Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Review Penginapan Syariah Murah Meriah di Jakarta Selatan

Review Penginapan Syariah Murah Meriah di Jakarta Selatan

0
SHARE

review penginapan, review hotel, guesthouse syariah, hotel syariah, review penginapan syariah, review hotel syariah, harga per malam hotel syariah jakarta selatan

Untuk menghemat biaya tinggal sementara di Jakarta, saya sudah bertekad akan solo traveling dan menginap di hotel kapsul atau semacam dormitory, gitu. Tetapi ketika searching, tak ada spot yang pas – yang dekat dengan tempat tujuan. Kalau jauh ‘kan bisa berat di ongkos. Gugurlah nanti misi saya untuk menekan bujet.

Saya pun mengubah rencana – mencari tempat menginap lain yang pas via Traveloka. Setelah mencari dengan menggunakan filter harga, deretan opsi pun tersedia. Saya kembali mempertimbangkan faktor lain. Misal lokasinya strategis dan dekat dengan lokasi acara atau tidak, include breakfast atau tidak, refundable atau tidak, dsb.

Guesthouse Syariah

audah guesthouse syariah, review audah guesthouse syariah, audah guesthouse syariah jakarta, audah guesthouse syariah jakarta selatan, hotel syariah, hotel murah di jakarta selatan
Dokumentasi Pribadi

Pilihan saya jatuh ke Audah Guesthouse Syariah yang ada di Jalan Taman Setiabudi I No. 05 Jakarta Selatan. Selain termasuk free cancellation dan sarapan, review yang masuk juga terbilang positif. Label “syariah” juga sepertinya memberi nilai tambahan.

Disebut syariah itu karena segala sesuatunya tidak bersifat bebas. Ya tamunya, makan-minumnya, hiburannya, dll. Dua tamu (laki-laki dan perempuan) yang memesan 1 kamar tidak boleh sembarangan, sajiannya harus halal, tidak menyediakan bar, dsb. Kemudian fasilitasnya juga mesti “ramah muslim”. Di restroom tidak hanya tersedia tissue, melainkan air yang cukup untuk bersuci. Lalu harus ada keterangan arah kiblat, peralatan salat, serta situasinya kondusif – baik untuk rehat atau pun beribadah.

Soal fasilitas dan poto-poto penginapan yang tidak begitu mewah memang wajar. Tarifnya 200k saja untuk 1 kamar single bed, dan 250k untuk 1 kamar twin beds. Dengan harga segitu, jangan sampai berekspektasi ada kolam renang, fasilitas spa, sauna, bathtub, dsb. Untuk ukuran penginapan di Jakarta Selatan, banderol segitu sudah termasuk murah meriah.

Baca Juga: Menjadi Penghuni Sementara Di Hotel Santika, Jadi Lupa Realita!

Kebetulan waktu itu sedang ada promo, sehingga saya mendapat potongan cukup besar, sampai 75k. Lumayan pisan!

Check In di Guesthouse Syariah

review hotel di jakarta selatan, hotel murah di jakarta selatan, penginapan murah di jakarta selatan, rekomendasi hotel murah meriah di jakarta selatan, guesthouse di jakarta selatan
Dokumentasi Pribadi

Di zaman saiki, saya pribadi menyarankan untuk melakukan reservasi online via agen atau aplikasi seperti Traveloka, Tiket.com, Booking.com, Agoda, PegiPegi, dan masih banyak lagi. Selain sebagai upaya “nitip”, reservasi ini juga mencegah kemungkinan biaya yang membengkak. Tak sedikit yang bercerita, kalau pesan hotel langsung di meja resepsionisnya justru bisa lebih mahal dari harga yang tertera dalam aplikasi. Tapi terserah, sih.

Waktu check in di penginapan Audah bisa dari jam 10 pagi dan check out-nya jam 2 siang. Saya tiba di hotel sekitar pukul setengah 2-an siang. Begitu tiba, saya langsung melihat ke sekitar gueshouse. Lokasinya tepat di pinggir jalan, bukan jalan besar, namun masih bisa diakses mobil. Di sana banyak tempat makan, ada semacam swalayan, ATM, dan dekat dengan mesjid. Dari luarnya tampak ramai. Saya rasa dari segi lokasinya memang pas.

atm, atm bersama, atm bersama di guesthouse, atm bersama audah guesthouse syariah, atm jakarta selatan
Dokumentasi Pribadi

Begitu duduk di kursi tamu, seorang perempuan menyambut dan menanyakan apakah saya sudah melakukan reservasi atau belum. Ketika saya menjawab sudah booking via Traveloka, dia menanyakan nama dan mencari-cari di komputernya. Dari gelagatnya, entah kenapa saya menyimpulkan, dia bukan seseorang yang sudah biasa melayani tamu untuk check in. Seperti bingung, klik ini-itu, dan lama sekali. Kemudian dia memanggil seorang lelaki. Usut punya usut ternyata dia kesulitan menemukan tanggal check in saya. Hehe…

Dia kemudian meminta KTP saya, memberi kunci kamar nomor 201, dan mengantarkan sampai ke lantai 2. Ke depan pintu kamar, malah. Maaf, saya tidak kasih uang tip, ya. Soalnya tetap saya yang membawakan tas. Ha ha, bercanda.

Uang Deposit

kamar penginapan, kamar murah di jakarta selatan, guesthouse murah di jakarta selatan, review guesthouse, review penginapan murah, twin bed guesthouse
Dokumentasi Pribadi

Belum lama menikmati istirahat, ada yang mengetuk pintu. Dia adalah staf lelaki yang membawa kertas dan pulpen. Sambil menyerahkan kartu tanda penduduk, dia bilang, ‘Mbak mesti deposit, ya, bukan pakai KTP’. Sebenarnya saya mau membalas ‘yang minta KTP kan pihak anda’ – tetapi tidak jadi, karena nanti bisa berlarut-larut. Saya lelah.

Oh ya, di penginapan ini mirip hotel berbintang, ada depositnya. Saya pun menyerahkan uang sebesar 100k. Namun tenang saja, uang ini akan dikembalikan utuh pada saat check out – kalau memang kita tidak membeli produk atau menikmati jasa lain di luar tarif kamar. Kalau sampai ingin menikmati camilan dalam bufet/ kulkas mini, meminta jasa laundry, meminjam setrikaan, dsb, tentu ada tambahan biaya lagi.

Isi Kamar Guesthouse

Petunjuk kiblat

Begitu membuka pintu kamar, lagi-lagi saya mesti mengingatkan diri sendiri kalau ruangan yang hendak ditempati bukanlah hotel bintang 4. Bagi saya pribadi, ruangannya cukup sempit. Kalau hendak solat dan menggelar sajadah, maka pintunya harus ditutup dan dikunci. Sebab sekiranya ada yang membuka, yang sedang solat pasti langsung terpental. Tanda kiblatnya sendiri tidak ada di langit-langit, melainkan di atas pintu.

Ada meja dan kursi. Di atas mejanya terdapat fasilitas telepon yang memudahkan kita untuk menghubungi resepsionis, room service,dan restoran. Nomor-nomor yang bisa dihubunginya sudah tersedia. Ada teh dan gula, gelas, sendok, dan tissue. Tetapi sayang sekali, kunci laci yang terdapat pada mejanya rusak.

Baca Juga: Pindah Tidur dan Makan Ke Hotel Purnama Mulia Kuningan

Kemudian ada air conditioner alias AC, yang entah kenapa belum bisa menghilangkan sensasi gerahnya Jakarta. Lalu ada hiasan sederhana di atas headboard, lengkap dengan tulisan larangan merokok dan anjuran untuk tidak buang-buang air. FYI, kalau ketahuan merokok bisa terkena denda.

Di dindingnya terdapat lukisan sebagai penghias kamar. Di hadapan kasur, ada televisi layar datar. Sementara di sisi kiri-kanan si kotak ajaib itu, terdapat semacam maklumat berisi anjuran untuk menjaga fasilitas guesthouse. Kalau sampai ada yang rusak, kotor, dan hilang, maka rincian biaya dendanya sudah disediakan. Karena itu, sebaiknya segera melapor kalau ada kerusakan di awal.

