaka.

Baca Juga :  Kata-kata, Akronim dan Singkatan Gaul Populer di Dunia Maya (Bagian 17)

Menyebalkan, memang. Tapi semua itu masih mending, ketimbang kita memendamnya dalam hati saja. Kita harus tetap belajar menyampaikan isi hati dan pikiran, sampai suatu saat ada segelintir orang yang mendengar dan menghargai gagasan kita sendiri.

#9. Ketika Kita Merasa Tak Ada Seorang pun yang Memahami Hati

Sebenarnya kita tak bisa berharap banyak, bahwa semua orang akan mengerti dan memahami isi hati. Misalnya ketika keluarga yang berlatar belakang pebisnis tak menerima kehendak anaknya untuk menjadi seorang penulis. Atau ketika teman-teman memandang aneh lantaran kita memilih buka usaha ketimbang melanjutkan sekolah.

Tak apa. Selama pilihan kita baik dan benar, tak perlu restu dari semua orang. Kita memang tak bisa memuaskan atau membahagiakan semuanya. Jalani hidup sesuai dengan keinginan, asal tak lupa untuk tetap dalam koridor keridhoan Tuhan.

#10. Ketika Kita Sukses Duniawi, Tapi Tetap Merasa Hampa

Kim Taeyeon, satu dari sekian penyanyi popular Korea atau Kpop, mengaku kerap merasa hampa di tengah hingar-bingar kehidupannya sebagai seorang seleb. Well, dia hanya satu dari sekian orang yang sudah menggenggam “wujud kesuksesan”. Dia memiliki tampang yang rupawan, harta berlimpah, status tinggi, ketenaran, fans bejibun, dan reputasi yang bagus. Tapi bagaimana bisa, dirinya masih mengaku kosong atau hampa?

Demi mencapai kesuksesan dunia, terkadang banyak hal berharga yang kita tumbalkan. Kita sudah kehilangan quality time  dengan keluarga atau sahabat, tak memerhatikan gaya hidup yang sehat, terlalu larut dalam kompetisi atau rasa depresi, dsb. Namun kita bisa segera meluruskannya dengan cara kembali ke pelukan orang-orang tersayang, banyak membantu sesama, memperbaiki lifestyle yang kurang sehat, dsb.

#11. Ketika Kita Merasa Berjuang Sendirian

Setiap orang memiliki hak untuk berharap. Namun harapan besar itu biasanya harus disertai dengan usaha dan doa yang keras juga. Ada momen di mana orang-orang menganggap cita-cita atau impian kita terlampau sinting, alias ketinggian. Mereka mungkin tak menertawakan di depan, tapi kerap berbisik-bisik dari belakang, mengasihani diri kita yang memang menggantungkan mimpi di langit tertinggi.

Hal ini bisa jadi penyebab rasa down, tapi bisa juga justeru membuat pergerakan kita bagai roket. Hanya saja, kita harus ekstra sabar. Sebab, kita akan berjuang sendirian. Momen seperti ini pastinya cukup menyiksa, karena tak ada dukungan atau kepercayaan yang mengalir pada kita. Tapi kalau berhasil membuktikannya, sudah pasti kita akan merayakan kemenangan besar yang tak terlupakan.

#12. Ketika Kita Kembali Menguak Masalah atau Kenangan Pahit

Tak mudah bagi setiap orang untuk mengalihkan pikiran dari masalah, atau kenangan menyedihkan yang sempat terjadi di masa lalu. Misalnya dari suatu kecelakaan tragis, dari perceraian orang tua, dari sakit kronis yang sempat diidap, dari bencana besar, dsb. Jadinya begitu semua itu terungkap lagi, kita akan trauma. Perasaan yang dulu menyiksa bisa kembali berdatangan.

Baca Juga :  Kata-kata, Akronim dan Singkatan Gaul Populer di Dunia Maya + Contoh (Bagian 3)

Namun di saat bersamaan, ada hikmahnya kita bisa blak-blakkan mengerahkan apa yang mengendap dalam hati. Sebab, kita memang perlu untuk memberi tahu orang sekitar tentang apa yang dahulu pernah dialami dan masih menjadi isu sensitif. Tentu lama-lama ada kelegaan dan keringanan hati juga.

#13. Ketika Kita Ke Luar dari Zona Nyaman

Ke luar dari zona nyaman, berarti kita memasuki zona yang “enggak nyaman” dan “lain”. Misalnya kita sudah lama bekerja di tempat A. Rekan-rekan kerjanya sudah kenal, statusnya sudah tinggi, tempatnya sudah familiar, gajinya sudah lumayan, dan pokoknya lingkungan tersebut sudah menerima kita. Nyaman rasanya.

Namun karena suatu alasan kuat, misalnya karena tak tahan melihat praktik penipuan di sana, kita pun mengambil risiko untuk pindah tempat kerja. Teman, tempat, lingkungan, dan situasinya sangat baru. Kita seperti kembali ke titik nol. Pastinya sangat susah dan perlu waktu cukup lama untuk memeluk kenyamanan yang sempat dirasakan. Tapi momen itu menjadi titik yang tepat untuk memulai segalanya, agar lebih bermakna dan sesuai kata hati kita.

#14. Ketika Kita Jauh dari Agama dan Tuhan YME

Ada kalanya, jiwa kita kerap “bengong”. Kita memiliki keluarga harmonis, ekonomi stabil, dan hubungan sosial yang baik. Tapi kita masih saja merasa kurang dan tak utuh. kita masih saja was-was dalam hidup. Kita masih saja ingin terus mencari sesuatu untuk dijadikan sandaran ketenangan dan kedamaian… yang sejati.

Di tengah kebuntuan itu, kita bisa mengintrospeksi keadaan spiritual. Kita juga bisa menengok bagaimana sebenarnya hubungan dengan Sang Pencipta. Kapan terakhir kali beribadah? Kapan terakhir kali berdoa? Kapan terakhir kali mengucap syukur dan istighfar? Kapan terakhir kali mengingat-Nya? Kita harus kembali ke dalam rangkulan-Nya. Sebagai hamba, kita tak boleh asing di mata-Nya. Tujuan penciptaan kita memang untuk mengabdi, bukan menjadi makhluk yang pelupa pada Tuhannya. Sebanyak apapun tumpukan dunia, niscaya akan datang waktu untuk mengembalikannya. Dan, di ujung cerita, kita akan kembali ke pangkuan Tuhan YME.

~

Beginilah kita sebagai manusia. Ada seri dalam hidup yang membuat kita tiba-tiba merasa sepi, sedih, dan pokoknya baper. Namun kabar baiknya, kita termasuk beruntung jika menyadari semuanya sedari dini. Paling tidak, kita akan segera mencari cahaya untuk menerangi jiwa yang merasa hampa. Dan pada akhirnya, kita akan menyadari kalau selama ini… tak pernah benar-benar sendiri. 14 Momen Di Mana Kita Merasa Kesepian dan Hampa di Tengah Keramaian. #RD

You May Also Like

2 Comments

  1. Hehe… terima kasih banyak ya sudah membaca beberapa postingan blog ini. Daku juga memang tertarik sama dunia psikologi. Maklum, mau belajar ilmunya secara resmi tapi enggak kesampaian. Hehe. Terima kasih, sekali lagi. ^_^

Comments are closed.