Anak Muda Zaman Now itu Enggak Punya Otak!

Posted on
anak muda jaman now, anak muda zaman now, anak muda zaman sekarang, anak muda indonesia, anak muda sukses
Image via: forbes.com

Saya terkesiap ketika ada ibu-ibu, sekitar usia 45 tahun ke atas, misuh-misuh sembari masuk ke angkot. Dengan serta-merta dia bilang ‘anak muda zaman sekarang itu enggak punya otak! Kerjanya cuma tengkurap sambil main HP! Udah tahu ibunya mau kerja, masih saja leha-leha!’.

Si ibu-ibu mengenakan pakaian dinas PNS. Rambutnya yang pendek seperti baru di-hairspray. Bibirnya juga masih merah segar oleh polesan lipstik.

Sementara itu, anak kecil perempuan yang ikut naik bersamanya – sekitar 6 tahunan – terus menyikutnya, seakan memohon pada sang ibu untuk diam. Namun lucunya, anak itu juga menggerutu. Hanya saja, luapan rasa dongkolnya kurang jelas didengar. Kontra dengan ibunya.

Tetapi ibu itu bergeming. Dia terus saja nyerocos.

“Tampang anak muda zaman sekarang itu sok keren! Bawa-bawa HP berlagak kayak pebisnis, tahunya cuma minta-minta saja sama orang tua!”

Saya yang kebetulan sendirian – well, berdua sama sang sopir – hanya bisa ternganga. Saya ini pelampiasan amarah Si Ibu atau bagaimana, ya? Meski dia tidak sedang marah-marah pada saya, tetapi tetap saja omongannya bikin saya jadi mawas diri.

Jadi bertanya-tanya sendiri, ‘apakah saya punya otak? Apakah otak saya dipakai? Apakah penampilan saya sok keren? Apakah kerjaan saya hanya tengkurap sambil main HP? Apakah saya cuma bisa minta-minta saja sama orang tua?’, dsb.

Kesendirian saya terobati ketika ibu lain, tampaknya lebih tua dan mengenakan kerudung, ikut naik setelah angkot melaju sekitar 100 meter. Namun ibu pertama yang ngedumel tidak menghentikan curahan hatinya. Saya yang awalnya terkaget-kaget berusaha maklum. Kini mulut pun sudah terkatup. Ngelus dada. Mungkin beliau memang sedang butuh momen agar unek-uneknya keluar tanpa sisa.

“Anak muda sekarang itu gak tahu kerjaan rumah. Mereka gak tahu nyapu, ngepel, apalagi ke sawah. Tahunya cuma mijitin HP. Gaya aja dibanyakin! Mestinya saya ini diantar naik motor, tapi karena dia santai banget, saya tinggalin aja. Bodo amat!”

Suara lain menimpali, ‘Bener, Bu, malah dulu ada anak sekolah yang enggak sengaja nginjek saya di angkot. Eh itu bocah cuek aja. Enggak minta maaf atau apa. Bener-bener anak zaman sekarang mah enggak tahu sopan santun!”

Tentu saja, suara itu datang dari ibu-ibu berjilbab yang baru saja naik. Bukan suara saya.

gaya anak muda jaman sekarang, gaya pakaian anak muda jaman sekarang, gaya berpakaian anak muda jaman sekarang, gaya berpakaian anak muda jaman sekarang
Image via: wanna-joke.com

“Lama-lama saya merasa udah jadi babu. Malah lebih parah! Urusan dapur sama saya. Kerjaan rumah sama saya juga! Bisa dibayangin saya pulang kerja, capek, kepala pusing, eh di rumah berantakan!”

“Ibu mau ngantor?” tanya yang lebih senior.

“Iya, Bu,” jawabnya, sambil leher terus melenggok menyapu jalanan, “Saya ini dari kampung, ya, dari Subang. Dari tahun 1982 udah ngebabu sampai bisa jadi PNS gini. Enggak ada hentinya tuh kerja.”

“Keren atuh!”

“Iya, cuma sekarang saya ini capek banget! Enggak di tempat kerja, enggak di rumah, sumpek!” Dia seperti tidak memberi kesempatan pada siapa pun atau apa pun untuk menyelanya, “Penginnya anak muda tuh bisa diandalkan, bukan malah sebaliknya, gaya aja kayak pebisnis,” nadanya meninggi, “Kalau melarat belum bisa menghasilkan uang mah enggak usah ngerokoklah!”

Si ibu berjilbab menanyakan divisi kerjanya. Namun sang ibu tampaknya tak mudah dialihkan. Masih ada bara di dalam dadanya yang perlu didinginkan – tak lain dengan cara dikeluarkan. Dia bahkan tak menghiraukan sikutan anak gadisnya, yang mulai kurang nyaman dengan tatapan selidik dari ibu-ibu lain di hadapannya.

“Di tempat kerja juga, anak mudanya pada gitu. Mau lulusan SMA atau kuliahan sama. Ngomong aja pada tinggi, padahal enggak ada otaknya!”

“Akhir zaman, Bu, akhir zaman.”

*

anak muda jaman sekarang, anak muda jaman sekarang pacaran, lifestyle anak muda jaman sekarang, gaya hidup anak muda jaman sekarang, anak jaman sekarang video
Image via: bagaya.id

Fiyuh!

Kalau diteruskan pasti seru. Tetapi kami hanya bersama-sama di angkot sekitar sekitar 10 menit saja. Si Ibu turun di depan rumah sakit, mungkin tempatnya bekerja. Well, layar sudah ditutup. Pertunjukan sudah usai.

Meski raganya sudah tak lagi di sebelahku, tapi kata-katanya terus menempel di dinding ingatanku.

Nah, saya paling tidak bisa menghadapi outburst semacam itu. Apalagi dari orang yang tidak saya kenal. Mau direspons, takut salah. Makanya jalan paling aman, ya didiamkan. Tampaknya Pak Sopir pun sama, tak kuasa berbuat apa-apa, sehingga hanya melakukan pembiaran.

Menarik juga, sih.

Namun, agar kedamaian terus terjaga, saya tidak akan membela atau menentang habis-habisan apa yang sudah diucapkan oleh si ibu PNS. Bagi kawan-kawan kids nowadays juga, mohon maafkan dan maklumi beliau, ya.

Untuk beberapa poin, saya rasa kita memang mesti berintrospeksi diri. Manusia kekinian, atau orang bilang sebagai generasi milenial, memang cenderung memiliki bonding kuat dengan HP. Rasanya kita akan didera kegelisahan berkepanjangan kalau sampai bepergian dan HP-nya ketinggalan. Ada sesuatu yang kurang, sehingga auranya jadi hampa. Ugh, lebay, ya? Tapi fakta, kan?

Kids zaman now juga digambarkan sebagai generasi yang …

  • Narsis abis
  • Individual
  • Dikit-dikit ‘bangcad!’, dikit-dikit ‘t*i!’, dikit-dikit anj*ng, dikit-dikit as*, dikit-dikit ‘f*ck you!’, dll
  • Ketagihan ngopas kutipan atau quotes untuk dijadikan caption di medsos
  • Doyan bikin video Tik Tok dan kawan-kawannya, walau pun kontennya nirguna
  • Saling menjelekkan dengan sebutan ‘generasi micin’
  • Punya banyak akun untuk stalking, nge-bash, nge-vote, atau memenuhi kepentingan lain
  • Berlomba jadi selebgram, Youtuber, selebtwit, dan influencer lain dengan cara apa pun – termasuk sharing postingan tidak berfaedah, hasil copas, atau repost tanpa mencantumkan kredit pada yang berhak
  • Lebih senang komunikasi lewat media ketimbang bertemu langsung
  • Kurang gerak, karena waktunya dilalap oleh gawai, yang tinggal disentuh atau dipencet
  • Memaknai hampa kalau tak ada koneksi internet atau data
  • Mudah tergoda oleh trend
  • Kerap melakukan pencitraan lewat postingan media sosial
  • Lebih sering tertawa online ketimbang ngakak bareng di tempat tongkrongan
  • Perasaannya lebih sering diwakili emoji atau emoticon ketimbang mengekspresikannya langsung
  • Tanpa sadar, sudah terlalu lama mengabaikan orang-orang tua/ renta
  • Cepat haidh
  • Cepat pandai berdandan
  • Cepat “sok” dewasa sebelum waktunya
  • Dll

Sad but true enggak, sih?

MESKI DEMIKIAN …

Generasi zaman now juga harum oleh pemuda-pemudi yang berprestasi di bidangnya. Prestasi di sini tidak mesti akademis, ya. Bisa apa saja. Sangat luas.

Sebut saja Nadiem Makariem, pendiri sekaligus CEO Gojek yang berperan besar memajukan usaha transportasi daring.

Lalu ada Bayu Santoso, mahasiswa ISI Yogya jurusan Desain Komunikasi Visual yang menang kompetisi desain cover album Maroon 5 (2014).

Terus Rini Sugianto, sang character animator yang menggarap film-film Hollywood seperti Hobbit 2: The Desolation of Smaug, Ted 2, The Avengers, dsb.

Joey Alexander, musisi Indonesia pertama yang masuk Billboard 200. Di usia belianya, dia begitu jenius, sehingga bisa menembus nominasi selevel Grammy.

Musisi-musisi keren seperti Sandi Sandoro, Mocca, White Shoes and The Couples Company, serta yang lainnya juga tak kalah berprestasi. Memukau lewat karya, bukan sensasi.

Dan, masih banyak lagi.

Intinya, siapa pun tidak bisa men-judge dan menggeneralisasi apa pun. Ada emang anak muda yang kurang ajar, tetapi bukan berarti semua anak muda kurang ajar. Ada emang orang tua yang bijak, tetapi bukan berarti semua orang tua bijak. Kita tak bisa memukul rata.

Lalu kita pun mengerucut pada pandangan klasik; bahwa segala sesuatu itu bagaimana orangnya. Mau tua atau muda. Punya otak atau tidak. Otaknya dipakai atau tidak. Demikian, Anak Muda Zaman Now itu Enggak Punya Otak! #RD

4 thoughts on “Anak Muda Zaman Now itu Enggak Punya Otak!

  1. iya bener tuh, kids jaman now emang kebanyakan kaya gitu.. jarang banget punya temen yang bisa ngurus rumah tangga sekarang mah.. bersih-bersih rumah juga masih aja sama orang tua… kadang suka kelewat batas ga bisa dinalar sama orang tua sekarang kelakuan anak jaman sekarang tuh.. mending kalau pakai gawai juga bisa menghasilkan kaya ngurusin toko online gtu… sekarang mah sudah kebanyakan main sosial media sama game..

    1. Hoo iya, Mas Yudha, senang dan bangga lihatnya kalau ada teman atau adik kelas yang enggak gengsian. Mereka gak tabu sama bisnis/ dagang. Data internet itu dijadikan modal, dan medsos jadi media promosinya. Keren lah..

  2. semua tergantung didikan ortu juga ya, krn kebaisaaan untuk mau berbagi tugas dir umah itu diterapakn sejak dini, kl gak jangan harap deh . begitu juga penggunaan hp sejak kecil dibatasai dan diberi batasa2 kpn penggunaan hp, dan etika juga hrs diterapkan sejak kecil, kadanng ortu gak mau menerapkan sejak dini, kl etika jelek selalu bilang ah ,masih kecil, pdhl itu hrs dari kecil, kalau gak janagn harap punya sikap yg baik

    1. Seperti biasa, komentar Mbak Hastira selalu memberikan tambahan berharga bagi postingan blog ini. Tentu sangat bermanfaat kalau dibaca oleh para orang tua, yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi manusia ideal, namun ternyata lupa menanamkan pendidikan yang benar. Hatur nuhun, Mbak ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 17 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.