Home » My Files » Kumpulan Artikel Menarik » 15 Ciri Orang yang Memposisikan Diri Sebagai “Korban Kehidupan”

15 Ciri Orang yang Memposisikan Diri Sebagai “Korban Kehidupan”

15 Ciri Orang yang Memposisikan Diri Sebagai “Korban Kehidupan”

korban, berkorban, memposisikan diri sebagai korban, korban kehidupan, korban perasaan

Via: mentalhealthcompanies.com

Akhir-akhir ini, di mana-mana terdengar kata “qurban” atau korban. Maklum sedang dalam momen idul adha, ya. Hehe… nah, daku jadi tertarik untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan korban.

Pernah mendengar istilah “seseorang yang memposisikan diri sebagai korban?” atau “seseorang dengan mentalitas para korban?”

Jadi ingat di masa kecil. Ketika anak kejedot pintu, ada orang tua yang malah menyuruh anaknya memukul pintu itu karena sudah dianggap “bandel dan menghalangi jalan melangkah”. Padahal bisa saja si anak sendiri yang kurang hati-hati.

Tanpa sadar, hal tersebut membuat kita ketagihan “untuk menyalahkan”, dan memposisikan diri sebagai “korban”. Bahkan bisa terbawa sampai dewasa. Ketika terlambat masuk sekolah, alarm hp yang tidak menyala karena lupa di-setting bisa jadi sasaran kemarahan. Ketika proyek pekerjaan gagal, kita langsung menyudutkan rekan kerja. Ketika rumah diguncang masalah, kita langsung memojokkan adik, kakak, atau orang tua. Demikian juga ketika tim sepak bola kesayangan harus kalah, kita langsung menunjuk wasit yang pilih kasih. Dan masih banyak lagi.

Intinya ketika bermain the victim card, kerapkali kita harus menuding sana-sini dan langsung memposisikan diri sebagai korban. Sehingga secara tidak langsung, kita sudah mengesampingkan atau menjauhkan orang-orang. Lalu apa tandanya? Jom!

#1. Gemar Mengasihani Diri Sendiri

Namanya juga korban, mereka seolah memiliki kebiasaan untuk menempatkan diri sebagai sosok yang malang. Apalagi kalau mereka tidak pandai bersyukur atau mengapresiasi orang, jadinya ada kecenderungan untuk terus memojokkan diri sebagai manusia yang buruk nasibnya. Padahal seseorang yang sangat beruntung sekalipun pernah mengalami beberapa kejadian kurang enak dalam hidupnya.

Baca Juga :  9 Warna Bunga dan Makna yang Terkandung Di Dalamnya

#2. Tidak Bertanggung-Jawab

Ciri klasik. Mereka memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain ketimbang dengan introspeksi pada peranan diri sendiri. Hal tersebut juga dilakukan sebagai upaya agar terhindar dari tanggung-jawab.

#3. Merasa Kurang dan Kurang

Ketika menganggur, mereka akan mengeluh karena tak punya kesibukan dan penghasilan. Ketika bekerja, mereka akan mengeluh karena gajinya sedikit atau lingkungannya begitu ketat. Ketika gajinya tinggi sekalipun, mereka akan mengeluh karena terlalu capek dan tak memiliki waktu untuk piknik. Lingkaran keluhan ini seperti tiada henti, yang membuat diri mereka selalu tak puas dan merasa kurang. Padahal kalau belajar untuk lebih bersyukur, berkah hidup itu pasti terasa.

#4. Senang Membanding-bandingkan

“Kapan bisa jadi Si Anu yang hidupnya mujur terus?”

“Kapan orang lain merasakan penderitaan ini?”

Dua contoh kalimat ini menjadi kebiasaan mereka. Sudut pandangnya sudah begitu, menganggap orang lain lebih beruntung dan dia jadi pihak yang tertindas.

#5. Kehidupannya Datar

Sudah terbentuk mental kalau mereka itu tak memiliki daya yang besar. Mereka juga cenderung tak memiliki optimisme hidup. Keadaan tersebut kadang disebabkan oleh ketidakpekaannya terhadap prestasi atau pencapaian.

#6. Cenderung Pendendam

Jika diperlukan, memori buruk bisa jadi senjata andalan mereka untuk menyerang. Sulit rasanya untuk “move on” dari kenangan buruk. Sehingga ketika berdebat atau apapun, mereka kerap mengungkit-ungkit rasa sakit atau kesedihan di masa lalu.

