Kenapa Masih Menyukai dan Melakukan Sesuatu yang Jelas Berdampak Buruk Bagi Diri Sendiri?

Posted on
berubah menjadi lebih baik, berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, kata kata berubah menjadi lebih baik, berubah menjadi lebih baik dalam islam, memperbaiki diri menjadi lebih baik, cara merubah diri sendiri menjadi lebih baik, aku ingin berubah menjadi lebih baik
Image via: chadoamor.com.br

“Tuh ‘kan, gimana gak pada penyakitan? Sudah makan, malah tiduran, sampai kebablasan.”

Celetukan saudaraku terngiang di telinga. Waktu itu kami memang sudah makan-makan: nasi, sayur asem, ayam, dan sambal. Dua diantara kami juga langsung mengambil posisi uenak di kursi panjang. Ada untungnya saya cuma duduk, jadi enggak kena semprot.

Tetapi saya jadi tercenung. Iya saya tahu junk food itu lezat, tidur sehabis makan itu enak, saya dengar merokok itu nikmat, katanya alkohol itu meredakan penat, dlsb. Tetapi saya tahu, semua itu berdampak buruk pada siapa pun – tak terkecuali. Ironisnya, saya – sepertinya kamu juga – justru selalu kepincut melakukan semua itu. Kenapa?

Sebuah artikel di Lifehack memuat isi studi dari US Centers of Disease Control and Prevention (CDC). Mereka menyebutkan 3 besar penyebab kematian di Amerika Serikat. Posisi perdana ditempati oleh tembakau (merokok), disusul kemalasan bergerak dan buruknya pola makan, serta konsumsi alkohol yang tinggi.

Semua orang tahu 3 hal itu memang berbahaya, tetapi kita justru ramai-ramai melakukannya. Why oh why?

Karena Kita Merasa Nyaman

Kenyamanan jadi suatu perasaan yang paling dicari dan diharapkan. Namun kenyamanan juga bisa menjelma menjadi monster cute. Ketika melakukan “hal yang enak-enak namun diam-diam berbahaya”, hormon dopamine atau pemicu rasa senang datang. Kita pun cenderung jadi ketagihan. Enggak heran kalau 4.20 alias Fourtwnty menyarankan untuk, ‘keluarlah dari zona nyaman’.

Karena Orang Lain pun Begitu

Ada perasaan “cemburu” ketika orang lain bisa malas-malasan, enggak rutin olahraga, menghisap rokok, melahap makanan dengan bebas tanpa saringan, dsb. Parahnya, mayoritas tetap sehat dan body-nya tidak terpengaruh. Ngiri.

Pikiran ini akan menggiring pada aneka alibi. Bisikan-bisikan setan pun terus menggelitiki: ‘satu kali doang enggak bakal matilah’, ‘menerapkan pola hidup sehatnya besok saja deh’, ‘hari ini hari stres, maklumlah kalau mabok’, atau ‘kakek yang perokok berat saja bisa panjang umur kok’. Semua bisikan itu sangat lihai mengelabui keputusan diri sendiri.

Karena Tidak Berpikir Jauh Ke Depan

Peringatan keras rokok tidak hanya disampaikan oleh orang yang enggak merokok. Bahkan perusahaannya pun menjelaskannya secara gamblang pada kemasan. Malah disertai gambar bernuansa ngeri seperti tengkorak, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, dsb.

Hanya karena kematian dan kanker tidak langsung terjadi pada hisapan pertama, banyak yang meyakini kalau mereka tak akan terkena pengaruh buruk di masa depan. Padahal selain masalah kesehatan, rokok juga berimbas pada problem lain, misalnya ekonomi — tetapi lagi-lagi, semua kembali pada kebijakan diri sendiri.

Bagaimana Agar Bisa Menyudahinya?

Tak mudah memberikan tips berupa tulisan kepada siapa pun yang hendak menghentikan sebuah kebiasaan, apalagi kebiasaan buruk. Banyak pemicu yang membuat kita terus tergoda dan tergoda. Stres sedikit, bagi sebagian orang, akan langsung lari pada rokok, alkohol, atau kopi yang berlebihan.

Tetapi fase ini bisa sedikit lebih mudah apalagi sudah ada pengganti yang lebih baik. Misal ketika stres, kita punya alternatif lain. Entah itu makan cokelat, silaturahmi ke saudara, konsultasi ke pemuka agama, dan cara lainnya – yang tidak punya risiko lebih buruk.

Perlu komitmen dengan diri sendiri. Kalau komitmen dengan orang lain, kemungkinan untuk dilanggarnya masih besar. Kamu bisa saja berkomitmen untuk tidak begadang pada pasangan, namun ketika dia lengah, diam-diam kamu melakukannya. Nah.

Selanjutnya, kita pun mesti konsisten.

Seperti yang orang-orang bilang, perubahan itu mudah. Yang susah itu konsistensi. Ditambah juga dengan persistensi, alias kegigihan. Selamat berjuang demi masa depan! Kenapa Masih Menyukai dan Melakukan Sesuatu yang Jelas Berdampak Buruk Bagi Diri Sendiri? #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.