Sharing Materi Workshop Dee Lestari: Bagaimana Saya Menulis?

Posted on
materi workshop menulis, materi workshop menulis dee lestari, bagaimana saya menulis, bagaimana dee lestari menulis, sekolah menulis, dewi lestari, tips menulis dee lestari
Image via: Storial.co

Dee Lestari adalah salah-satu penulis yang ingin saya temui. Minimal bertatap muka, memastikan kalau wujudnya itu nyata. Soalnya sensasi membaca karyanya itu, bagi saya, terasa ajaib.

Tak pernah terbayangkan kalau saya akan menjadi salah-satu peserta writing workshop-nya. Sungguh beruntung. Belum lagi ditambah bonus berupa durasi pelatihan menulis yang lama, posisi duduk berhadapan langsung dengan sang penulis, bisa berfoto bareng, dsb.

Semuanya memberikan efek bahagia sekaligus gugup. Saya sepertinya tak pernah benar-benar konsentrasi ketika menerima tugas dadakan dari beliau – kecuali latihan panca indra dan membuat paragraf pertama. Ha ha ha

Pokoknya sangat terima kasih deh sama “para jembatan acara”. Khususnya Storial.co, Nulisbuku, dan Path. Jujur, saya memang bergabung dan mengikuti event mereka karena berharap bisa bertemu Ibu Suri Dee Lestari. Rupanya mereka tidak memandang saya sebagai newbie atau apa, sehingga bisa memberikan kesempatan langka nan keren ini.

Oh ya, Storial.co bisa menjadi mitra terbaik untuk para penulis, entah yang ingin sekadar berbagi cerita atau pun mencari tambahan penghasilan. Apalagi platform menulis ini juga baru meluncurkan fitur bertajuk “Storial Premium Chapter”. Jadinya, penulis bisa memeroleh royalti. Nah, kamu bisa mempelajari langsung di situs resminya, ya.

~

Ketika acara utama hendak dimulai, Teh Dee menyampaikan kalau materi yang akan dia berikan “agak lain” dari biasanya. Dia akan membeberkan “rahasia dapurnya” ketika meracik dan mengeksekusi karya. Nah, siapa yang tidak siaga?

Beliau memberi judul “Bagaimana Saya Menulis”. Jadi di dalamnya memang berisi hal-hal yang berlaku dan manjur untuk pembuatan karya beliau. Entah sesuai teori atau tidak. Bagi beliau, those work for her. Jom!

dee lestari, dee lestari workshop, pelatihan menulis bersama dee lestari, kelas menulis dee lestari, dee lestari quote, dee lestari storial.co
Image via: Storial.co

Memahami Ide

Orang-orang kerap menganggap kalau ide adalah sesuatu yang mesti dicari, didapatkan, diciptakan, dll. Bagi Dee, justru ide itu sedang terus mencari-cari dia. Ide menginginkan seseorang yang peka dan ideal untuk dijadikan partner atau pasangan.

  • Ide adalah makhluk abstrak
  • Ide punya satu tujuan: menjadi konkret. Entah menjadi karya tulis (buku), lukisan, lagu, dsb.
  • Ide membutuhkan struktur
  • Ide mencari komitmen

Siapa yang Disukai Ide?

Mereka adalah …

  • Pemerhati yang jeli
  • Pengamat yang peka
  • Pekerja yang gigih dan tekun
  • Partner yang tepat waktu, tidak ingkar janji, bertanggung-jawab, dan memberikan hasil.

Jangkar Cerita – Ke Mana Cerita Bermula

Secara teorinya, Dee tidak tahu pasti jangkar cerita itu apa. Mungkin semacam tema? Premis? Atau awalan untuk berkreasi.

  • Fenomena
  • Seseorang
  • Tempat
  • Perasaan
  • Konsep

Latihan 1

Dee menampilkan sebuah poto/ gambar. Dari tampilan itu, peserta diberi waktu 5 menit untuk menemukan jangkar ceritanya.

Isi Cerita – Ke Mana Cerita Berkembang

Sebelum mengeksekusi ide menjadi karya, pastikan kamu punya isi ceritanya. Soalnya ide itu kadang ilusif. Ketika melintas di otak, ide tersebut sepertinya akan spektakuler. Tetapi begitu dijadikan proyek, ternyata unsur “isi ceritanya” tidak ada.  Meh. Kamu pun jadi frustrasi sendiri. Isi cerita itu meliputi:

  • Konflik

Konflik itu adalah dialog/ interaksi antara tujuan dan penghalang.

  • Hasil (belum tentu ending)

Kamu sudah punya gambaran, akhir ceritanya mau bagaimana.

  • Protagonis: yang mengusung hasil

Misalnya karakter yang memiliki aneka tujuan. Entah untuk menggapai cita-citanya, menemukan saudara kandungnya yang lama hilang, menguak misteri bunga puspa karsa, dsb.

  • Antagonis: yang menghalangi hasil

Antagonis itu tidak melulu tentang orang jahat. Antagonis itu bisa apa atau siapa saja yang menghalangi hasil. Termasuk kondisi keterbatasan, komunikasi jelek, bunga puspa karsa yang mengutuk (misalnya), dsb.

Latihan 2

Masih dari gambar yang sama, Dee meminta kami untuk menentukan konflik, hasil, protagonis, dan antagonisnya.

Metode Pemetaan Cerita

Dee sempat “trauma” dengan yang namanya kerangka karangan. Dia berpikir, ‘untuk apa kerangka karangan bagi kemaslahatan saya?’. Tetapi begitu menulis Partikel, dia justru mulai memperdalam teknik membuat kerangka karangan atau memetakan cerita. Demikian juga dengan karya terbarunya, Aroma Karsa, yang wajib dibuat petanya dulu.

Baca Juga: Resensi Novel “Aroma Karsa” Dee Lestari: Bencana Dari Cinta dan Obsesi 

Kamu bisa saja nyeletuk, ‘apaan saya gak suka struktur-strukturan atau aturan-aturan’. Tetapi hati-hati, celetukan semacam ini bisa jadi bermula karena kemalasan. Sedangkan malas itu ialah musuh segala bangsa. He he he

Pemetaan ini justru bisa menjadi ancang-ancang, agar kamu bisa mengantisipasi apa yang tidak terprediksi di depan.

Metodenya sendiri yaitu:

  • Pohon ide/ mindmap
  • Papan adegan/ scene board
  • Bagan babak

Apa yang Harus Dipetakan?

  • Babak I 20%: Set-up, perkenalan, status quo, pemicu
  • Babak IIA 30%: Halangan, perubahan sementara, upaya mencari solusi
  • Babak IIB 30%: Halangan semakin besar, kesimpulan tipuan, titik terendah, upaya terakhir
  • Babak III 20%: Puncak konflik, semua kartu terbuka, perubahan nyata, kesimpulan akhir

Cermat Dipisahkan

  • Apa yang diketahui penulis? Tentu saja penulis mesti tahu semua kartu. Jangan sampai kebingungan, sebab nanti pembacanya juga akan bingung.
  • Apa yang diketahui karakter?
  • Apa yang diketahui pembaca?

Berapa Besar Ruang yang Dibutuhkan

  • Puisi
  • Artikel/ Blog: 400-1.000
  • Cerita Pendek: <7.500
  • Novelet: 7.500- 17.500
  • Novela: 17.500- 40.000
  • Novel: 40.000- 100.000
  • Novel Epik: >100.000
dee lestari, dee lestari workshop, inspirasi menulis novel, pelatihan menulis bersama dee lestari, dee lestari quote, dee lestari storial.co
Image via: Storial.co

Kalkulator Cerita

Menghitung Deadline

  • Target tanggal rampung draf pertama
  • Target hari kerja per minggu
  • Target jam kerja per hari
  • Target jumlah kata per hari

Poin yang satu ini sangat personalize. Semuanya tergantung waktu kamu. Yang pasti, keadaan itu tidak pasti. Kadang ada masanya kamu bersemangat, namun ada juga momen kamu capek, ngantuk, diganggu anak-anak, dikunjungi saudara, dsb. Tak apa. Fleksibel saja. TETAPI, upayakan target tetap harus dipenuhi. Kalau dalam satu hari targetnya 500 kata. Lalu hari ke-2 libur dulu. Maka hari ke-3 mesti dibayar jadi 1.000 kata. Kalau bisa sih, begitu.

Dee menyatakan kalau manusia modern zaman now itu sulit fokus. 1 jam itu kotor. Bersihnya paling Cuma 45 menit atau berapa, soalnya terganggu oleh melamun, selfie, update status, cek WA, melihat story orang lain, dsb. Hati-hati dengan semua distraksi.

Latihan 3

Patokannya masih gambar. Kami diminta untuk membuat skema kalkulator cerita. Karya kami akan termasuk kategori apa (puisi, artikel, cerpen, novel, atau apa). Kira-kira akan berapa kata. Deadline-nya kapan, ditulis hari dan tanggal pastinya.

Riset Tepat Guna

Dee bilang, ‘riset adalah alasan paling seksi untuk menunda menulis’. Ha ha ha

Tujuan dan Fungsi Riset

  • Meningkatkan derajat keyakinan penulis
  • Memperkaya cerita, tetapi tidak mengganti kemampuan bercerita
  • Data panca indra, bukan hanya fakta. Jadi sebisa mungkin kamu mengunjungi setting tempat dalam cerita, merasakan hawanya atau mendeteksi warna tanahnya. Kalau tidak, kamu bisa melakukan wawancara atau searching dengan sumber yang bisa dipercaya.
  • Riset itu dilakukan secara simultan; sebelum menulis, saat menulis, dan semasa penyuntingan.
  • Hasil risetnya menjadi suara karakter dan bagian inheren cerita, jangan sampai terkesan menjadi petuah penulis. Nanti seperti menggurui atau memberi kuliah umum, nanti pembaca bisa kabur dari semesta yang sudah kamu cipta.
  • Hasil akhir: verisimilitude, rasanya itu nyata dengan realitas.

Latihan 4

Kami diminta memperhatikan detail gambar, termasuk berimajinasi tentang udaranya, apa saja yang ada di sekitar tokohnya, waktunya senja atau pagi, dsb. Kemampuan untuk menajamkan dan mendeskripsikan sesuatu yang ditangkap oleh panca indra benar-benar diuji.

Karakter yang Memikat

Dee menyembulkan quotes menarik, ‘karakter yang hidup adalah hasil desain, bukan kesurupan’.

  • Dia adalah seseorang yang abu-bu dengan gradasi cerah dan kelam, bukan hitam atau putih. Yang “jagoannya” belum tentu seperti malaikat tanpa cela. Demikian juga yang “jahatnya” belum tentu keji terus seperti iblis.
  • Punya alasan manusiawi, bukan sekadar moralis
  • Punya kelemahan, sekaligus kekuatan yang menginspirasi
  • Punya kebiasaan, pola perilaku
  • Punya ciri

Latihan 5

Kami ditugaskan untuk memberikan nama pada karakter. Lalu menerangkan ciri-ciri, kekuatan, serta kelemahan karakter tersebut.

Ciri Cerita yang Berhasil

  • Bisa memikat perhatian pembaca sejak awal
  • Mengikat keberpihakan pembaca hingga akhir
  • Menunaikan yang dijanjikan
  • Logis, kalau pun mau membicarakan tentang planet lain atau alien, harus mengikuti sebab dan akibatnya.

Sentuhan Profesional

  • Rapi, minim typo
  • Berwawasan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)
  • Pembuka yang kuat. Jangan buang waktu dan peluru (kata-kata). Langsung tembak di halaman pertama. Sebab, bagian ini ibarat kunci untuk membuka gerbang dan sangat menentukan nasib karya, apakah akan diikuti atau justru ditinggal oleh pembacanya.
  • Atur tata letak yang nyaman.

Latihan 6

Membuat paragraf pertama yang langsung menarik perhatian. Usahakan yang mengandung paradoks, bikin berpikir, dan bisa memicu perhatian pembaca.

Dee Lestari mencontohkan paragraf itu dibuka dengan tanda petik: “Aku tidak menyesal sudah membunuh pacarmu”. Dari kalimat itu saja, pembaca pasti langsung terpicu untuk mencari tahu atau menelaah lebih jauh.

Memahami Kendaraan dan Cara Berkendara

  • Dialog adalah pedal gas
  • Deskripsi adalah rem
  • Narasi adalah rem sekaligus mesin waktu
  • Tanda baca adalah klakson
  • Kata sifat adalah aksesoris. Gunakan secukupnya. Tak perlu pakai ‘3 tanda seru’. Kalau kebanyakan justru jadi
  • Kara sifat predikatif: terlampau jauh, sebisa mungkin hindari saja – kecuali jika benar-benar dibutuhkan. Coba ubah ‘benar-benar sangat berarti’ menjadi ‘berarti’ saja. Cukup.
  • PoV (Point of View) atau sudut pandang adalah porsneling, setiap jenis PoV memiliki kesulitan dan keuntungan tersendiri. Kalau PoV ke-1 terkesan mudah, yang PoV ke-2 itu seperti eksperimen (jarang digunakan), sementara yang PoV ke-3 terbatas itu lebih sering Dee gunakan.
  • Bedanya plot dengan cerita: kalau plot terjadi di luar kendaraan (eksternal), sedangkan cerita di dalam kendaraan (internal). Plot itu contohnya tanjakan, belokan, kontur jalan turun-naik, dsb. Sedangkan cerita itu lebih kepada apa yang dirasakan karakter ketika ada plot yang terjadi, misal ketika dia melintasi turunan, tanjakan, kelokan, dsb. Kalau kebanyakan plot, nanti seperti menonton film Kalau kebanyakan cerita, nanti seperti menonton film Twilight. Gunakan plot dan cerita secara seimbang.

