Home My Files Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi 6 Tahap yang Dilalui Ketika Ingin Mengubah Sikap, Perilaku, dan Kebiasaan

6 Tahap yang Dilalui Ketika Ingin Mengubah Sikap, Perilaku, dan Kebiasaan

0
SHARE
mengubah perilaku, 6 tahap berubah, cara merubah sikap dan perilaku, cara mengubah perilaku anak yang tidak baik, cara merubah karakter diri sendiri, cara merubah sikap seseorang menjadi baik, teori tentang perubahan perilaku
Image via: nationalcareersweek.com

“Begini, Nak. Semua orang itu memiliki sisi jelek tersendiri. Tapi jangan lupa satu hal: dia bisa berubah menjadi lebih baik.”

Lelaki yang terkadang saya anggap bapak sendiri itu pernah menyatakan demikian di Jumat siang. Kami sedang mengobrol biasa, dan topiknya luber. Termasuk pada adat dan kebiasaan seseorang yang terlampau melekat.

Saya rasa kita bisa jujur tentang daftar hal buruk dalam diri sendiri. Jauh dalam hati, kita begitu ingin berubah menjadi lebih baik. Tetapi apalah arti perubahan, kalau kelakuannya masih sama.

Apalah keinginan hidup sehat nan hemat bila kita tak bisa lepas dari rokok? Apalah mimpi blog maju nan menghasilkan bila kita tak bisa rutin menulis? Apalah hasrat untuk melembutkan hati bila kita enggan mendengar nasihat siapa pun? Apalah niat untuk menjadi pribadi setia bila kita masih gemar berdusta?

Pernahkah ada kejadian Si A yang jogging, eh Si B yang sehat? Si C yang rajin latihan sepak bola, eh si D yang jadi pemain bola? Si E yang ikutan kursus menjahit, eh si F yang jago menjahit?

Lagi-lagi, perubahan menuju kebaikan memang bukan perkara gampang. Hal ini pun jadi perhatian J.O. Prochaska dan Carlo C. DiClemente. Keduanya adalah peneliti yang merilis buku “Changing For Good”, dan menyampaikan apa itu stages of changes alias tahapan-tahapan perubahan.

cara merubah sikap dan perilaku, cara merubah sikap seseorang menjadi baik, cara merubah sikap menjadi lebih dewasa, cara mengubah sikap pendiam dan pemalu, cara merubah diri menjadi lebih baik menurut islam, cara merubah sifat buruk menjadi baik
Image via: rockingover40.com

1. Tahap Pre-contemplation (Pra Kontemplasi)

Di fase ini, kita masih ada dalam tahap denial alias “belum mau mengakui”. Hati sih sudah sadar kalau kita mesti mulai bersikap dewasa. Namun kita juga yang berkilah, ‘ah saya masih muda belia kok’, atau ‘orang lain juga banyak yang lebih childish kok’.

Hati sih sudah sadar kalau kita mesti mulai rajin ibadah. Namun kita juga beralibi ‘mumpung masih muda, hepi-hepi aja dulu’, atau ‘masih banyak waktu untuk itu, nanti kalau sudah tua saja deh’.

Jadinya kita merasa belum butuh perubahan. Kita juga berburuk sangka duluan, dengan menjudge kalau perubahan itu akan sulit.

2. Kontemplasi (Merenung/ Berpikir ke Depan)

Tahap perdana bisa dilalui ketika “ditampar” kesadaran tentang pentingnya perubahan. Misalnya, ‘kalau belajar dewasa dari sekarang ‘kan lebih bagus’, atau ‘mulai rutin olahraga dari sekarang lebih mantap’. Namun bagian ini juga tak lepas dari godaan.

Kita dibikin ragu oleh banyak hal. Seperti ‘kalau olahraga, kapan waktunya?’, ‘kalau mulai mengurangi keluyuran nanti teman berkurang dong?’, ‘kalau salat malam, nanti waktu tidurnya jadi berkurang dong?’, ‘kalau harus banyakin makan buah dan sayur rugi dong enggak melahap fast food?’, dsb.

Tetapi ujian bisa dilalui kalau kesadaran dan tekadnya semakin kuat. Terbersit pikiran kalau ‘olahraga dan gaya hidup sehat itu kebutuhan saya, kalau enggak dipenuhi, nanti kualitas hidup akan memburuk’.

3. Tahap Persiapan

Poin ini mendorong kita untuk bergerak, minimal menyusun rencana. Kalau misinya untuk hijrah, kita akan mencari tahu informasi kajian dan menghubungi kawan yang sudah bergabung duluan. Kalau misinya olahraga, kita akan menentukan jadwal dan jenis olahraganya. Kalau misinya menulis, kita akan mulai membaca dan menyiapkan medianya. Dan, masih banyak lagi.

mengubah diri sendiri, mengubah diri sendiri renungan, mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, tips mengubah diri sendiri, cara mengubah diri sendiri menjadi lebih dewasa
Image via: Lifehack.org

4. Tahap Beraksi

Di mana makna rencana kalau tidak pernah dieksekusi? Karena itu, tahap ini menjadi bentuk nyata dari apa yang sudah jadi skema. Misalnya kita benar-benar datang ke tempat gym, lari-lari kecil, makan salad, datang ke pengajian, mengikuti menggerak-gerakkan jari di keyboard komputer atau laptop, dsb.

Di stage ini, orang-orang sekitar mulai menyadari perubahan kita. Syukur-syukur kalau mereka menyambut hangat. Tentu lebih baik.

5. Tahap Maintenance (Pemeliharaan)

Orang bilang ‘berubah itu mudah, yang susah itu istikomah’. Di tahap ini, persistensi dan konsistensi benar-benar diuji. Satu perubahan bisa mengubah hal lainnya. Ingat, mengubah ya, bukan merubah. Nanti dimarahi Uda Ivan Lanin. Beda makna, soalnya. 😀

Intinya, kita mesti beradaptasi (dulu).

Kita juga harus waspada kalau sikap atau kebiasaan lamanya kambuh. Misalnya kita sudah sukses (sementara) untuk tidak merokok, tetapi karena stres berat jadi tergoda lagi. Kita sudah sukses (sementara) untuk tidak bergosip, tetapi karena ada topik hot jadi tergoda lagi. Kita sudah sukses (sementara) untuk menabung, tetapi karena ada konser idaman jadi tergoda lagi. Dll.

Karena itu, peran seorang pendukung, motivator, atau mentor jadi begitu penting.

6. Termination (Akhir)

Hanya segelintir orang yang bisa menjangkau tahap ini. Kebanyakan sudah tergelincir, bahkan tumbang di level sebelumnya. Sebab stage ini menjadi momen, di mana kita sudah tak pernah tergoda lagi untuk kembali ke tingkah laku lama.

Karena sudah mantap untuk hidup sederhana, jadinya merasa berdosa kalau mesti belanja barang yang bukan kebutuhan. Karena sudah mantap untuk makan sehat, jadinya merasa mual kalau mesti melahap gorengan. Karena sudah mantap untuk berhenti merokok, jadinya merasa sakit kalau mesti menghirup asapnya. Dsb.

Berapa Lama Bisa Berubah?

Beda pribadi, beda juga masa perubahannya. Namun biasanya, seseorang yang tahapannya loncat, misal dari kontemplasi langsung ke maintenance biasanya akan frustrasi sendiri. Perubahan drastis tidak memberi kesempatan pada seseorang untuk menyesuaikan diri. Kalau belum siap, dia akan mudah untuk kembali ke kebiasaan sebelumnya.

Selama tujuan atau misinya masih realistis, setiap orang bisa menggapainya. Tetapi sabar, tak bisa diburu-buru dalam waktu semalam. Demikian, 6 Tahap yang Dilalui Ketika Ingin Mengubah Sikap, Perilaku, dan Kebiasaan. #RD

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.