3 Catatan Tentang Berkenalan dan Berteman Ala Orang Introvert

Posted on
cara introvert berteman, cara introvert bersosialisasi, saya introvert, cara berteman dengan orang introvert, cara berkomunikasi dengan orang introvert, cara menghadapi wanita introvert, cara komunikasi dengan introvert
Image via: gadventures.com

Pernah terhubung dengan seseorang atau beberapa orang via media sosial? Interaksimu dengan mereka begitu asyik. Orang baru kenal, namun bonding-nya terasa sudah kental.

Kalian kemudian punya rencana untuk bertemu. Sebelum pertemuan itu, kamu merasa antusias sekaligus gugup. Takut malu-maluin atau bagaimana. Tetapi kamu juga sudah membayangkan, betapa fun kalau interaksinya terjadi langsung.

Namun begitu waktunya tiba, wew, berteman itu jadi terasa rumit. Apalagi bagi orang-orang dewasa, yang berkepribadian introvert pula. Keseruan di dunia maya seakan mengenakan jubah ajaib – raib.

Demikian juga ketika bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang benar-benar baru. Mau basa-basi busuk atau berlagak elegan, kurang lihai. Mau “sok kenal sok dekat”, takut norak. Mau diam saja dan menunggu pergerakan dari mereka, nuansanya jadi kikuk.

Ah, kalah telak dengan interaksi anak-anak. Mereka bisa langsung dekat tanpa tahapan small talk.

Orang-orang introvert, seperti saya, cenderung kesulitan mengendalikan rasa percaya diri di awal pertemanan. Ada perasaan kerdil yang membuat saya minder, merasa tidak penting, dan tidak berpengaruh. Jadinya selalu berhati-hati, daripada salah gerak atau bicara, lebih baik diam saja wis.

Dan, pertemuan itu pun jadi tak begitu berkesan. Pertemanannya stagnan. Bahkan, mungkin pudar.

cara berkenalan, cara berkenalan dengan wanita lewat hp, cara berkenalan dengan wanita lewat chat, cara berkenalan dengan orang baru, cara berkenalan dengan wanita di tempat umum
Image via: kidsgen.com

1. Kesalahan Introvert Ketika Berkenalan dan Berteman

Saya maklum kalau nasihat orang bijak untuk “menerima siapa dirimu dan percaya dirilah” itu bukan perkara ringan. Ada perang besar dari dalam. Perlu perjuangan. Namun 2 hal tersebut memang penting.

Kemudian, introvert tidak bisa berekspektasi kalau semua kenalan baru akan menjelma sebagai sahabat idaman. Seperti apakah sahabat idaman itu? Ya, kamu punya kriteria masing-masing. Tak jauh dari orang-orang yang solider, memahami, menerima, terpercaya, dll.

Kalau ternyata orang-orang itu tidak menjadi sahabat idaman sesuai ekspektasimu, kamu tidak berkewajiban untuk bertahan for the sake of friendship or image. Kalau orang-orang itu ternyata cerewetnya berlebihan, suka ngomong tapi enggak doyan mendengarkan, suka minta tapi enggan memberi, dsb, terus kamu merasa tersiksa – salah siapa?

Kalau di dunia Psikologi ada yang namanya “martyr complex”, di mana seseorang itu justru mencari sumber derita sebagai alibi. Biar dia terlihat baik, terlihat menjadi korban, kebutuhan psikologinya terpenuhi, atau biar bisa menghindar dari tanggung-jawab. Rupanya perilaku ini destruktif, intinya buruk untuk dirinya dan hubungan yang sedang dijalaninya bersama orang lain.

Energimu jadi boros begitu saja ketika diam bertahan dalam hubungan yang kurang baik dan toxic. Hubungan apa pun. Bisa termasuk hubungan dengan kekasih, tetangga, atau teman sekali pun.

Kalau mulai ingin jaga jarak, tanpa memutus tali silaturahim dengan mereka, apa kamu langsung menjadi makhluk brengsek tak tahu diri? Saya rasa tidak, ya. Huft!

Baiklah. Coba duduk dulu, ngopi atau ngeteh dulu.

berteman dengan introvert, teman introvert, cara menghadapi teman introvert, introvert tidak punya teman, saya introvert, keunikan introvert, pribadi introvert
Image via: greatist.com

2. Tanya Dirimu: Kenapa ada Seseorang yang Sudi Sahabatan Denganku?

Karena introvert, awalnya kamu mungkin akan merasa buruk jika harus narsis. Kamu mengaku tidak bisa menjadi sahabat terbaik sepanjang waktu. Ada kalanya lupa menanyakan kabar, luput tidak melihat story WA dan Instagramnya, tidak mengangkat telepon, dsb. Tak apa.

Tetapi kalau kamu sebegitu buruk, mana mungkin sahabat-sahabatmu masih bertahan. Itu artinya, ada nilai-nilai plus dalam dirimu. Kamunya juga terkesan betah dengan sahabat-sahabatmu sekarang. Dengan kata lain, kamu pun mengapresiasi persahabatan yang terjalin. Mungkin kalian memang menerima dan mengerti satu sama lain.

3. Konektor Sosial

Tidak selamanya orang-orang yang suka ngobrol dan blak-blakan itu musuh bagi introvert. Banyak, termasuk saya, yang memiliki teman-teman dekat berkepribadian ekstrovert. Mereka asyik. Hubungan jadi lebih hidup. Mereka juga yang kerap menjadi “penghubung” dengan yang lain.

Kenalan para “konektor” ini cenderung banyak, sehingga kamu bisa jadi terbantu. Misalnya, mereka bisa menghubungkanmu dengan orang-orang yang punya hobi sama. Ketika meminati dunia kuliner, dan sang konektor punya teman pengusaha makanan, maka kamu pun bisa berkenalan atau menjalin hubungan dengan pengusaha itu.

Orang bilang, lebih baik 1000 teman daripada 1 musuh. Betul, ya? 1 musuh bisa bikin ruangan hati jadi sesak. Tetapi 1000 teman baru tak akan pernah bikin ruangan hati jadi tersendat.

Justru hati itu terasa tambah luas dan lapang. Umur pun, semoga tambah bermanfaat dan panjang. Demikian,  3 Catatan Tentang Berkenalan dan Berteman Ala Orang Introvert. #RD

4 thoughts on “3 Catatan Tentang Berkenalan dan Berteman Ala Orang Introvert

  1. suka ada kecemasan saat memulai percakapan dengan orang yang baru dikenal apalagi saat dia nanya tentang hal yang saya gak tau atau kurang faham jadi
    kelihatan deh begonya !

    1. Oh kecemeasannya itu? Ha ha iya sih pasti kikuk mau merespons apa ketika ditanya hal2 yang enggak diketahui. Tetapi jawaban amannya bisa “tidak tahu”, ‘kan?
      Kalau saya kadang ekstra hati2 dulu, takut enggak bisa diajak bercanda atau bagaimana. Hee

  2. terkadang suka merasa malu buat memulai obrolan kalau dengan orang baru itu. Tapi disitulah tantangan buat bisa bersosialisasi dengan banyak orang yang baru dikenal.. dan lagian juga kalau sudah kenal dan tahu banyak terhadapa orang baru juga nanti bisa jadi saling akrab..

    1. Benar, Mas, kadang suka bingung sendiri mau memulai dengan pembahasan apa. Mau basa-basi, tapi kurang lihai. Jadinya kikuk. Obrolan pun enggak bertahan lama. Apalagi kalau kawan bicaranya juga malu2. Hehe.. betul seperti yang Mas bilang, lama-lama juga bisa kenal dan saling akrab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.