Resensi Novel “Aroma Karsa” Dee Lestari: Bencana Dari Cinta dan Obsesi

Posted on
aroma karsa, aroma karsa dee, buku aroma karsa, novel aroma karsa, pre order aroma karsa, sinopsis aroma karsa, aroma karsa adalah, aroma karsa menceritakan tentang
Via: Instagram Story @deeannrose

Judul: Aroma Karsa

Penulis : Dewi “Dee” Lestari Mangunsong

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal Buku: xiv + 710 halaman; 20 cm.

Cetakan: Pertama, Maret 2018

ISBN: 978-602-291-463-1

Begitu Aroma Karsa ada di genggaman, siapa yang tidak buru-buru melucuti plastik dan segera melahap isinya?

Membaca halaman-halaman awal Aroma Karsa, membaui lembar demi lembarnya, daku seperti langsung merasakan sensasi nikmat – yang tentu saja ingin dilumat pelan-pelan, tetapi sekaligus juga tidak sabar. Ketika masih di beranda, daku merangsek gemas menelusuri tapak-tapak kata yang disuguhkan.  Terus daku telan, tetapi seakan tidak menemui titik penghabisan. Bahkan di penghujung cerita, halaman 696, daku kembali lapar.

Eh … sebenarnya daku tidak perlu menulis rentetan pujian pada Teh Dee Lestari. Percuma. Sudah banyak orang yang tahu, bahkan lebih hafal. Apa maksudnya pre-order saja laku sampai 10 ribu kopi, huh?

Novel ini lain. Dari sensasi yang terasa ketika proses membaca, bahkan setelahnya, karya bertajuk aroma ini memang sangat istimewa. Daku bisa mulai dari pangkalnya, yakni tema penciuman (aroma). Lalu aneka genre yang diseretnya – seperti yang Teh Dee tulis sendiri – meliputi petualangan, misteri, mitologi, epigrafi, keluarga, persahabatan, dan percintaan. Semuanya direkatkan oleh yang namanya aroma.

Apa itu Aroma Karsa?

Terkait pemilihan judulnya, Aroma Karsa, kalau merujuk ke Kbbi.web.id, aroma adalah bau-bauan yang harum (yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau akar-akaran). Kemudian, karsa adalah daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Nah ketika sudah selesai membaca utuh, daku optimis banyak yang merasakan ketakjuban yang utuh pula. Betapa judul dan keseluruhan kisahnya begitu berjodoh!

Baca Juga: Pengalaman Mengikuti Workshop Menulis Bersama Ibu Suri Dee Lestari 

resensi aroma karsa, kutipan aroma karsa, resensi novel aroma karsa, resensi novel, resensi novel dee lestari, contoh resensi novel, contoh resensi novel dee lestari
Dokumentasi pribadi

Karakter dan Sinopsis

Ada Raras Prayagung,  Jati Wesi Si Hidung Tikus, Tanaya Suma yang kemampuannya mirip dengan Jati Wesi. Ditambah dengan Anung Linglung, Ambrik, Nurdin Suroso, Arya Jayadi, Khalil Batarfi, Kapten Jindra, Sinom, Pucang,  dsb. Entah kenapa, daku rasa bisa bersimpati pada semua karakter yang ada – tidak terfokus pada yang utamanya saja.

Rasanya daku juga bisa merasakan kengerian dari efek cinta dan obsesi yang ditunjukkan oleh beberapa karakternya. Seperti obsesinya Raras pada Puspa Karsa, kegilaan Iwan Satyana pada anggrek, atau cintanya Jati pada Suma. Daku kok bergidik ketika membaca ini: tan wénang kinawruhan ng katrsnán, wenang rinasan ri manah juga (Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya) (hal. 442).

Sinopsis ceritanya bisa dimulai dari sosok Jati Wesi.  Dia adalah pengurus taman di tujuh rumah mentereng di kompleks Graha Royal Bekasi, pegawai pabrik kompos di TPA Bantar Gebang, pegawai Nurdin Suroso di lapak tanaman hias, dan pegawai Khalil Batarfi di toko parfum Attarwalla (hal. 29). Dari sekian profesinya, Jati bangga menjadi peracik parfum, sebab indera penciumannya memang bikin kagum. Serangkaian peristiwa mengantarkan Jati pada sosok Raras Prayagung dan ekspedisi tim menuju Gunung Lawu lewat jalur tengah, dengan tujuan menemukan Puspa Karsa melalui kemampuan luar biasanya. Cukup.

Ibarat film, Aroma Karsa bisa masuk dalam jajaran novel dengan rating R (restricted) atau D (dewasa). Di dalamnya memang ada bagian yang sensual, ekstrem, dan gory. Bocah minggir!

Yang Kurang dari Aroma Karsa

Kalau bicara tentang kekurangan dari buku ini, sesungguhnya daku ciut. Tak banyak yang bisa digali. Terlalu sibuk larut dalam segala keajaibannya. Paling beberapa lembar cetakannya saja yang membayang.

Eh… sama hubungan asmara antara Jati Wesi dan Tanaya Suma juga. Ini personal, sih, daku kurang nyaman begitu mengetahui kalau mereka adalah saudara sepersusuan . Correct me if I’m wrong, daku menyimpulkan ini dari narasi: … sejak mereka (Anung dan Ambrik) meninggalkan Gunung Lawu, dua bayi itu (Jati Wesi dan Tanaya Suma) minum air putih dari kendi yang sama. Ambrik bahkan membagi air susunya kepada bayi yang bukan anak kandungnya (Jati Wesi) (hal. 607).

All in all, daku sangat puas dengan karya ini. Rela-rela saja ketika mesti meluangkan waktu untuk ‘tersesat sekaligus menemukan jalan’ lewat buku ini. Kok bisa, daleman pikiran Teh Dee itu sekreatif dan seliar ituKok bisa, jari-jemari Teh Dee selincah dan seluwes itu?

Tetapi, well, perasaan tidak adil dalam diriku luruh ketika Teh Dee membagikan pengalamannya ketika menulis Aroma Karsa. Dia sudah melakukan riset mendalam. Dia terjun langsung. Ke TPA Bantar Gebang, pabrik Mustika Ratu, mengorek ilmu dan informasi dari para narasumber, dsb. Semua riset itu, kalau menurut keterangan via Cewekbanget.grid.id, sudah Teh Dee lakukan sejak tahun 2016. Whoa, I don’t deserve this! Resensi Novel “Aroma Karsa” Dee Lestari: Bencana Dari Cinta dan Obsesi. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.