16 Tanda-tanda Kalau Kita dan Pekerjaan yang Sekarang Sudah Saling Cocok

16 Tanda-tanda Kalau Kita dan Pekerjaan yang Sekarang Sudah Saling Cocok

pekerjaan, pekerjaan yang cocok, tanda pekerjaan tidak cocok, tidak cocok dengan pekerjaan, pekerjaan tidak sesuai passion, merasa tidak cocok dengan pekerjaan, tanda tidak cocok dengan pekerjaan, pekerjaan yang cocok dengan kepribadian, tidak nyaman dengan pekerjaan
By: Steph Dillon via IG: @deeannrose

Kerja di mana? Sibuk apa? Ke mana saja, nih?

Berbagai pertanyaan senada sejatinya mengacu pada satu hal; menanyakan pekerjaan. Daku agak baper juga kalau sudah membicarakan topik yang satu ini. Teman-teman yang lain sudah melanglang buana, berada di bawah perusahaan atau intansi tertentu, jadwal kerjanya jelas dari jam berapa sampai berapa, seragamnya sudah ditentukan, gaji sudah mantap, dsb. Lha, daku?

Beberapa jawaban yang sering menjadi andalan hanyalah… ngajar di lembaga kursus, membantu kios orang tua, atau kalau sudah muak, ya… bilang tidur saja di rumah. Jarang daku jelaskan mengenai blog atau job menulis. Hobi sekaligus sumber pendapatan ini kadang hanya disampaikan pada orang-orang tertentu saja. Hehe…

Pekerjaan atau profesi menjadi salah-satu unsur penting dalam hidup. Banyak orang yang stress karena pekerjaan. Banyak juga yang justeru menemukan kebahagiaan dari pekerjaan. Tak jarang, banyak orang yang kita pandang sudah mendapat pekerjaan enak, tapi ternyata suka berkeluh-kesah. Mereka merasa sangat jenuh, menderita, frustasi, dsb. Pokoknya tidak menikmati. Sebaliknya, banyak juga yang pekerjaannya biasa-biasa saja, tapi ia melakoninya dengan ringan hati.

Kamu termasuk yang mana? Apa tanda atau ciri-ciri kalau kita dan pekerjaan sudah saling cocok? Jom!

  1. Ya Kerjaan, Ya Hobi

“Pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar,” begitu menurut Pak Ridwan Kamil. Jadi, seyogyanya kita bersyukur jika sumber penghasilan yang sedang dilakoni sekarang merupakan sesuatu yang kita minati. Anugerah besar jika orang yang hobi melukis menjadi pelukis, yang suka mengajar jadi guru, yang suka masak jadi koki, dsb.

  1. Bekerja, Tapi Kita Bisa Menjadi Diri Sendiri

Pura-pura menjadi aktivitas yang sangat melelahkan. Begitu juga ketika kita bekerja, namun mesti “menyembunyikan” diri sendiri. Tetapi hal ini mungkin tak akan menjelma menjadi masalah besar jika kita masih bisa mentolerirnya.

  1. Merasa Bangga dan Percaya Diri dengan Pekerjaan Sendiri

Selalu mengeluh dan merendahkan pekerjaan membuat energi kita terkuras sendiri. Kita jadi tak peka atau kurang apresiasi. Yang ada… kita mempertahankan pekerjaan, tapi ogah-ogahan. Apa yang dilakoni hanya karena “terpaksa, tidak ada kerjaan lain lagi”. Kontras hasilnya jika kita begitu pédé memangku pekerjaan tersebut.

  1. Honornya Cocok

Uang itu ndak bisa beli kebahagiaan. Iya, tapi kalau upah atas pekerjaan yang kita sukai itu terlampau kecil, hal ini bisa jadi problem rumit di kemudian hari. Bicara jumlah memang relatif. Ada yang yang masih manyun menerima 100 ribu per bulan, ada juga yang sudah merasa cukup dengan 1M per bulan :D. Namun kalau yang sekarang sudah dirasa “pantas”, tentu kita patut mensyukuri, mempertahankan, dan bekerja sebaik mungkin, ya?!

  1. Waktunya Cocok

Sehari bekerja berapa jam? Waktunya fleksibel apa benar-benar terikat? Waktunya pagi, siang, atau malam? Tiap orang yang sudah sibuk bekerja tentu memiliki jam produktif yang berbeda-beda. Kapanpun itu, kita mesti memastikan kalau waktunya masih bisa dimaklumi. Baiknya sih… kita masih memiliki waktu untuk diri sendiri dan orang sekitar, tidak diserap sepenuhnya oleh pekerjaan.

  1. Rekan atau Kolega Kerjanya Cocok

Faktor lain yang begitu menentukan datang dari teman bekerja. Tak jarang ada orang yang begitu terganggu ketika bekerja, bukan karena pekerjaannya, melainkan karena partner-nya. Kita bisa introspeksi sendiri. Terkadang mereka memang annoying, namun kalau lebih banyak ngasyikinnya, tentu kita patut berterima-kasih atas nasib baik tersebut.

  1. Tidak Menjadi Sumber Depresi di Pagi Hari

Begitu membuka mata, apa yang biasanya terlintas selain gadget? Hehe… kita patut bersyukur kalau merasa begitu termotivasi karena sudah bekerja, dan mendapat pekerjaan yang tidak menjadi sumber depresi. Paling tidak, pekerjaan tersebut menjadi salah-satu hal yang mendorong kita untuk tetap bertahan dan memberi performa terbaik.

  1. Senang Membicarakan Pekerjaan Sendiri

Satu dari sekian tanda kalau seseorang dan pekerjaannya sudah saling cocok adalah semangatnya ketika membicarakan topik ini. Tentang bagaimana cara kita mendapatkannya, tentang kerennya profesi tersebut, tentang kecintaan kita ketika melakoninya, dsb. Ada kalanya kita memang mesti terbuka terkait job apa yang selama ini digeluti, khususnya pada keluarga, teman, pasangan, dsb.

  1. Jarang Tengok-Tengok Jam

Sering lirik-lirik jarum jam? Sebenarnya makna gesture ini cukup ambigu. Ada yang memang kesal dan pengin cepat selesai. Ada juga yang takjub, sebab selalu merasa waktu melayang dengan cepat. Namun kalau yang kedua itu frekuensinya cukup jarang. Sudah lima jam bekerja, cek jam, dan agak terkejut sebab jam pulang ternyata ada di hadapan. Ini jadi pertanda betapa enjoy-nya kita atas apa yang sedang dikerjakan.

  1. Memandang Aneh Terhadap Mereka yang Membenci Pekerjaannya Sendiri

Sangat banyak orang yang sudah bekerja, tapi banyak juga yang membenci pekerjaannya. Kalau kita tidak dalam posisi itu, tentunya mesti bersyukur. Apalagi kalau kita tak habis pikir, kok ada yang benci pekerjaan sendiri?

  1. Bos atau Atasan Kita adalah Seorang Pemimpin

Poin ini berlaku jika kita bekerja di tempat yang struktural, terorganisir, hierarki, atau apalah namanya. Ada posisi A, B, dan C. Kalau kebetulan memiliki atasan, kita bisa renungi apa dia termasuk sumber yang bikin mood memburuk atau tidak. Bos atau atasan tak selamanya berjiwa leader atau pemimpin, sehingga ada yang terkesan menyebalkan. Beda lagi jika ia memang mampu mengarahkan semua bawahannya dengan baik dan asyik.

  1. Kita Memiliki Peluang untuk Tumbuh Berkembang

Posisi bisa naik, penghasilan/ gaji bisa merangkak, skill bisa menanjak, dsb, bisa menjadi motivasi tersendiri bagi kita untuk bertahan atas pekerjaan yang sedang diseriusi. Kadang ada orang yang begitu lemas membicarakan pekerjaannya, sebab ia terasa sudah stuck atau terperangkap. Rasanya pekerjaan tersebut tak memberinya kesempatan untuk berkembang dari segi manapun. Kita bisa tengok kesibukan yang sekarang, segera fokus mencintainya ketimbang membencinya, kalau-kalau job tersebut membuat kita ikut berkembang.

  1. Mencintai Job atau Tugas yang Dikerjakan

Cinta selalu tampil menjadi senjata yang kuat dalam menghadapi apapun, termasuk juga pekerjaan. Kita mungkin tak bisa memahami, ada orang yang bekerja dari pagi buta sampai tengah malam dengan gaji sedikit, tapi orang tersebut nampak bahagia menjalankannya. Banyak lagi contoh keadaan (yang kita anggap) buruk, yang mampu dihadapi dengan efektif oleh kecintaan seseorang. Bisa dibilang, rasa cinta atas pekerjaan itu adalah modal yang bagus untuk ke depannya. Kita jadi lebih fokus pada sisi positifnya ketimbang segala kekurangannya.

  1. Weekday dan Weekend itu Sama Saja

Seringkali kita perhatikan betapa lesunya para pekerja begitu menghadapi akhir dari Hari Minggu. Mereka juga tak segan-segan menampakkan kekecewaannya terhadap Senin pagi yang tiba dengan begitu cepat. Tapi jika kita tidak begitu, itu ciri bahwa pekerjaan yang tengah disandang tidak membedakan “cita-rasa” wikdey atau wiken. Kita patut mensyukuri anugerah yang nampak sepele namun sebenarnya besar itu.

  1. Tidak Merasa Tertekan oleh Pekerjaan

Namanya juga pekerjaan, pastinya ada setumpuk kewajiban yang mesti ditunaikan. Tapi kita mesti terus mengapresiasi pekerjaan tersebut jika keberadaannya tidak terlalu menekan. Kita tidak seperti sedang perang tiap hari, yang berusaha terlalu kencang seolah-olah hidup dan mati ada di genggaman pekerjaan.

  1. Lebih Mengundang Rasa Syukur Ketimbang Umpatan

Hidup selalu memberikan opsi solusi berupa sabar dan syukur. Bersabar kalau kita menghadapi sesuatu yang tak dikehendaki, dan sebaliknya bersyukur kalau apa yang didapatkan itu memang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan. Jika job yang sekarang kita geluti lebih sering mengundang rasa syukur, tentu kita mesti menambah ungkapan rasa terima kasihnya. Setidaknya kita terhindar dari mengeluhkan atau mengumpat pekerjaan sendiri.

Segala Puji bagi Allah Swt, yang sudah mengatur rezeki semua umat dan makhluknya.

Jika kita dan pekerjaan sudah saling cocok, tak ada sikap yang lebih bijak ketimbang mensyukurinya. Sebaliknya jika kita dan pekerjaan dirasa kurang matching, kita bisa belajar lebih fokus pada sisi positif ketimbang negatifnya. Atau, kita juga masih bisa mengusahakan pekerjaan yang lebih baik. Semoga Allah Swt selalu dilibatkan dalam segala rencana dan niatan baik apapun. 16 Tanda-tanda Kalau Kita dan Pekerjaan yang Sekarang Sudah Saling Cocok. #RD

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: