Home My Files Diary Tentang Anak Broken Home 14 Efek Negatif yang Kemungkinan Besar Dirasakan Anak Broken Home

14 Efek Negatif yang Kemungkinan Besar Dirasakan Anak Broken Home

4
SHARE
efek negatif broken home, dampak broken home, ciri anak broken home, dampak broken home menurut para ahli, dampak broken home pada remaja, kondisi psikologis anak broken home
Image via: videoblocks.com

Setiap orang mendambakan pasangan impian dan hidup bahagia selama-lamanya. Itulah skenario idealnya. Namun kehidupan memang bukan teks dongeng.

Ada sih yang bisa menikah dengan pujaan hatinya, memiliki keturunan, menikmati kemapanan, dsb. Namun mereka pun tak akan luput dari kesedihan, rasa kecewa, amarah, dan segenap emosi negatif lain. Hanya saja, mereka bisa mempertahankan kebersamaan di waktu yang sangat panjang.

Ada lagi yang terpaksa mengambil jalan berupa perceraian. Solusi paling ujung ini terkadang menjadi yang terbaik dan mengandung banyak hikmah bagi semua pihak. Namun orang tua jangan sampai abai terhadap dampak perceraian bagi anak.

Banyak pengaruh negatif yang bisa dirasakan anak, bahkan sampai mereka tumbuh dewasa. Hal ini sempat diuraikan via Babygaga.com. Seperti apa sih? Jom!

  1. Masalah Kesehatan

Rata-rata problemnya tak jauh dari kesehatan mental atau yang berkaitan dengan psikologis. Anak broken home jadi emosional, stres, sering merasakan sakit kepala, dan bahkan asthma. Kalau sampai mengganggu aktivitas, tentu bantuan dokter harus segera dikerahkan.

  1. Rasa Malu Berlebih dan Kurangnya Skill Bersosialisasi

Kenyamanan dan rasa percaya diri langsung terusik begitu orang tua bercerai. Perpisahan orang tua, bagi sebagian orang, terasa menjadi momen tragis paling drastis. Rasanya kamu itu ingin bersembunyi saja ‘di dalam cangkang’ berupa rumah atau kamar. Malu sekali untuk bertemu apalagi berinteraksi dengan manusia lainnya.

  1. Tidak Percaya Diri

Karena rasa malunya sudah berlebihan, otomatis kepercayaan dirimu juga anjlok. Kondisi ini tentu enggak asyik. Kamu seakan ikut menyalahkan diri sendiri atas perceraian yang terjadi. Kamu sadar ada yang ‘tidak beres’ dengan keluargamu. Kamu berbeda, sehingga kamu tidak percaya diri untuk aktif di sekolah, ikut perlombaan, apalagi sampai tampil di atas panggung.

  1. Takut dan Cemas Berlebihan (Kadang Irasional)

Merasa was-was dan takut pada segala sesuatu, bahkan yang dianggap sepele sekali pun, tentu sangat menyiksa. Orang lain, yang jelas-jelas tak merasakan, mungkin akan memandangnya sebagai sesuatu yang lebay. Namun kondisi ini memang nyata dan berdampak terhadap kehidupan seseorang. Kalau dirasa sudah parah, boleh jadi kamu memerlukan terapi atau konseling tersendiri.

  1. Depresi

Salah-satu gangguan kesehatan mental ini memang tak bisa diabaikan. Depresi bisa mengeruhkan mood, perasaan, pikiran, bahkan aktivitas sehari-hari. Hal ini terlihat dari caramu berinteraksi, negative thinking, memendam banyak hal, dsb, yang terus menjadi bom waktu dan bisa meledak kapan saja.

Baca Juga: 12 Ilustrasi tentang Depresi dan Kandungan Makna Di Dalamnya

kondisi psikologis anak broken home, dampak broken home pada remaja, ciri anak broken home, dampak broken home menurut para ahli, cara mengatasi anak yang broken home, dampak negatif broken home
Image via: verywell.com
  1. Kepikiran untuk Bunuh Diri

Poin yang satu ini memang ekstrem. Tidak semua anak broken home nekad untuk bunuh diri. Namun kemungkinan itu selalu ada. Karena merasa sia-sia, tak utuh, dan tak bahagia, pikiran untuk mengakhiri hidup kerap terlintas.

Perlu ‘pagar kuat’ untuk menghalau pikiran mengerikan ini. Baik itu dengan memahami serta mengamalkan ilmu agama, pengendalian diri, menjaga komunikasi, mengekspresikan perasaan, dsb. Semua ini bisa menjadi penangkal jitu, bahkan sebelum pihak profesional berperan.

  1. Prestasi/ Pengembangan Akademik

Ketika kamu menjadi anak broken home dalam keadaan masih sekolah, bukan tak mungkin konsentrasimu akan terganggu. Bagaimana pun, terlalu banyak hal yang masuk dalam pikiran. Akibatnya bisa berupa nilai yang anjlok, kepatuhan menurun, mudah tersulut amarah sehingga kerap berselisih dengan kawan-kawan,  dsb.

