5 Catatan Ketika Kamu Tidak Mau Pura-Pura Kuat dan Memilih Menyerah dengan Baik-Baik

Posted on
menyerah, merelakan, menyerah bukan berarti kalah, menyerah pada keadaan, tidak pura-pura kuat
Image via: thebridgemaker.com

Tidak, kamu tidak mesti berkoar-koar tentang segala masalah dan keluhanmu di media sosial.

Tetapi, kamu juga tidak mesti berpura-pura kalau luka itu tak pernah ada. Kamu menari, seolah-olah semuanya tak pernah terjadi. Kamu tertawa, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Hey, kamu mengelabui.

Meski tersembunyi dan dunia tak pernah tahu pertempuranmu, namun pada akhirnya kamu tak bisa membohongi dirimu sendiri.

1. Rangkul Rasa Sakit itu

Alih-alih menggunakan topeng untuk menutup luka, atau justru kabur dari masalah, kamu mesti mencoba untuk menghadapi dan merangkulnya. Meski terdengar basi, namun faktanya, tak ada seorang pun yang bernapas tanpa masalah.

Kamu bisa ingat kembali masa-masa terburuk yang pernah dilalui. Pengalaman patah hati, kehilangan, ditolak, terjatuh, dipandang sebelah mata, dsb. Semua pengalaman itu sudah menempamu menjadi pribadi yang lebih tangguh. Kalau tidak pernah berhadapan dengan kegagalan, kekecewaan, dan kesedihan, entah bagaimana lembeknya hatimu saat ini.

2. Rangkul Rasa Tidak Nyaman itu

Banyak orang yang tergoda untuk lari dari masalah. Entah dengan cara kabur dari rumah, berbelot pada narkoba, bersahabat dengan minuman keras, atau mengakhiri hidup sendiri. Mereka menganggap cara itu bisa menekan beban.

Mereka tidak mau merasakan ketidaknyamanan dari sebuah masalah. Mereka tidak mau merasakan yang namanya bingung, takut, cemas, deg-degan parah, kepala pusing, leher tercekik, atau perut seperti disikut. Mereka ingin menghapus sensasi itu dengan cara-cara, yang justru menambah sakit dan masalah.

Ketika tak ada manusia lain yang dianggap pahlawan, cobalah menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri.

kata kata berpura pura kuat, pura pura strong, menjadi pahlawan bagi diri sendiri, kata kata berpura pura tegar, terlihat kuat padahal rapuh
Image via: beliefnet.com

3. Tanyakan Pada Hati: Apa yang Kamu Inginkan?

Ada momen, di mana kamu merasa sangat dilema. Kegalauan membuat otak dan hatimu seperti diperas. Rasanya pusing. Tetapi di sisi lain, kamu mesti mengambil keputusan di tengah pilihan penting.

Mungkin saat itu dirimu sendiri “sedang berisik”. Kamu mesti berduaan dengan hatimu. Silakan ngobrol, apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati. Percaya atau tidak, naluri itu biasanya kuat. Hatimu pasti punya pendapat. Dengarkanlah, bisa jadi dia berbisik dengan sangat pelan.

4. Menyendiri

Biasanya hidupmu akan selalu berhubungan dengan orang-orang: keluargamu, teman-temanmu, rekan kerjamu, pasanganmu, termasuk orang-orang asing. Apakah kamu masih menyempatkan diri untuk menyendiri?

Ketika menepi dari orang-orang, kamu jadi bebas dari segala pengaruh mereka. Tak ada distraksi atau orang-orang yang mengalihkan perhatianmu. Kamu fokus pada dirimu sendiri. Sudah seberapa kenal? Sudah seberapa paham?

5. Menyerah dengan baik-baik

Sebenarnya kamu sering mendengar nasihat orang-orang: jangan menyerah. Kamu boleh capek dan beristirahat, tetapi jangan menyerah. Namun bagaimana kalau sesuatu yang kamu perjuangkan itu membuat hidupmu semakin susah?

Bagaimana kalau perjuanganmu hanya berakhir sia-sia?

Apa kamu akan tetap menyiram tanaman mati dan terus memperjuangkan agar bunganya tumbuh?

Daku jadi ingat kutipan Lori Deschene. Dia bilang, ‘our power isn’t in our ability to fight life. It’s in recognizing when we don’t have to struggle’.

Dengan kata lain, ‘kekuatan kita itu bukanlah tentang kemampuan untuk bertarung melawan kehidupan. Kekuatan kita itu hadir ketika tahu kapan kita tak harus berjuang.

Nah, energimu sudah terkuras banyak. Jangan sampai habis karena pertempuran yang mustahil kamu menangkan. Tidak Pura-Pura Kuat, Tetapi Memilih Menyerah dengan Baik-Baik. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.