Di bawah teve ada bufet kecil, yang saya kira berisi snack dan sandal, namun begitu dibuka ternyata tak ada apa-apa. Lemari gesernya terbagi dua. Yang kanan berisi susunan tempat baju, celana, atau tas. Sementara yang kiri sepertinya untuk pakaian yang digantung. Namun sayang, yang bagian gantungan ini tidak bisa dibuka. Rusak. Tetapi karena tidak begitu urgen, saya pun membiarkannya. Lagi-lagi saya berusaha memaklumi fasilitas beserta biaya yang dikeluarkan. Lagipula masih ada gantungan baju dan kastop di belakang pintu.

Lemarinya dilengkapi dengan cermin yang besar. Tetapi posisinya ada di pojok dan tidak ada lampu, jadinya gelap. Bercermin juga terasa kurang afdal.

Di depan lemari terdapat tong sampah cukup besar. Ada keset juga. Mirip handuk, tetapi karena diletakkan di bawah, jadi saya simpulkan benda itu sebagai keset, ya.

Nah, masih mending penginapan ini menyediakan restroom privat di dalam kamar. Ukurannya kecil, tapi cukup. Ada wastafel,  flush toilet, shower air panas dan dingin, tempat sampah, tissue, sabun, dan sampo. Di sisi kiri shower terdapat tempat untuk dental kit dan toiletries, namun nyatanya malah kosong.

Kalau menilik sekilas, saya rasa guesthouse ini sudah cukup keren – untuk bujet yang sedemikian tipis. Namun tetap saja saya mempertanyakan air mineral (biasanya menjadi simbol penyambutan tamu lho!), ketel (siapa tahu tersedia, soalnya ada colokannya), sandal, handuk, kopi, sikat gigi dan pasta gigi.

Pelayanan Guesthouse

Hal-hal yang saya kurang – air mineral dll – segera ditanyakan via telepon. Saya bertanya dulu, soalnya takut memang sengaja tidak tersedia. Harus maklum sama harga.

Tetapi staf yang saya tanya malah bertanya balik, ‘lho memangnya air mineral sama handuk belum ada?’. Waktu itu saya pengin memutar bola mata sampai 360 derajat, tetapi enggak bisa dan enggak sopan. Saya bilang saja memang tidak tersedia.

Lalu, mungkin karena faktor lelah dan tidak menerima sambutan baik, saya pun berkomentar negatif, ‘kamarnya kayak belum dipersiapkan, gitu’. Maafkan, ya. Mohon saling maklum.

Tak beberapa lama pasca menghubungi nomor 0 atau 100, ada yang mengetuk pintu. Seorang laki-laki. Dia membawa air mineral, handuk, dan isi ulang sabun-sampo. Malam harinya, saya bahkan harus menelpon lagi untuk menanyakan sandal dan sikat-pasta gigi. Oalah!

Ketika Si Masnya datang, saya mesti mengkonfirmasi, ‘Mas pasta gigi dan sikat giginya ganti setiap hari, enggak?’. Dia menjawab, ‘enggak’. Oke deh, kalau begitu, saya harus hemat menggunakan pasta giginya yang memang mini.

Oh ya, saya juga bertanya apakah tersedia ketel untuk air panas, tatapannya mengarah ke atas, lalu bilang, ‘kalau tidak ada ketelnya, berarti di kamar Mbak enggak bisa, soalnya di kamar lain ada. Kalau mau, Mbak bisa pakai galon yang ada di luar, di depan kamar Mbak ini’ – Baiklah. Kopi juga sudah saya tanyakan, dan katanya enggak tersedia. Sementara gula dan teh tidak saya konsumsi. Keesokan harinya pun tidak ada gelagat untuk mengisi ulang teh dan gula tersebut. Terus handuknya juga tidak diganti. Bahkan tidak ada petugas untuk bersih-bersih setiap harinya. Nah, saya mesti sadar diri, ya.