Kenali Senjatamu: Lihai Gunakan Kata

Kalau mau memberikan kesan marah, kagum, klepek-klepek jatuh cinta, dsb, jangan bersandar pada tanda baca, tetapi kata-kata.

  • Setiap kata adalah peluru
  • Kenali kapan memberondong, kapan menembak tepat jitu
  • Semakin presisi (keadaannya pasti) target tembaknya, semakin telak dampaknya
  • Jangan sia-siakan pelurumu (kata-katamu)
  • Perbanyak kosa kata = perbanyak amunisi

Menguasai Swasunting

Dee mengingatkan: ketika menulis, harus royal. Tetapi begitu masuk sesi penyuntingan, rampingkan!

  • Beri waktu “fermentasi” sebelum menyunting
  • KBBI is your best friend, cek ulang semua kata yang kamu ragu. Misalnya dulu Dee baru tahu kata baku dari sendawa itu serdawa, melesat itu jadi memelesat.
  • Rampingkan setiap kalimat semaksimal mungkin
  • Ceritakan ulang karyamu secara lisan; trik ini membuat Dee menyadari banyak hal tentang karyanya.
  • Siapkan para pembaca (pertama) dan kuesioner
  • Kill your darlings, kamu mesti siap “membunuh” hal-hal yang kamu sayang, termasuk karakter emasmu. Pokoknya mesti jadi raja atau ratu tega.
dee lestari, dee lestari poto, selfie bersama penulis, workshop bersama dee lestari, pengalaman mengikuti workshop menulis, materi workshop menulis, sharing materi workshop menulis
Dokumentasi Pribadi

Latihan 7

Sunting ceritamu seramping dan serapi mungkin.

Di sesi ini, Dee – secara eksklusif – mengambil salah-satu naskah pemenang. Dia menuliskan paragraf pertamanya pada white board. Setelah itu, dia meminta partisipan untuk memangkas paragraf tersebut. Pada akhirnya, Dee sendiri yang melakukan “penyempurnaan” penyuntingan. Amazing!

Tahap Dee Menulis

  1. Temukan jangkar cerita
  2. Riset (berkelanjutan)
  3. Mengembangkan isi cerita
  4. Memetakan cerita
  5. Menimbang cerita
  6. Menghitung deadline
  7. Menulis draf pertama
  8. Fermentasi
  9. Penyuntingan
  10. Berbagi

Berkomitmen Kepada Ide

  • Tamat adalah target
  • Ciptakan ritual menulis rutin
  • Membaca adalah nutrisi
  • Jangan abaikan kebutuhan fisik, jalani hidup berimbang
  • Sering mencoba, tingkatkan jam terbang
  • Jangan takut jelek, takutlah tidak selesai

Kaizen Writing

Istilah yang baru saya tahu ini memiliki makna “menulis dengan kemajuan berkesinambungan”. Artinya:

  • Terus belajar, tidak cepat puas
  • Berdamai dengan ketidaksempurnaan
  • Buat tantangan baru pada setiap karya
  • Menulis hingga menemukan suaramu sendiri
  • Gali hingga menjadi art (seni)

Menurut Dee, passion saja tidak cukup. Untuk menciptakan karya seni, perlu skill juga. Skill itu harus terus diasah. Produktiflah menulis. Pada akhirnya, kamu akan menemukan flavor sendiri.

Wuih! Panjang juga, ya. Semoga bermanfaat. Demikian, Sharing Materi Workshop Dee Lestari: Bagaimana Saya Menulis? #RD

4 thoughts on “Sharing Materi Workshop Dee Lestari: Bagaimana Saya Menulis?

    1. Yang terbukti keren itu Ibu Suri Dee Lestarinya, Kakak. Tetapi semoga saya juga kecipratan. Hehe …
      Aamiin … terima kasih, Kak Ngasih! ^^

    1. Betul, Mbak Mela, beruntung banget!
      Sebagai ungkapan sykur dan terima kasih juga, makanya materi ini di-share. He he
      Sama-sama, semoga bermanfaat, ya. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.