Ekspektasi Keluarga Versus Pilihan Hidup Diri Sendiri

Posted on
ekspektasi keluarga, pilihan orang tua atau pilihan sendiri, kuliah dipaksa orang tua, pilihan sendiri atau orang tua, keluarga ikut campur
Image via: pixabay.com

Dari lahir sampai sekarang, siapa yang bisa bebas memutuskan tanpa intervensi keluarga?

Daku termasuk ‘anak penurut’. Tetapi karena tidak konsisten nurut, jadinya ada beberapa momen di mana daku justru membangkang. Tapi tidak semuanya membuatku merasa bersalah, kok.

~

Daku pernah berpikir sampai pusing. Apakah kita lebih aman jika terus manut terhadap harapan keluarga?

Sebab, memutuskan sesuatu itu kadang sangat rumit. Apalagi di usia muda. Ada ketakutan jika kita salah memilih sekolah, keliru dalam karier, tidak tepat memilih pasangan, dsb.

Tetapi semua itu kelihatan ‘lebih ringan’ bila keluarga ada di belakang. Setidaknya, keputusan kita bercampur dengan keputusan mereka. Akibatnya pun seakan ditanggung bersama.

Hal ini daku rasakan ketika ‘menyerahkan mimpi’ untuk sekolah di jurusan Psikologi, dan bersedia didikte untuk kuliah di fakultas pendidikan universitas swasta. Ada rasa enjoy tersendiri ketika menjalaninya, karena keluarga merestui 100%. Ketika ada halangan ini-itu, mereka juga ikut membantu.

~

Atau, apakah kita harus memberanikan diri untuk memutuskan tanpa campur tangan keluarga?

Momen ini juga pernah daku rasakan.

Daku rasa kakakku kecewa berat karena ‘ilmu kuliah’ tidak dipakai di ‘jalur’ yang semestinya. Beliau selalu membanding-bandingkan daku dengan teman-teman yang sudah mengenakan seragam, tersebar di berbagai sekolah, mendapat status sosial di masyarakat, dan dipanggil ‘Pak’ atau ‘Ibu’. Hasratku untuk itu seperti kendor. Daku memilih untuk menulis dan sedikit berbisnis. Serabutan saja.

Baca Juga: 11 Cara atau Tips agar Tak Merasa Menjadi Penulis Gagal dan Mengenaskan

Mungkin dakunya yang cukup sensitif atau apa, namun keluargaku seperti memandang sebelah mata atas keputusanku itu. Apalagi ketika daku masih bolak-balik warnet, mendapat kiriman buku atau benda lain (mereka sering mencibir kalau kirimannya bukan uang), memendam diri untuk tidak membeli smartphone Android dulu, dsb.

Untung besarnya, ibuku yang single parent termasuk sosok yang cool. Beliau menyerahkan semuanya padaku.

Namun entah kenapa, ‘penyerahan kedaulatan’ itu justru bikin daku sangat terbebani. Daku seakan perlu membuktikan kalau pilihanku, yang tak sesuai dengan dambaan keluarga itu, sama-sama bertujuan baik. Hasilnya juga bisa lebih baik. Dan perlahan namun pasti, daku bisa membantu beliau. Itu pun berkat bantuan orang-orang yang memiliki passion senada.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ketika Kecewa, Kenyataan Tidak Sesuai dengan Harapan

~

Tidak, postingan ini semestinya tidak membuat kamu jadi membenci keluarga.

Apa pun itu, daku tetap mencintai keluarga. Namun daku bangga juga karena sudah pernah ‘memberontak’ dari cengkeraman mereka. Semuanya kembali pada mereka, apakah tetap menerima dan menyayangiku juga, sekali pun pilihanku bukanlah pilihan mereka.

Well, mempertahankan pilihan sendiri di tengah kecaman orang-orang yang kamu cintai itu sungguh sangat sulit. Sebab, di saat itulah kamu sebenarnya sedang butuh dukungan total. Maka beruntung sekali jika ada orang-orang, yang bahkan tidak memiliki keterkaitan keluarga, yang justru hadir untuk menguatkanmu. Ekspektasi Keluarga Versus Pilihan Hidup Diri Sendiri. #RD

4 thoughts on “Ekspektasi Keluarga Versus Pilihan Hidup Diri Sendiri

  1. aku selzlu menyerzhkzn keputusan apapun pada anakku , aku ahnya kasih saran saja, biar anak yg menentukan, dan apa yg diputuskannya selama baik akan aku dukung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.