Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Kamu Sekolah Tapi Enggak Kerja, Ijazahmu Sia-Sia Enggak Terpakai, Dong?

Kamu Sekolah Tapi Enggak Kerja, Ijazahmu Sia-Sia Enggak Terpakai, Dong?

6
SHARE
ijazah sia sia, ijazah sekolah, bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah, pekerjaan tidak sesuai jurusan kuliah, pekerjaan berbeda dengan jurusan kuliah
Image via: freepik.com

Judul postingan ini terinspirasi dari pertanyaan seorang teman yang baru bersemuka (lagi). Jangan judge dia. Kamu belum kenal benar.

Dia itu sangat baik. Beneran. Dia selalu ingin tahu pilihan hidup saya. Ketika saya sedang membutuhkan teman pun, dia datang. Oh, dia juga suka menawarkan makanan, minuman, dan tumpangan kendaraan.

Tetapi saya memang tidak menyangka kalau dia, untuk kali kedua, menanyakan hal sama; ‘kok kamu enggak pernah melamar pekerjaan? Ijazah S1 kamu enggak terpakai gitu aja?’. Suaranya terdengar sumbang. Bikin saya gusar. Dia tidak mendorong ke tembok, tetapi saya merasa tersudut. Tatap matanya seakan mencebik dan memekik:

“Itu orang tua nguliahin kamu pake uang, bukan plastik!”

“Sekolah tinggi-tinggi tapi enggak berkarier? Apa enggak sayang tuh?”

“Kalau cuma jadi pengangguran atau nanti ibu rumah tangga, ngapain ngampus, kamu?”

Untung siang itu saya sudah ngopi dan sedang memegang air mineral kemasan botol yang terbayang segar. Untung juga, saya sudah mengenalnya. Saya pun mengumpulkan sisa-sisa prasangka baik, menganggap dia tengah menunjukkan kepeduliannya. Sehingga rasa tersinggung itu enggak jadi nempel di hati.

Hanya saja, saya paling malas menjelaskan sesuatu, yang sebetulnya sudah dijelaskan tempo lalu dan tetap tidak dia pahami.

ijazah sia sia, ijazah tak berguna, saya dan pilihan saya, prinsip, perempuan kaget, wanita kaget
Image via: freepik.com

Sungguh! Saya pun bisa membalikkan keadaan. Membalasnya dengan pertanyaan sensitif lain yang bisa bikin dia dongkol. Tetapi kalau saya melakukan hal sama, apa bedanya saya dengan dia?

Bukan, menurut saya dia bukan bagian dari haters. Dia masih teman saya. Cuma mungkin, dia sedang ingin memastikan kalau pilihan saya ini sudah mantap apa belum. Mungkin menurutnya, ada jalan hidup lain yang lebih baik yang mesti saya jalani.

Lagipula saya sudah mulai terbiasa dengan komentar semacam itu. Awalnya, iya, saya jengah dan merasa bersalah. Apalagi di bagian yang bawa-bawa perjuangan orang tua. Kesannya itu saya egois dan ogah membalas jasa mereka yang sudah membantu kuliah.

Makanya saya pun pernah berbincang dengan ibu, menanyakan apakah beliau memang ingin saya mencari pekerjaan, memakai seragam, punya jam berangkat dan pulang, mendapat gaji bulanan, dan menyisihkan jatah untuk beliau. Tetapi syukurlah, seperti yang saya duga, beliau cool. Menurutnya, beliau tidak akan mendikte kehidupan saya.

Selesailah urusan dan pilihan saya.

Pasca menyandang gelar akademis dari kampus, saya memang menyusun misi untuk menguliahkan kedua adik. Saya adukan hal ini pada seorang sahabat. Sementara itu, karier potensial yang saya hadapi yaitu menjadi guru honorer. Lalu saudara saya yang sudah menjadi guru senior, PNS, dan pernah hidup sengsara di masa lampau memberi amanah menohok:

Kalau orientasimu uang, jadi guru pemula bukanlah pilihan. Cari di celah lain, sana! Tetapi kalau misimu benar-benar untuk mendidik dan mengabdi, silakan. Pintu terbuka lebar.”

Saya juga kembali memutar memori PPL, memutar salah-satu lagu Pink Floyd, serta memutar obrolan dengan almarhum kakak. Singkat cerita, dosen mengajak saya untuk mengajar di lembaga kursus. Sambil memenuhi jadwal, saya dan sahabat (rasa saudara) fokus mengelola blog. Dari 1, menjadi 2, menjadi 3, dst. Banyak hal terasa berjalan dalam 1 momen. Ya menuruti passion, belajar hal-hal super baru, bekerja tim, memeroleh proyek, termasuk mengais rezeki. Bergairah sekali!

Paling tidak, dengan semua yang sudah berjalan ini, saya sudah memenuhi harapan untuk mendukung sepak-terjang kedua adik. Tinggal 1 belum tuntas. Sebentar lagi. Semoga sama-sama panjang usia dan rezekinya berkah. Mohon saling mendoakan ya, Yorobun.

Saya juga jadi memiliki waktu fleksibel untuk membantu usaha kios ibu. Memang, beliau belum memberikan hak milik dan kelola sepenuhnya. Tapi sepertinya, saya bisa meringankan sedikit beban beliau. Entah untuk keperluan belanja, menentukan harga, dan melayani pelanggan. Lumayan, ‘kan?

Oh iya, saya tidak menceritakan semua ini pada orang yang bertanya, ‘kok kamu enggak pernah melamar pekerjaan? Ijazah S1 kamu enggak terpakai gitu aja?’. Dia tidak tahu apa-apa. Soal dia melabeli saya nganu, wajar.

Hikmah

hikmah, tak ada yang sia sia, hikmah dan kebaikan, semua sudah ada yang ngatur, bahagia dengan pilihan sendiri
Image via: feelgoodinwest.nl

Kalau ada pertanyaan terkait ijazah, kadang saya suka flashback. Kalau tidak mencicipi bangku kuliah, barangkali saya tak akan bertemu dengan sahabat (rasa saudara) yang menjadi partner in crime selama ini. Saya juga akan blank tentang Bahasa Inggris. Soalnya, sampai detik ini, bahasa asing tersebut masih saya manfaatkan dan pelajari. Oh, saya pun pasti akan dihantui rasa bersalah, sebab ketika ibu sakit, saya tak bisa mengurus beliau dan kiosnya. Tak terbayang bagaimana kalau saya menuruti nafsu untuk bekerja atau pergi ke luar kota – sebagaimana yang dulu pernah saya rencanakan.

Saya yakin pertemuan saya dengan sahabat (rasa saudara), pembuatan blog, bakti pada ibu, dll, itu tak sia-sia.

Ungkapan “punya ijazah tapi enggak kerja itu sia-sia” bisa berlaku bagi orang lain, tetapi tidak bagimu. Demikian juga sebaliknya. Tergantung bagaimana pandanganmu.

Nah, salah-satu pemicu mom war juga tak jauh dari hal ini. Banyak wanita karier yang memandang ibu rumah tangga lulusan S3 dengan sebelah mata. Berpendapat kalau mereka itu cuma buang-buang uang dan kesempatan. And vice versa, yang menjadi ibu rumah tangga memandang rendah wanita karier. Berpendapat kalau mereka itu kurang sayang anak dan enggak total berbakti pada keluarga.

Lingkaran setan, ya.

Tetapi memang tak ada seorang pun yang menjadi kamus, yang menerjemahkan kalau ‘punya ijazah itu artinya harus kerja’.

Semua orang punya prinsip dan pilihan. Tetapi tak semua orang punya rasa respect terhadap prinsip dan pilihan orang lain.  Kamu Kuliah Tapi Enggak Kerja, Ijazahmu Sia-Sia Enggak Terpakai, Dong? #RD

SHARE

6 COMMENTS

  1. Segala puji bagi Awlloh dan berkat Cahaya Rasulnya qta d pertemukan…
    InsyaAwlloh esok lebih baik 😀
    Love U ^^

    Rejeki mah lain duit w qtuh wahaha, Ngaluarkeun duit buat belajar / menuntut ilmu yg d dalamnya ada silaturahmi = (ibadah) mah wajar. 😎

    ~ Dari x1 orang yg suka buang2 uang ~

  2. Alhamdulillaahirobbil ‘alamiin, Ma Big Brother. Alloohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.
    *Daku suka inget dirimu soal baca hamdalah dan sholawat ini
    Insya Allah lebih baik. Aamiin…
    Love you too, tukang buang2 uang (baca: invest) 😀

    Hahaha iya. Tapi kalau baginya rezeki = uang dan pekerjaan, ya itu pemikirannya. Daku bisa apa. :p

  3. Kak ini motivasi banget, makasih krna mau berbagi :’)

    Aku ngerasain ini jg, sthun lulus kuliah dn gk ngelamar kerja. Aku kira cuma sendiri krna semua org kayak aneh ngelihat keputusanku, bahkan terkesan menyalahkan. Kdg jadi merasa bersalah jg sama ortu. Tpi setelah baca ini, aku jdi lebih terbuka dn tenang nanggapin org2 yg nanya, dan tentunya lebih tenang jg buat trus ngeblog meski masih berantakan. Hehe

  4. Syukur atuh, ya. Sama-sama, Mbak Rizki.

    Nah, saya pun jadi ada temennya, nih. Hehe

    Hmm … persepsinya saja mungkin berbeda. Mereka mungkin bermaksud menunjukkan rasa peduli dan “ingin menyadarkan”, sementara kita merasa risi dan terusik. Yang terpenting pilihan itu baik, tidak merugikan pihak mana pun. Hehe … sama nih! hayuk dirapikan ngeblognya. ^^

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.