Di satu sisi, keadaan goncang ini memang bisa dimaklumi. Namun di sisi lain, tetap saja perlu usaha untuk mengembalikan segala sesuatu sesuai treknya. Kamu harus berkonsultasi, atau berteman dengan sosok yang saling support.

  1. Tidak Mudah Percaya

Dua orang dewasa yang terpercaya di dunia malah berpisah, menghancurkan kepercayaanmu bahwa keduanya akan tetap bahagia bersama selamanya. Tak ayal kalau rasa percayamu jadi tergerus. Kamu jadi skeptis pada segala janji dan impian manis.

Kamu jadi ikut ragu dengan hubungan antara murid dan guru, sahabat dengan sahabat, atau kekasih dengan kekasih. Segala ketidaksetiaan atau pengkhianatan ada di hadapan semakin menambah keraguan. Tetapi begitu menemukan figur yang terpercaya, kamu akan mulai percaya, ‘oh cinta sejati itu mungkin belum benar-benar punah’.

  1. Tua Sebelum Waktunya

Tumbuh di tengah keluarga broken home membuat masa kecilmu goyah. Kamu seakan tumbuh dengan sangat cepat. Kamu merasa ikut bertanggung-jawab dengan kenyataan pahit yang terjadi.

Apalagi ketika menyadari orang tua jadi single parent, kamu merasa bersalah jika harus menghabiskan banyak waktu untuk bermain-main di luar. Kamu terdorong untuk ikut membantu meringankan bebannya. Entah dengan beres-beres rumah, atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

  1. Gangguan Emosional

Keadaan emosi yang kacau bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Ya usia anak broken home-nya, kepribadiannya, proses perpisahan orang tuanya, dsb. Namun keadaan rumah atau keluarga yang goncang akan tetap memengaruhi kesehatan mental. Kamu akan sangat sensitif, sering menangis diam-diam, stress, marah, dsb.

dampak anak broken home, dampak broken home pada remaja, ciri anak broken home, kondisi psikologis anak broken home, dampak broken home menurut para ahli, cara mengatasi anak yang broken home, ciri ciri keluarga broken home
Image via: informedandempowered.com
  1. Kurang Cukup Secara Materi

Ketika masih “lengkap”, sumber uang jajanmu dobel. Segala kebutuhan pun serasa bisa ditebus dengan mudah. Namun ketika berpisah, kamu juga menyadari kalau pendapatan keluarga ikut terpengaruh. Apalagi kalau salah-satu dari keduanya, misal ibu, belum memiliki penghasilan.

Meski sudah dibuatkan kesepakatan, terkadang segala yang sudah dirancang tidak terlaksana dengan baik. Ujung-ujungnya, kamu ditempa untuk hidup seadanya. Kamu belajar hemat dan bijak. Kalau sudah terbiasa sih tentu cukup mudah. Namun jika situasi ini bikin kaget, kamu harus ekstra sabar untuk beradaptasi.

  1. Sleeper Effect

Fenomena yang satu ini biasanya terjadi pada anak broken home perempuan. Mereka cenderung tak mampu menghadapi emosi, terbuka, berekspresi, dsb. Pada akhirnya, mereka akan memendam segala pengalaman pahit seolah-olah tak terjadi apa-apa. Terbengkalai begitu saja.

Namun begitu beranjak dewasa, segala perasaan yang sempat terpendam pun muncul ke permukaan. Fase ini biasa terjadi di usia remaja, atau periode paling penting dalam hidup mereka.

  1. Tingkah Laku Anti-Sosial

Sebagian anak broken home menunjukkan emosinya dengan cara bertingkah-laku kasar atau kurang sopan. Kalau tidak dikendalikan, sikap itu bisa berlanjut menjadi pemberontakan, melanggar aturan sekolah, berbohong pada keluarga, dsb. Jika terjadi secara terus-menerus, tentu hal ini akan menimbulkan problem. Interaksi sosialnya pun akan cenderung terganggu.

  1. Mimpi Buruk

Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup biasanya memicu kehadiran mimpi buruk. Kejadian itu meliputi pengalaman pindah rumah, mulai masuk sekolah, kenalan dengan seseorang, dsb, termasuk perceraian. Soal mimpi buruk, anak kecil lebih menderita. Semakin beranjak dewasa, kamu semakin mampu mengendalikan perasaan, sehingga mimpi buruk itu akan berkurang dengan sendirinya.

Apa pun itu, efek buruk broken home bisa dihentikan. Semua itu bahkan bisa menjadi pelajaran yang membuat kamu lebih tegar.  14 Efek Negatif yang Kemungkinan Besar Dirasakan Anak Broken Home. #RD

SHARE

4 COMMENTS

Comments are closed.