Home et cetera (etc.) Diary Tentang Tebakan Kepribadian 5 Hikmah dan Perubahan Setelah Menjalani Tes Kepribadian

5 Hikmah dan Perubahan Setelah Menjalani Tes Kepribadian

0
SHARE
tes kepribadian, tes psikologi, manfaat tes kepribadian, keuntungan tes kepribadian, tes kepribadian online gratis
Image via: adventuresofariotgrrrl.com

Siapa yang percaya diri memamerkan angka hasil psikotes waktu sekolah?

Waktu itu saya takjub dengan psikotes atau tes psikologi atau tes IQ atau apalah namanya itu. Betapa IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan intelektual seseorang bisa dihitung dengan angka. Lalu kita bisa mengkategorikannya menjadi IQ tinggi, rata-rata, dan rendah.

Saya dan kawan-kawan cenderung malu-malu ketika menerima hasilnya. Kami melihat dulu angkanya. Memastikan dulu apakah termasuk superior alias jenius, superior (saja), normal, rata-rata, IQ rendah, atau keterbelakangan mental. Kalau kira-kiranya masih sama dengan yang lain, barulah kami saling tukar informasi.

Lalu pernahkah bertanya-tanya, ‘mengapa saya seperti ini?’,  ‘mengapa orang lain tidak seperti saya?’, ‘apakah orang lain tidak bisa memahami saya? Atau memang sayanya saja yang sulit dimengerti?’, dan terus saja jadi lingkaran setan.

‘Kok ada orang yang cerewet?’, ‘kok ada orang yang tenang?’, ‘kok ada orang yang ambisius?’, ‘kok ada orang yang supel?’, ‘kok ada orang yang mudah marah?’, ‘kok ada orang yang humoris?’, ‘kok ada orang yang congkak?’, ‘kok ada orang yang dermawan?’, ‘kok ada orang yang sabar?’, ‘kok ada orang yang moody?’, dst.

Rasa takjubku tak berhenti ketika menemukan beberapa tes psikologi yang juga bisa menelisik kepribadian. Oh, saya semakin kagum ketika tes itu bisa dengan mudah ditemukan, khususnya secara online. Situsnya sangat banyak. Tinggal dipilih. Gratis pula!

Kesempatan itu tentu saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya mencoba berbagai tes dari berbagai situs. Dan … lagi-lagi saya terkesima. Pemahaman seakan sedikit terbuka. Jadi ngeh kenapa saya begini, kenapa saya begitu.

Tetapi saya sempat terperangkap pada 2 kepribadian: INFJ dan INFP. Baiklah, tak apa. Sudah ada titik terang, kok. He he

Nah, hikmah pasca menjalani tes kepribadian ini adalah …

1. Mulai Merasa Akrab/ Tidak Asing dengan Diri Sendiri

Ketika membuka dan membaca hasil tes kepribadian, saya jadi merenung sendiri. Antara kagum dan ngeri. Pasalnya, sebagian besar yang dipaparkan memang “saya banget”. Aneh, ya, saya merasa sedang melakukan pendekatan dengan diri sendiri lewat tes kepribadian ini.

2. Jadi Tahu Kelemahan dan Kelebihan Diri Sendiri

Saya dan teman-teman, apalagi kalau jelang perpisahan (misalnya waktu sekolah), pernah saling tukar pandangan: menyebutkan kelemahan dan kelebihan diri masing-masing. Ada yang jujur, ada yang semi-jujur (?), ada juga yang bohong. Bukan apa-apa, kadang aksi itu sengaja dilakukan agar tidak ada yang tersinggung.

Namun tes kepribadian berbeda – blak-blakan. Hidung saya mungkin kembang-kempis ketika diprediksi sebagai – MISAL – orang yang setia, dermawan, mandiri, kreatif, jeli, penyayang, pengertian, menyenangkan, bisa diandalkan, berjiwa pemimpin, bertanggung-jawab, dll. Dahi saya juga bisa jadi kusut kalau diprediksi sebagai sosok yang egois, temperamen, kikir, boros, suka berpikiran negatif, tidak peka, anti kritik, suka mengontrol orang lain, dll.

Tetapi semua penjabaran itu saya terima dengan legowo. Hal-hal baiknya dipertahankan dan ditingkatkan. Sementara yang buruk-buruknya menjadi bahan introspeksi agar lebih baik lagi.

3. Jadi Memahami Perbedaan Karakter dengan Orang Lain

Kalau berdasarkan teori Myers-Birggs Type Indicator (MBTI), ada 16 jenis tipe kepribadian manusia. Ada ENTJ yang berjiwa pemimpin dan rasa percaya dirinya tinggi, ada ESFJ yang gemar berkorban dan cinta damai, ada ESTP yang energik dan jeli, ada ISFJ yang bersahaja, ada INTP sang pemikir, ada ISTP sang pengrajin, dsb. Saya tak bisa menyamaratakan semua manusia untuk menjadi introvert. Selalu ada sisi beda dan uniknya.

Baca Juga: Menentukan Karakter Diri Sendiri Dari 16 Jenis atau Tipe Kepribadian Ini

4. Bisa Diterapkan dalam Hubungan

Karena manusia, otomatis saya terikat hubungan dengan manusia lain. Saya menjadi anak bagi orang tua, kakak bagi adik, adik bagi kakak, jadi pasangan, jadi sahabat, jadi tetangga, jadi rekan kerja, jadi blogger amatir, dst. Mereka semua tentu tidak memiliki kepribadian tunggal. Mereka beda-beda.

Namun ada rasa maklum tersendiri ketika berhubungan dengan mereka. Kenapa saya dengan Si A bisa cocok, tetapi sama Si B justru seperti saling jauh. Kalau secara teori INFP lebih nyaman dengan ENFJ atau ESFJ. Sementara INFJ bisa diimbangi oleh ENFP dan ENTP. Tetapi pada praktiknya, teori ini tidak menghalangi bonding yang ada. Dengan jenis kepribadian mana pun, kalau ada titik nyamannya, pasti bisa adem-ayem.

5. Bisa Dipertimbangkan dalam Hal Karier

Hasil tes kepribadian biasanya mencantumkan rekomendasi karier. ENFJ cenderung cocok menjadi politikus, manajer, pekerja sosial, dll. ENFP bisa menjadi reporter, konsultan, pengusaha, dll. INFP lebih nyaman menjadi penulis, guru, pekerja keagamaan, dll. INFJ biasanya cocok menjadi psikolog, dokter, penasihat, dll.

Tidak harus menuruti semua hasil tes, sih. Tinggal bertanya balik sama diri sendiri. Ketika kamu seorang INFP, apakah nyaman menjadi sales atau marketing? Terus seorang ENTJ, apakah nyaman menjadi konsultan? Nah, jawaban ada dalam diri masing-masing.

Bisa dibilang, mengikuti tes kepribadian seperti menemukan “harta karun” tentang diri sendiri. Penemuan besar!

Jadi sadar juga kalau saya bukan “alien”, yang aneh dan berbeda dari manusia kebanyakan. Masih ada orang lain yang tipe kepribadiannya mirip. Senasib sepenanggungan.

Penemuan ini juga diharapkan bisa membuat kita lebih cinta, menerima, dan mengapresiasi diri sendiri. Oh, bahkan kita pun jadi terbantu untuk memutuskan sesuatu. Demikian, 5 Hikmah dan Perubahan Setelah Menjalani Tes Kepribadian. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.