Baca Juga :  Kata-kata, Akronim dan Singkatan Gaul Populer di Dunia Maya (Bagian 15)

#7. Kurang Tegas atau Percaya Diri

Rasa pesimis membuat mereka terkurung dalam keadaan down. Sehingga timbul penurunan rasa pede. Demikian juga dengan perkembangan atau kendali hidupnya, yang tak bisa tegas mengandalkan diri sendiri.

korban, merasa jadi korban, victim card adalah, memposisikan diri sebagai korban, mental korban, korban kehidupan

Via: psychologyandi.com

#8. Sering Merasa Tidak Bisa

Sikap minder karena merasa tak mampu rasanya jadi sesuatu yang terus membayang-bayangi. Mereka kerap mengeluh dan meniadakan potensi diri sendiri. Cukup mengundang frustrasi.

#9. Tidak Percayaan

Menaruh kepercayaan memang tak mudah. Tetapi jadi masalah tersendiri jika kita sampai meragukan semua orang, menganggap mereka seluruhnya adalah pembohong. Karena itu kehidupannya sering diliputi dengan dugaan atau sangkaan.

#10. Kadang Tidak Tahu Batas

Mereka kadang tidak peka akan batasan-batasan tertentu yang dilakukan oleh diri sendiri. Ketika orang lain berbuat sesuatu dan melewati batas, mereka bisa langsung bereaksi. Sebaliknya ketika mereka sendiri yang melampaui batas itu, ada kecenderungan untuk mengabaikannya. Hal ini tentu sangat mengancam suatu hubungan yang sedang terjalin.

#11. Mudah Berdebat Secara Sengit

Kita semua senantiasa berbeda. Dan, perbedaan seringkali menciptakan perdebatan. Namun bagi mereka, semua adu argumen itu ibarat peperangan keras yang harus dimenangkan. Apalagi kalau mereka sudah tersinggung, dirinya yang sensitif akan sangat reaktif.

#12. Kritikus Pedas

Ada kepuasan tersendiri bagi orang yang memposisikan diri sebagai korban untuk mencari kesalahan orang, dan bahkan menjatuhkannya. Ada sensasi superior yang bisa dirasakan ketika melihat orang lain malu atau marah ketika kesalahannya dibongkar atau dikritik secara blak-blakan. Mereka sendiri jadi cukup pede sebab sudah bisa mengkritik dengan cara demikian.

Baca Juga :  12 Manfaat atau Keistimewaan Jika Hobi Bicara dengan Diri Sendiri

#13. Merasa Sempurna

Mereka menempatkan diri sebagai korban, dan menganggap yang lain bertanggung jawab atas semuanya. Mereka seperti memulas diri dengan keadaan itu, bahwa yang lainlah yang salah atau “cacat”, mereka tidak. Hal ini semakin menggambarkan sifat narsis dan arogan juga.

#14. “Mengeliminasi” Orang-orang

Poin yang satu ini sudah cukup emosional. Mereka awalnya akan dengan senang hati “mengusir” atau menjauhkan orang-orang. Padahal keputusan itu bukan satu-satunya solusi untuk memecahkan konflik yang ada. Yang ada, teman-teman atau orang yang peduli pada mereka bisa terus berkurang. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin mereka akan merasa rindu atau kehilangan.

#15. Tidak Bersyukur Pada yang Kuasa

“Kenapa selalu daku yang ditimpa kesusahan?”

“Kenapa hidupku tak pernah bahagia?”

“Kacamata” mereka sepertinya didesain untuk melihat hal-hal negatif dalam hidup. Ketika ditimpa kesusahan, mereka mengutuk atau menuding pihak lain yang dianggap bersalah. Ketika mendapat keberuntungan pun, selalu ada saja sisi yang dikeluhkan. Mereka seolah lupa akan campur tangan-Nya selama ini.

~

Tepat di momen idul adha ini, kita belajar banyak dari para hewan kurban. Khususnya tentang keikhlasan. Entah apa jadinya kalau mereka memiliki “mental sebagai korban”. Mungkin hewan-hewan itu tak memiliki optimisme sama-sekali. Mereka akan murung, sakit, enggan makan, dsb. Hehe…

Selamat merayakan Idul Adha 1437H bagi yang merayakan, ya. Dan demikianlah, 15 Ciri Orang yang Memposisikan Diri Sebagai “Korban Kehidupan”. #RD

error: