Home » My Files » Diary Tentang Menulis atau Blogging » 16 Suka Duka Menjadi Seorang Freelance Writer atau Penulis Lepas

16 Suka Duka Menjadi Seorang Freelance Writer atau Penulis Lepas

16 Suka Duka Menjadi Seorang Freelance Writer atau Penulis Lepas

penulis lepas adalah, freelance writer adalah, suka duka penulis lepas, suka duka freelance writer, positif dan negatif penulis lepas

Via: lifehack.org [flipped]

Enak ya jadi freelance writer atau penulis lepas?

Kerjaannya lentur banget. Waktunya enggak ada yang ngatur. Mau pagi-pagi buta, rada siangan, sore-sore, atau bahkan larut malam. Terserah.

Enggak ada bos yang mengawasi, lagi. Serasa jadi majikan buat diri sendiri. Tanpa ada yang nyuruh-nyuruh atau mencak-mencak pas lagi malas kerja.

Enggak perlu ke luar rumah juga. Tinggal mijit-mijit keyboard di kamar atau WC, mungkin. “Seragamnya” juga bebas, enggak ada yang ngatur. Mau pake kaus, kolor, piyama, kostum adat, bahkan enggak pake apa-apa juga jadi. Terus enggak sampai bercucuran keringat. Tubuh dijamin utuh.

Eh…. mana dibayar lagi!? Enak bener!

~

penulis dibayar, bayaran penulis lepas, gaji penulis, bayaran freelance writer

Via: you-and-them.com

Hehehe…

Pembukaan postingan ini memang benar adanya ya, Bro-Sist. Begitulah gambaran dari seorang penulis lepas. Mereka bisa jadi memanfaatkan hobi sekaligus skill untuk menulis artikel di blog lain, cerpen di media, novel di penerbit, menulis profil perusahaan, iklan, berita, dsb. Tetapi mereka “tidak dimiliki” atau berada di bawah naungan pihak lain. Namanya juga freelance, mereka bebas lepas.

Orang-orang pun banyak yang menginginkan profesi ini. Lebih lagi, penulis lepas tak akan mengusik pekerjaan utama kita. Mau dokter, sopir becak, pengacara, penyedia kredit barang, dsb, semua bisa nyambi sebagai freelance writer.

TAPI…

Tentu saja segala sesuatu juga memiliki dua sisi. Ya sukanya, ya dukanya. Termasuk sebagai penulis lepas. Nah sekarang daku akan membahas kedua sisi tersebut? Yang mana dulu, ya?

Baik, sisi sukanya dulu, ya. Jom!

penulis lepas, menjadi penulis lepas, lowongan penulis lepas, penghasilan penulis lepas, cerita penulis lepas, kisah freelance writer

Via: lifeadvancer.com

#1. Jadi Bos

Kita yang mengatur, memutuskan, sekaligus bertanggung-jawab. Mau mulai kerja jam 7, 10, 13, atau 17 sekalipun terserah. Mau istirahat setengah jam atau setengah hari juga bebas. Yang penting tugas atau prioritas utama kita tetap terlaksana. Tak perlu meminta persetujuan dari pihak lain. Kita yang menetapkannya.

#2. Waktunya Fleksibel

Seorang guru tak bisa menghadiri pesta pernikahan pagi hari lantaran ia harus masuk sekolah. Seorang perawat tak bisa menyaksikan konser malam lantaran tengah terikat shift malam. Tetapi penulis lepas sedikit lain. Ia bisa menentukan waktunya sendiri. Kalau tak bisa kerja pagi, siang pun jadi. Kalau siang terlalu mengantuk, malam bisa jadi pilihan.

#3. Tempat Kerjanya Di mana Saja

“Kantor”-nya enggak memiliki alamat yang jelas dan menetap. Kita mungkin seringnya bekerja di kamar atau ruangan khusus untuk menulis. Namun tak jadi masalah juga jika sesekali pengin menulis di ruang terbuka, warung kopi atau kafe, perpustakaan, dsb. Tak banyak perlengkapan yang diangkut. Tinggal diri sendiri, perlengkapan menulis (laptop atau netbook), serta smartphone  dan koneksi internet, kalau-kalau kita pengin browsing atau berinteraksi dengan klien.

Baca Juga :  Tugas Menulis Cerpen Dengan Tema Religius atau Agamis

#4. Berwarna

Semakin kita terjun di dunia penulis lepas, semakin luas pengalaman yang bisa dirasakan. Di satu waktu, kita bisa berurusan dengan klien yang cool, lalu yang agak rewel, yang fun, dsb. Beragamnya klien membuat kita berpeluang untuk menggali aneka gaya menulis. Ada yang pengin resmi, ada yang ringan, ada yang bebas, dsb. Demikian juga dengan tema menulisnya yang beragam. Sekali waktu tentang tanaman, lalu tentang hiburan, tentang bisnis, dsb. Tanpa terasa, skill dan wawasan kita akan bertambah atau terasah dengan sendirinya.

keuntungan jadi penulis lepas, keuntungan freelance writer, enaknya jadi penulis lepas

Via: udemy.com

#5. Aman, Nyaman, dan Terjamin

Ada orang yang takut bekerja lepas lantaran merasa sifatnya yang tak pasti. Mending bekerja tetap, sehingga gajinya tetap juga. Hal ini memang wajar adanya. Apalagi kalau kita baru menginjak dunia pekerjaan ini. Namun jika sudah memiliki kapasitas, karakteristik, dan branding tersendiri, klien bisa bertahan bahkan bertambah.

Kita pun tak lagi tergantung pada satu rekan kerja, melainkan memiliki celah yang semakin banyak. Sehingga ada saja job atau proyek yang ditangani. Lagipula pengeluarannya cukup ramah. Mungkin sekadar listrik atau setrum, koneksi internet, makanan, dsb. Bahkan kita pun akan mengenal yang namanya deadline, sehingga proses kerjanya terkesan lebih profesional. Jika pundi-pundinya sudah banyak, tak menutup kemungkinan kita bisa memanfaatkannya sebagai modal usaha atau berbisnis lainnya.

#6. Lebih Gesit, Tangkas, dan Update

Industri atau pasar apapun berubah secara konstan atau dinamis. Termasuk juga dunia penulis lepas zaman sekarang. Kedekatan dengan dunia maya atau internet membuat kita lebih tahu perkembangannya. Tak menutup kemungkinan kalau kita pun akan ikut andil dalam usaha e-commerce, blogging, proyek lain, atau juga klien yang lebih luas.

#7. Sarana Belajar yang Fun

Menjadi freelance writer bukan berarti menghabiskan seluruh waktu kita untuk menulis dan menulis. Kita juga akan terdorong untuk membaca, menonton video, mendengar, memerhatikan trend media sosial, menyerap segenap informasi, dll. Semua itu bisa digunakan sebagai referensi atau bahan untuk memperkaya tulisan sendiri. Secara tidak langsung, kita sudah belajar banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Kosa kata bertambah, pengetahuan meningkat, kenalan semakin banyak, lebih kreatif, dsb.

Baca Juga :  8 Kriteria Blogger Keren, Tidak Percaya  Kalau Mereka Sudah Sempurna
gaya hidup penulis lepas, lifestyle freelance writer, penghasilan penulis lepas, penulis lepas asyik

Via: lucaspassa.com

#8. Peluangnya Banyak

Bersyukur sekali bagi mereka yang dikaruniai rasa suka serta kemampuan untuk menulis atau merangkai kata. Skill berbahasa yang dicap sulit ini memang profitable, alias bisa mengundang keuntungan. Apalagi belakangan ini kebutuhan untuk para penulis semakin banyak. Orang-orang mencari para penulis skenario, content writer, kolom berita atau reportase, karya fiksi, dsb.

#9. Kemungkinan untuk Berkembang

Banyak sekali kisah penulis yang awalnya membuat berbagai novel, lalu menyebarkannya ke penerbit-penerbit dengan harapan agar karyanya rilis. Sebagian malah mendapat kontrak dengan penerbit. Belum lagi kalau karyanya best seller, tentu bisa dijadikan film. Sang penulis sendiri bisa diundang menjadi pembicara atau motivator di berbagai acara. Demikian juga dengan penulis lain, yang memiliki kesempatan untuk berkembang.

#10. Merasa Utuh; Melakoni Apa yang Kita Cintai

Poin ini memang tak ternilai harganya. Kita menjalankan hobi sekaligus mendapat bayaran dari hobi tersebut. Biasanya freelance writer yang betah untuk bertahan memiliki kekuatan berupa passion. Perjuangannya pun semakin terbantu. Apalagi kalau kita tak mempermasalahkan karier brilian, status tinggi, gaji stagnant, atau penghormatan masyarakat. Yang penting kita bekerja sesuai panggilan hati saja.

~

Selesai sudah daku menuliskan sisi-sisi indah dari freelance writer. Kita harus adil dengan menyertakan fakta lapangan yang ada juga. Nah berikut ini kesulitan atau kenyataan pahit yang dihadapi oleh penulis lepas. Jom!

kesulitan penulis lepas, tantangan freelance writer, kisah penulis lepas, cerita freelance writer, awal penulis lepas

Via: d36ai2hkxl16us.cloudfront.net

#1. Awal yang Terjal

Di awal sudah dibeberkan bagaimana menggodanya pekerjaan lepas ini. Karena itu, banyak yang berbondong-bondong pengin menjadi freelance writer juga. Otomatis pesaing kita amat sangat banyak. Sayang sekali, jarang ada jalan pintas yang bisa dilintasi. Kita harus menjalani serangkaian perjuangan yang membentang. Mulai dari mencari kesempatan kerja, menawarkan diri, nego harga, terus belajar menulis, mendapat fee yang mungkin rendah, dsb.

#2. Datar dan Tak Menentu

Para entrepreneur kerap kali mendesain target yang mengagumkan. Yang tadinya punya satu restoran, bisa bermimpi untuk memiliki cabang di tiap tempat. Lalu seorang pegawai, yang bermimpi naik jabatan dan mengantongi banyak uang. Intinya banyak profesi yang sudah memiliki jalan kesuksesannya tersendiri. Tetapi hal ini sedikit sulit bagi para penulis lepas, khususnya yang berjalan di tempat. Pergerakannya hanya di situ-situ saja. Hanya menulis, lalu dibayar. Sudah. Karenanya, kita harus berjuang lebih keras dan lebih peka lagi, agar misinya jelas dan berkembang.

Baca Juga :  Duet Menulis Cerpen Romantis

#3. Tak Ada “Penolong Dadakan”

Hidup memang tak terprediksi. Naudzubillaah… tapi mungkin saja kita tiba-tiba jatuh sakit, kehilangan, kecelakaan, dsb. Di saat seperti itu, orang lain bisa menggadaikan SK atau memanfaatkan kartu pelayanan kesehatan yang disediakan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka juga bisa memeroleh izin untuk tidak bekerja. Sementara penulis lepas tak memilikinya. Draft tulisan musti diselesaikan sendiri. Demikian juga dengan urusan biayanya. Oleh karena itu, beruntunglah mereka yang memeroleh sandaran berupa klien yang super baik.

suka duka penulis, suka duka penulis lepas, waktu freelance writer, waktu penulis lepas

Via: elegantthemes.com

#4. Susahnya untuk Seimbang dan Terorganisir

Penulis lepas bukanlah pekerja yang jam kerjanya ditentukan, misalnya datang jam 8 dan pulang jam 4. Kita tak terbiasa dengan sistem tersebut. Semuanya kita sendiri yang mengatur. Asyik, memang. Namun di saat yang sama, kadang kita semakin larut dalam kebiasaan yang tidak terorganisir. Tak jelas lagi kapan waktu bekerja, dan kapan waktu untuk rileks.

Keadaan bisa semakin sulit apabila kita mendapatkan pekerjaan tetap, yang segala sesuatunya sudah terjadwal. Penyesuaian dirinya bisa sedikit rumit. Kecuali kalau kita sudah ditempa menjadi penulis lepas dalam waktu lama.

#5. Kurang Familiar Di Masyarakat

Banyak penulis lepas yang kurang nyaman ketika ditanya, “Pekerjaanmu apa?”. Hal tersebut bukan dikarenakan pekerjaan ini memalukan atau apa. Semuanya lebih karena… asingnya masyakarat kita dengan profesi ini. Tak ada status atau pangkat, tak ada bayaran tetap, tak ada alamat tempat kerja yang jelas, tak ada majikan, dsb. Tetapi poin ini tak akan jadi masalah besar apabila kita bukan tipikal orang yang memerdulikan pendapat atau perkataan orang lain.

#6. Sepi

Ketika bekerja, orang lain memiliki tim atau rekan kerjanya sendiri. Sambil menjalankan kewajiban, istirahat, atau pulang bareng, mereka berinteraksi dan menjaga diskusi pekerjaannya. Well, sebenarnya penulis lepas juga punya kolega kerja. Kita bisa hang out juga. Namun sudah bawaannya “menulis”, profesi ini memang sepi juga. Tak ada tim, atau orang yang mengintervensi ide dan gaya kepenulisan kita.

Intinya… mata pencaharian sebagai freelance writer memang gampang-gampang susah. Keren, enggak keren. Namun kita harus bertanya dulu pada diri sendiri; kita memiliki passion menulis atau tidak? Ataukah kita hanya mengejar enaknya saja? jika demikian, hanya ingin sukanya saja, barangkali penulis lepas bukanlah karier yang tepat. Demikian, 16 Suka Duka Menjadi Seorang Freelance Writer atau Penulis Lepas. #RD

error: