Home My Files Diary Tentang Menulis atau Blogging Pengalaman Mengikuti Workshop Menulis Bersama Ibu Suri Dee Lestari

Pengalaman Mengikuti Workshop Menulis Bersama Ibu Suri Dee Lestari

2
SHARE
workshop menulis bersama dee lestari, kelas menulis bersama dee lestari, tips menulis dee lestari, lokakarya dee lestari, dee lestari tumblr, buku terbaru dee lestari, dee lestari 2018
Image via: Storial.co

Kalau ada kompetisi menulis cerpen, terus hadiahnya berupa workshop menulis bersama Dee Lestari, kamu tertarik?

Ceritanya, saya sedang mencari ebook tentang psikologi. Ketika googling, saya membuka beberapa links, sehingga tabs-nya banyak. Salah-satunya yaitu situs platform menulis bernama Storial.

Platform itu sudah familier, tetapi saya tidak tertarik untuk bikin akun. Hanya saja, ada pengumuman tentang kompetisi berhadiah workshop yang mencuri perhatian. Saya pun langsung daftar dan mempelajari bagaimana mekanismenya.

Acara tersebut juga menjadi semacam “comeback” saya untuk menulis fiksi. Sudah lama rasanya tidak menciptakan cerpen, fiksimini, novelet, dsb. Tetapi saya kepincut mencobanya. Lagipula jatahnya ada 60 kursi. Siapa tahu, gitu.

Saya pun menerbitkan 2 cerpen untuk dilombakan di platform itu. Sampai kemudian, cerpen “Tantangan Maneken” mengantarkan saya ke Kantor Path yang ada di Atrium Setiabudi Jakarta Selatan (lantai 8). Di sana, saya bergabung dengan peserta pilihan lain untuk mengikat ilmu yang akan dibagikan Ibu Suri Dee Lestari.

Wah! Saya benar-benar sedang beruntung.

Rasanya Bertemu dan Belajar Langsung dengan Dee Lestari

dee lestari, fakta dee lestari, unik menarik dee lestari, pengalaman mengikuti kelas menulis bersama dee lestari, pengalaman mengikuti workshop menulis bersama dee lestari, dee lestari storial
Image via: Storial.co

Kalau sampai tremor sih tidak, ya. Tetapi rasanya itu memang gugup sekaligus excited. Apalagi saya masih dalam suasana “baru selesai membaca novel Aroma Karsa”. Jadi sensasi ajaibnya masih ada. Kebayang jika berbicara langsung, saya sepertinya akan gelagapan. Well, jangan salahkan saya. Dia itu seorang Dee Lestari, jadi auranya beda.

Perasaan yang overwhelming itu saya alirkan pada paperline dan pulpen yang sudah disediakan penyelenggara. Begitu Ibu Suri Dee Lestari bicara, saya sudah siap sedia mencatatnya. Termasuk ketika menyampaikan “pemanasan” sebelum materi inti, tentang ‘Bagaimana Dee Lestari Menulis?’ (Full).

Obrolan Santai: Fakta Menarik Tentang Dee Lestari Sebelum Menjadi Penulis Profesional

dee lestari, dee lestari sharing, obrolan bersama dee lestari, fakta unik dan menarik dee lestari, dee lestari sebelum menjadi penulis profesional, pengalaman mengikuti workshop menulis bersama dee lestari, dee lestari storial
Image via: Storial.co

Sudah 17 tahun (2018) Dee menjadi penulis profesional.

Dee adalah seorang pengkhayal. Diperkirakan dari usia TK, Dee tidak akan bisa tidur malam kalau belum mengkhayal sampai kelelahan.

Dee senang membual pada adiknya yang berbeda 2 tahun. Dulu adiknya itu percaya akan bualannya. Tetapi lama-lama, karena bualannya tidak terbukti, adiknya jadi begitu benci (bercanda).

Ketika kelas 5 SD, Dee sempat berkhayal kalau dia akan menulis buku dan bukunya akan mejeng di toko buku.

Di usia 9 tahunan, Dee membeli buku dengan cover Dian Pisesa. Dia menuliskan semua bualannya sampai penuh. Waktu itu dia sedang tertarik berat sama Enid Blyton. Sama!

Menurut Dee, kariernya sebagai penyanyi itu terbilang mulus dan serba mudah. Namun untuk menjadi penulis, dia mesti kerja keras dan melalui serangkaian proses.

Di masa SMP, Dee mulai mengirim tulisan ke media. Honornya 75k, sangat besar untuk ukuran pelajar. Bahkan Dee mengkhayal bisa membeli apa pun keinginannya, kalau dia bisa mendapatkan honor itu. Namun karena lama tak ada kabar, dia pun menyimpulkan kalau karyanya tidak terbit.

Dee juga rajin mengikuti lomba menulis. Dia merasa karyanya bagus dan layak untuk diikutsertakan. Namun apa daya, dia tidak menang.

Pada tahun 1994, Dee merasa tergila-gila pada sastra. Dia sangat suka pada karya-karya Pak Sapardi.

Ketika ada lomba Cerita Bersambung (cerbung), Dee ikutan hanya untuk mencari perhatian Pak Sapardi. Dia tidak memiliki target untuk menang. Lagi-lagi, keikutsertaannya belum membuahkan hasil. Dia pun jadi berpikir sendiri, apa hanya dirinya saja yang merasa berbakat untuk menulis? Apakah sebenarnya menulis itu bukan dunianya?

workshop menulis bersama dee lestari, kelas menulis bersama dee lestari, quotes dee lestari, kutipan dee lestari, kata bijak dewi dee lestari
Dokumentasi Pribadi

Ketika Majalah Gadis mengadakan lomba menulis artikel, Dee mencoba mengirimkan karyanya. Namun kali ini dia menerapkan strategi berbeda, yakni mengatasnamakan adiknya. Voila! Karyanya juara pertama. Namun bukan nama Dee yang disebut, melainkan nama adiknya. Maka adiknya juga yang menikmati hadiahnya, yakni jalan-jalan gratis ke Carita.

Pengalaman memenangkan kompetisi menggunakan nama adiknya memberikan pelajaran berharga bagi Dee.

Ketika dia menulis karena ada sesuatu yang ingin diungkapkan, bukan karena iming-iming hadiah belaka, maka buah ciptanya akan mengalir begitu saja. Hasilnya bagus, sebab dibuat tanpa adanya modus.

Dee pun merasa, kalau dia bisa menjadi dirinya sendiri ketika menulis. Tak perlu dibayang-bayangi hal lain. Dia juga menyimpulkan kalau passion saja tidak cukup. Untuk menghasilkan karya seni, calon penulis juga mesti mengasah skill.

Terus mencoba. Rutin menulis. Rajin membaca. Tingkatkan jam terbang. Pengalaman itu tak akan bohong.

Tak perlu takut kalau karyanya akan jelek, takutlah kalau karyanya tak pernah selesai. Walau terkesan “kejam”, tetapi tamat mestilah menjadi target. Fokus. Tegas. Jangan mudah terdistrak oleh apa pun, termasuk medsos.

Dee juga mengingatkan untuk tidak mengabaikan kebutuhan fisik. Jangan sampai larut berkarya, sehingga kerjanya hanya duduk, mengetik, ngopi, atau mungkin merokok saja. Gerak fisik juga perlu. Menjalani kehidupan seimbang juga jadi keharusan. Demikian, sekilas Pengalaman Mengikuti Workshop Menulis Bersama Ibu Suri Dee Lestari. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Salah sau penulis panutan sih. Pasti banyak banget ilmu yg didapat pas ikut workshop.

    Gue lagi belajar nulis juga nih kak. Ya menulis lewat blog aja, masih campur aduk tulisannya. Tapi konsepnya sih personal. Hehe

    • Betul.. kadang pengin mundur, soalnya beliau sudah punya fanbase besar. Tetapi mau bagaimana lagi, karyanya itu kayak udah menjawab selera tulisan yang pengin saya baca. Ha ha
      Ilmunya banyak banget! nanti mau saya share, seingatnya, di postingan lain..
      Nah sama, lagi belajar menulis juga. Cuma kalau bisa, selain di blog personal, bisa disalurkan di platform menulis juga. Biar ada masukan2, gitu. Atau ada pembaca khususnya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.