Soal sampah, karena sudah menumpuk, saya pun menelpon dan meminta staf untuk mengangkutnya. Tetapi mereka bilang, ‘simpan saja di depan pintu, nanti kami ambil’. Keesokan paginya, sampah itu masih ada di depan pintu. Mungkin mereka baru membereskannya di siang hari.

WiFi Gratis di Guesthouse

Satu dari sekian daya tarik bagi tamu adalah akses internet gratis. Begitu di Audah Guesthouse Syariah, smartphone saya menangkap beberapa nama WiFi. Untuk satu koridor kamar sepertinya berbeda password. Biasanya kata kunci tersebut sudah tersedia, namun waktu itu tidak ada, sehingga harus ditanyakan ke stafnya.

Kualitasnya sendiri bagus, tetapi tidak stabil. Kadang kencang, kadang malah sangat lambat. Saya juga mesti menjaga posisi agar akses itu tidak labil, misalnya dengan berinternet ria di dekat pesawat telpon. Kalau sudah menjauh dari sana, sinyalnya suka langsung terusik.

Makanan di Guesthouse

penginapan murah, penginapan murah di jakarta, penginapan murah di jakarta selatan, penginapan murah termasuk sarapan, penginapan murah include breakfast

Sistem breakfast atau sarapannya bukan prasmanan, ya. Kamu tinggal menunggu di kamar, dan petugas akan membawakannya langsung. Menunya tidak bisa dipilih. Bisa jadi teh tawar dan roti tawar bakar isi cokelat atau pun teh tawar dan nasi goreng plus kerupuk. Sementara untuk makan siang dan malamnya, kamu bisa pesan ke restoran (ada biaya tambahan) atau mencari ke luar.

Kalau soal pilihan makanan di luar memang sangat banyak. Ada warteg, kedai ayam gepuk, soto gebrak, mie Aceh, restoran, kafe, atau kedai kopi. Semua sudah tersedia. Namun untuk jaga-jaga, kamu bisa mencari tahu atau menanyakan dulu rincian harganya. Kalau soto biasa di pinggir-pinggir jalan bisa ditebus dengan 5k – 13k per porsi, maka di sana bisa jadi 20k (belum termasuk nasi, teh tawar, dan pajak). Beruntung, rasanya memang enak.

Fasilitas Lain di Guesthouse

penginapan murah, fasilitas penginapan murah, tempat fitnes di guesthouse, penginapan murah di jakarta, penginapan murah di jakarta selatan,
Dokumentasi Pribadi

Di lantai 3 ada peralatan fitnes sederhana yang bisa digunakan siapa saja. Namun ruang geraknya terbatas, sebab kondisinya memang sempit. Inget harga! Hehe… kemudian di atasnya ada rooftop yang bisa jadi tempat bersantai, foto selfie, atau sekadar melihat lalu-lalang orang dan kendaraan di bawahnya. Dari spot itu juga, kamu bisa melihat gedung-gedung menjulang, termasuk gedung KPK dengan nuansa merah khasnya.

Check Out di Guesthouse

Masing-masing hotel atau penginapan memiliki kebijakan tersendiri soal check out, termasuk waktunya. Kalau di Audah itu biasanya jam 2 siang. Namun saya pamit lebih awal, yakni jam 9 pagi. Oh ya, usahakan untuk tidak check out melebihi batas waktu yang ditentukan. Biasanya kamu akan dikenakan biaya tambahan sebesar setengah dari tarif penginapan. Kalau semakin lama, misalnya telat 18 jam, maka biaya tambahannya bisa jadi sebesar tarif penginapan utuh 1 night.

Kemudian tanyakan juga uang deposit yang sudah dititipkan di awal. Tetapi guesthouse-nya juga sudah memperhitungkan kalau saya tidak memakan produk dan jasa tambahan, sehingga uangnya dikembalikan secara sempurna sejumlah 100k. Mengurus check out juga tidak risih, apalagi kalau sebelumnya sudah reservasi dulu. Tak sampai 5 menit, saya sudah melenggang dari penginapan. Demikian, Review Penginapan Syariah Murah Meriah di Jakarta Selatan. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.