Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Semakin Ingin Dipuji dan Disukai, Potensi Rasa Kecewa Jadi Semakin Besar?

Semakin Ingin Dipuji dan Disukai, Potensi Rasa Kecewa Jadi Semakin Besar?

4
SHARE
semakin ingin disukai, kecanduan media sosial, cari perhatian lewat media sosial, tips menjadi orang yang menyenangkan, cara menjadi pribadi yang menarik bagi wanita, sifat yang tidak disukai orang lain
Seniman: Banksy via: milkbarmag.com

Siapa yang enggak senang ketika foto selfie-nya banyak yang nge-likes? Siapa yang enggak good mood ketika karyanya dipuji? Siapa yang enggak senyum-senyum sendiri ketika videonya diberi komentar positif?

Pada dasarnya, manusia memang senang dipuji dan diakui, oleh siapa pun – apalagi oleh dia (?). Kamu merasa spesial dan mungkin ingin terbang. Gawatnya, perasaan ini adiktif. Ya, kamu kecanduan untuk diberi pujian dan pengakuan.

Apalagi di jaman media sosial seperti sekarang, ya. Bukan kamu saja yang ingin menarik perhatian netizen dengan aneka postinganmu, akun asli sampai akun palsu yang bertebaran di internet juga melakukan hal yang sama. Nah, persaingan ini terjadi dengan sendirinya.

Ketika mulai kehilangan pengikut, teman, loves, komentar, pesan pribadi, dan segala bentuk perhatian lain, kamu bisa jadi merasa kesal. Fase ini bisa mendatangkan banyak kemungkinan. Kamu jadi termotivasi untuk berhenti jadi penduduk sosmed, kamu memperbaiki postinganmu agar lebih berfaedah, atau justru kamu mencari sensasi agar lebih viral lagi.

kecanduan medsos, narsis, akibat kecanduan sosial media, kasus kecanduan sosial media, dampak kecanduan media sosial, cara mengatasi kecanduan media sosia
Image via: theguardian.com

Yang bahaya itu, kamu merasa ingin terus-menerus disukai dan dipuji. Kamu geram kalau sampai diabaikan. Sakit dan kecewa gitu kalau kamu ‘terbuang’ dari umatmu sendiri. Makanya, kamu bertekad melakukan apa pun demi mempertahankan eksistensi itu.

Pegangan, ya. Jaga-jaga agar tidak sampai hyper. Nanti kamu jadi narsis dan over-sharing. Segala aktivitas dilaporkan ke medsos. Termasuk sedang di mana, makan apa, ibadah apa, uang tinggal berapa, bersama siapa, pikirannya bagaimana, dsb. Kalau keceplosan, kamu bisa membocorkan rahasia atau privasimu sendiri.

Kamu juga bisa terlalu fokus pada apa pendapat orang lain tentangmu. Makanya kamu pasti update setiap saat. Capek, dong?

Terus ketika sedang asyik begitu, ada pihak-pihak yang kurang suka sepak terjangmu. Mereka mulai mengkritik unggahanmu yang berlebihan, alismu yang ketebelan, outfitmu yang kurang matching, caption-mu yang copas, karyamu yang kurang sesuai selera mereka, dsb.

Kalau kamunya siap dan terbuka pada kritik membangun sih tak masalah. Namun kalau tidak? Yah…

Kemudian kamu beranggapan ‘wah! saya sudah punya haters!’.

akibat kecanduan sosial media, bahayanya sosial media, kasus kecanduan sosial media, bahaya media sosial dalam islam, bahaya sosial media bagi pelajar, manfaat dan bahaya media sosial
Image via: insiteronline.com

Banyak orang, bukan kamu kok, yang terjebak dalam situasi super melelahkan ini. Jadi mereka itu mencoba meladeni apa pun ekspektasi orang. Hm… mau sampai kapan?

Ketika ngetrend bibir ala Kylie Jenner, kamu ikut-ikutan. Ketika ngetrend tubuh ala ‘dad-bods’, kamu ikut-ikutan. Ketika ngetrend pose-pose poto tertentu, kamu ikut-ikutan. Dan, masih banyak lagi. Semua itu kamu lakukan supaya orang lain senang.

Tetapi kalau masih positif dan tidak menyalahi norma, sila saja. Apalagi kalau kamu sudah menjelma menjadi seorang influencer, yang memang memiliki tujuan jelas dalam bermedsos. Eksistensimu tentu sangat penting.

Intinya, bisa kewalahan juga ya kalau likes, loves, komentar, sharing, atau perhatian netizen lain jadi ‘bensinmu’. Kalau semua itu tak ada, barangkali kamu bete, merasa terpuruk, dan hilang arah. Rasanya kecewa dan sakit. Aw~

riya di media sosial, contoh status riya, riya di sosmed, pamer ibadah di facebook, hukum update status di facebook, pamer di sosmed menurut islam
Image via: socialprchat.com

Mari belajar untuk tidak sampai menggantungkan motivasi pada pihak di luar diri sendiri. Mari belajar untuk mencintai dan menyenangkan diri sendiri dulu sebelum ingin dicintai dan disenangi semua orang – which is enggak mungkin. Anggap nyinyiran orang lain sebagai perhatian dan kritikan yang membuatmu belajar jadi lebih baik.

Kalau sudah percaya diri, kamu bisa leluasa memosting apa pun sesukamu, tanpa harus memusingkan persetujuan para followers-mu.

Tetap rendah hati. Para netizen tak selamanya salah, dan tak selamanya benar. Demikian juga dengan kamu – kita. Semakin Ingin Dipuji dan Disukai, Potensi Rasa Kecewa Jadi Semakin Besar?

SHARE

4 COMMENTS

  1. Pernah liat vidio yang isinya menjelaskan kalo bermain media sosial itu bisa menimbulkan endorphin, nah dampak lanjutannya itu ketika pengguna mulai menerapkan stadar-standar tertentu untuk merasa diperhatikan dan diakui keberadaannya, mulai dari jumlah like, love dll. Lama-lama makin habis waktunya hanya untuk memastikan dia mendapatkan itu di sosial media. Kalau sampe gak bisa mengendalikan diri, bisa menimbulkan depresi kayaknya ya. Saya setuju sama mbak, lebih baik mencintai dan menyenangakan diri sendiri dulu.

    • Wah, terima kasih tambahannya, ya. ^^
      Entah video yang dimaksud itu sama atau tidak, yang jelas pembicaranya bule cowok. Iya dia bilang kalau penggunaan internet atau medsos bisa memproduksi hormon endorfin, yang bikin penggunanya senang. Namun sifatnya ini candu, alias bikin ketagihan. Efeknya mirip sama narkoba. Sehingga kalau sudah masuk jeratnya, jadi cenderung sulit untuk lepas. Duh..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.