Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Pertanyaan “Apa Kabar” Tak Mesti Dijawab “Baik-baik Saja”, Jujur juga Tak Apa

Pertanyaan “Apa Kabar” Tak Mesti Dijawab “Baik-baik Saja”, Jujur juga Tak Apa

0
SHARE
pertanyaan apa kabar, baik baik saja, cara menjawab pertanyaan apa kabar, jawaban bila ditanya kabar, jawaban apa kabar, jawaban jika ditanya apa kabar,
Image via: wallhere

“Apa kabar?”

“Gimana kabarnya?”

Ada seorang teman yang rutin melontarkan pertanyaan di atas. Padahal kami cukup sering chattingan. Misal Jumat dia chat duluan dengan menanyakan kabar, maka Sabtunya dia akan kembali memulai obrolan dengan pertanyaan yang sama.

Saya hampir bosan menjawab “baik-baik saja” di kolom chat. Basa-basi saja. Namun atas nama norma sopan-santun, saya ladeni saja pertanyaannya. Tak lupa, saya pun bertanya balik. Tak disangka, jawabannya ternyata tidak sama dengan saya. Dia membalas,

Alhamdulillaah… raga sih sehat-sehat saja.”

Kalimat sederhana itu membawa pesan yang cukup rumit dari perkiraan. Katakanlah, dia memang sehat secara raga. Namun dia juga sedang dilanda masalah.

Jujur banget, ya?

Biasanya dia menjadi salah-satu tempat saya curhat. Namun dengan jawabannya yang seperti itu, jadinya dia yang curhat. Mungkin dia memang sengaja memberikan respons yang berbeda, agar saya peka dan menggali apa yang sedang dirasakan atau dipikirkannya.

Pernah juga dia tak bertanya “apa kabar”, melainkan memberi doa ‘semoga kamu dalam keadaan baik, lahir mau pun batin’.

~

topeng pura pura bahagia, pura pura bahagia itu menyakitkan, kata kata pura pura bahagia, orang yang pura pura bahagia, pura pura bahagia padahal sedih, kata kata pura pura tegar, caption berpura pura bahagia
Image via: imgur.com

Sepertinya kita sudah “terdidik” untuk memoles perasaan yang sebenarnya. Aneka pertanyaan “apa kabar” langsung saja dijawab “baik-baik saja” – walau sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.

Hati sedang sedih, tetapi foto selfie yang diunggah di medsos mah tampak tersenyum. Badan sedang sakit-sakitan, tapi emoji mah ngakak terus. Pikiran sedang negatif, tetapi postingan yang disebar di WA story mah positif dan memotivasi. Atau perasaan sedang kalut, tetapi wajah dan bibir mah tersenyum lebar, seakan hidup itu polos tanpa problem apa pun.

Mungkin ada yang tidak ingin “dikasihani”, ada yang tak peduli dengan keadaan sebenarnya, ada juga yang memang tertuntut untuk tampil strong.

Bebas sih untuk menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya dari orang lain, tapi bebas juga untuk mengekspresikan perasaanmu yang sebenarnya pada orang lain.

Saya yang awalnya ingin memutar bola mata pada para penyebar status galau, jadi berubah pandangan. Bagi saya, mereka itu tukang ngeluh yang cari perhatian. Keluhan soal hujan, kemacetan, makanan yang keasinan, teman yang datang terlambat, pasangan yang enggak nurut, harga bakso yang kemahalan, antrian yang kepanjangan, dsb.

Tetapi setelah dipertimbangkan, hey mereka berhak untuk menunjukkan perasaannya. Silakan saja. Bahkan mungkin saja aksi mereka itu lebih bagus, ketimbang dipendam sendiri. Sampai membusuk. Sampai meledak.

topeng, pura pura bahagia, cara pura pura bahagia, topeng wajah manusia
Image via: lunamatic.net

Lagipula, kenapa sih kita seakan terdorong untuk tampil baik-baik saja?

Kalau dibikinkan topeng, entah sudah ada berapa buah di wajah manusia. Topeng-topeng itu didesain khusus untuk menutupi wajah sebenarnya. Wajah yang sebenarnya sedang sakit hati, sedang kecewa, sedang stress, sedang nyeri, dll. Kenapa tidak sudi mengakui semua keadaan negatif itu, padahal ‘kan manusiawi?

Tak Ada Salahnya Jujur dengan Keadaan

Respons negatif terhadap pertanyaan “apa kabar?” bisa menjadi bentuk kejujuran dari diri sendiri. Itu berarti kamu sudah jengah mesti berakting “baik-baik saja”, padahal jelas-jelas ada yang tidak beres. Tak apa-apa untuk terbuka saja, khususnya kalau yang bertanya itu adalah sosok yang kamu percaya.

Kalau kata psychotherapist  bernama Barton Goldsmith itu ‘ketika kamu buka mulut, kamu itu sebenarnya sedang membuka hati juga. Dan ketika tahu ada orang yang benar-benar menyimak perasaanmu serta memahamimu, itu rasanya sangat menenangkan bagi jiwamu’.

Tak apa-apa ketika seseorang yang kamu percayai bertanya ‘apa kabar?’, terus kamu menjawab ‘buruk’. Momen itu justru menjadi kesempatan untuk mengutarakan hal sebenarnya. Tetapi kalau kamu enggan nyaman untuk jujur, silakan poles dengan jawaban seklasik “baik-baik saja”.

Kalau pun kesulitan membuka diri pada orang lain, masih banyak media untuk berekspresi. Kamu bisa menuangkannya pada tulisan, nyanyian, status media sosial, caption, blog, dll. Yang penting enggak numpuk. Pertanyaan “Apa Kabar” Tak Mesti Dijawab “Baik-baik Saja”, Jujur juga Tak Apa. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.