Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD 1 Kebiasaan Aneh yang Mengerikan dalam Angkutan Umum

1 Kebiasaan Aneh yang Mengerikan dalam Angkutan Umum

0
SHARE
kebiasaan aneh yang mengerikan, kebiasaan aneh, kebiasaan aneh dalam angkutan umum
Image via: digital-photography-school.com

Apa kebiasaan umum para penumpang “normal”?

Wah, daftarnya pasti bisa panjang. Ada penumpang yang bengong, yang dari luarnya tampak kosong – tapi isi pikirannya mungkin jejal. Ada yang melenggak-lenggokkan leher ke kiri-kanan jalan. Ada yang memejamkan mata, memasrahkan diri pada rasa lelah yang melanda, dlsb. Saya juga melakukan kebiasaan-kebiasaan ini.

Lalu ada penumpang yang memuntahkan perhatiannya pada ponsel. Mungkin sedang chattingan, scrolling medsos, ngepoin berita daring, melihat-lihat kembali gallery dan menghapus poto selfie jelek demi menyelamatkan jatah memori, dsb. Ada juga yang membaca sesuatu: koran, majalah, atau buku. Kebiasaan-kebiasaan ini jarang saya lakukan. Suka pusing. Terus, sayang saja kalau sensasi naik transportasi umumnya jadi tidak terasa.

Tetapi kini saya akan membuat satu pengakuan besar. Masih ada kaitannya dengan angkutan umum dan ponsel. Itu pun kalau saya sedang tertarik.

Hhh … Sudah beberapa kali saya memotret penumpang lain secara diam-diam. Ya, ya, ya. Saya tahu kelakuan ini creepy, bukan? But, I can’t help it.

Saya menjepret poto anak TK perempuan yang ngoceh terus tapi jadi happy virus bagi penumpang lain. Saya menjepret poto seorang ayah muda yang membawa serta dua anak kembarnya. Saya menjepret poto lelaki berkumis tebal yang sedang momong bayi. Saya menjepret poto siswi SMA yang sedang mengobrolkan masalah khilafiyah. Dan, masih ada lagi.

Tetapi, saya tidak pernah mempublikasikan potret mereka. Baik di WA Story, apalagi media sosial mainstream. Kalau pun dibagikan, saya pasti menyensor bagian wajahnya. Sehabis itu, saya akan menghapus poto-poto mereka.

Kemarin, masih hangat, saya berbagi tempat duduk dengan seorang nenek muda. Usianya sekitar 50 tahunan lebih bersama seorang cucu perempuannya. Menurut sang nenek, usianya sudah 2,5 tahun.

“Ayah,” lirih Si Cucu.

Ini anak,” Nenek itu memulai cerita, “Orang lain itu nurut sama ibunya, kalau yang ini malah sama ayahnya.”

Saya tersenyum, sebenarnya tidak menganggap informasi itu ajaib. Sebab, masih banyak anak perempuan lain yang memang lebih karib dengan ayahnya. Mungkin karena ibunya lebih banyak melarang tanpa menjelaskan alasan, ketimbang dengan membiarkannya main dan bikin kegaduhan.

Pandangan saya dengan anak itu bertabrakan. Saya tertawa. Ingat masa kecil sendiri. Jadi pengin memotretnya, tapi urung saya lakukan. Posisinya kurang mendukung.

“Kuda!” pekik si gadis kecil, membuat saya tersentak, lalu terkekeh.

Neneknya pun bereaksi sama.

“Di Ciamis mah enggak ada kuda, maklum, jadi dia antusias,” jelas Nenek sambil ikutan melihat delman, “Tuh kuda lagi, di Kuningan mah banyak kudanya.”

“Oh Neng dari Ciamis ..” Saya waktu kecil pun tak kalah antuasias melihat kuda Kuningan.

“Ibunya dia dari Ciamis,” ujar Nenek dengan raut wajah mulai serius, “Ayahnya, anak saya, asli dari sini. Mereka sudah berpisah.”

“Oh.”

“Istrinya selingkuh, ketahuan dari HP.” pandangan mata Nenek tidak tertuju pada satu titik, “Padahal anaknya sudah 3, 2 kali lahiran, soalnya yang perempuannya kembar. Ini salah-satunya.”

“…”

Oh, kembar.

Beneran, walau pun bisa jadi topik obrolan yang menarik, tetapi saya tidak menginterogasi apa-apa. Tapi si neneknya yang bilang sendiri.

“Mirip kayak sinetron, ya,” celetuk penumpang lain.

Si nenek tertawa, “Emang. Yang ada di sinetron itu bisa jadi kisah nyata, bisa juga jadi kenyataan.”

Ok. Saya mereka-reka bagaimana rupa dan personal ibunya. Walau bukan pertama kali mendapati pihak perempuan yang mendua, tetapi tetap saja ada yang mengganjal.

“Anak saya memang pegawai rendahan, tetapi waktu itu niatnya sudah bulat untuk menikah,” arah mata Nenek ke luar, “Tetapi istrinya ini punya gaya hidup mewah, mungkin dia enggak kuat. Makanya udahan.”

Saya hanya mendengarkan. Responsnya cukup dengan mengangguk-angguk.

“Di mana-mana itu, pihak wanita yang dekat sama anaknya. Pihak wanita yang lebih punya perasaan. Istri anak saya malah sebaliknya,” nada bicara Nenek datar, “Ah! Mungkin sudah wataknya demikian. Bukan jodoh juga.”

Anak ibu soleh.

“Anak ibu sudah menikah lagi?”

“Belum, saya sih sudah bilang, ya,” suasana yang tadinya tegang sedikit renggang, “Tapi kayaknya dia masih trauma.”

“Mungkin pengin mencari yang sayang anaknya juga ya, Bu.”

“Iyalah, dia sudah punya 3 buah hati,” kini mata nenek tertumbuk pada cucunya, “Kini dia cuma fokus sama kerjaannya, terus punya peliharaan ikan dan  ayam. Jadi pikirannya teralihkan.

yang penting bukan anak saya yang salah, istrinya saja yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Walau bagaimana pun, perbuatannya sudah menyakiti banyak pihak. Perceraian enggak terhindarkan.”

Di satu sisi, saya tidak setuju dengan sepak-terjangnya. Di sisi lain, saya kira ada alasan kenapa dia bisa tega. Ah, benar-benar menguji mental judgemental.

Walau saya tidak memotret nenek-cucu itu, tetapi sepenggal kisahnya tetap terjepret.  1 Kebiasaan Aneh yang Mengerikan dalam Angkutan Umum. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.