Home My Files Diary Tentang Menulis atau Blogging 8 Kriteria Blogger Keren, Tidak Percaya  Kalau Mereka Sudah Sempurna

8 Kriteria Blogger Keren, Tidak Percaya  Kalau Mereka Sudah Sempurna

6
SHARE
blogger keren, kriteria blogger keren, blogger, blogger adalah
Image via: twentysomethingmeltdown.com

“Ibarat sekolah, kamu itu masih level TK. Itu pun belum wisuda.”

Demikian komentar seorang sahabat tentang saya, yang sudah nyemplung ke dunia blogging gratisan dari tahun 2011-an. Tetapi saya menerimanya, sebab dia lebih menguasai perihal situs atau website. Lagipula, ego saya bisa bermasalah kalau sampai tak menerima pandangan negatif yang sesuai fakta itu.

Pada 31 Mei 2012, saya dan dia membuat blog Top Level Domain (TLD). Karena suatu alasan, blog tersebut kolaps. Kemudian pada 24 Februari 2015, kami bangkit dengan blog baru bernama Rosediana.net. Kalau saya bertanggung-jawab pada kontennya, maka dia yang mengurus “dalemannya”.

Sepanjang ngeblog, saya sudah menampung banyak pujian, kritikan, sekaligus ejekan. Ada yang memuji isi tulisan, desain, media, peringkat (Alexa), dll. Ada yang memberi masukan terkait gaya bahasa, ceruk (niche), kelengkapan konten, dll. Bahkan ada juga yang memaki kalau saya ini rasis. Macam-macam.

Tetapi begitulah, saya tidak bisa mengendalikan semua reaksi. Saya juga tak harus menyimpulkan salah-satunya saja. Hanya karena teman berkomentar ‘’kece’, bukan berarti saya adalah blogger keren. Demikian juga ketika haters menghujankan komentar buruk, bukan berarti saya blogger super jelek.

Blogger Keren VS Penulis Keren

blogger keren, penulis keren
Image via: columbusdirect.com.au

Saya tidak depresi ketika sahabat mengatai sebagai ‘anak TK belum lulus’. Dalam blog-blog yang kami bangun, saya lebih mengandalkan aktivitas menulis. Bisa dibilang, menulis itu lebih simpel. Singkatnya, saya hanya butuh ide/ topik, skill merangkai kata, serta proses editing.

Beda lagi dengan sahabat saya, yang berperan besar dalam elemen-elemen ngeblog. Dia mendominasi pengaturan templates, widgets, plugins, branding, SEO, keyword research, dsb. Lebih luas dan rumit.

Saya tak kaget kalau perjuangan di jalur ini akan berat dan cukup panjang. Sebab dari awal sahabat saya sudah mewanti-wanti: kalau mau ngeblog dengan hasil instan, sebaiknya mundur dari sekarang. Namun saya dan dia sama-sama keukeuh. Akhirnya kami sepakat untuk masuk zona tak nyaman ini, jatuh-bangun.

Lama-kelamaan, kolaborasi kami mulai mendatangkan pencapaian-pencapaian. Entah dalam bentuk pendapatan, kerja-sama, followers/ subscribers, dll. Suasana semakin bergairah. Medan juang memang tidak berubah jadi ‘cetek’, tetapi kami menikmatinya.

Bagian favorit yang saya sukai yaitu kesukarelaannya untuk sharing. Jadinya dia tak hanya menjadi sahabat sekaligus partner ngeblog, melainkan juga guru atau mentor. Selain itu, dia juga tak segan-segan merendahkan hatinya dengan mengakui ketidakmampuannya untuk menulis dan memuji kontribusiku, seakan-akan konten buatan saya sudah memuaskan. Padahal sampai detik ini, saya masih sedang belajar.

Siapa dan Seperti Apa Blogger Keren Itu?

Selain sibuk dengan blog sendiri, sesekali saya juga melakukan blogwalking. Aktivitas ini asyik. Saya jadi menelan banyak ilmu. Tak hanya dari konten blognya saja, melainkan karakter para bloggers itu sendiri. Sampai kemudian terbentuk, siapa dan seperti apa blogger keren itu.

1. Percaya Diri dengan Jenis Blog Pilihannya

Mau blog personal, blog niche, blog gratisan, blog dengan konten video, blog perusahaan, blog katalog, blog politik, blog campuran, dsb, silakan. Tak ada yang mendikte. Namun ada efek besar kalau bloggernya percaya diri dengan apa yang disajikannya.

Saya sampai terkesima dengan sebuah blog pribadi yang isinya nasihat-nasihat kasar dalam Bahasa Inggris. Rupanya sang pemilik memang sengaja menerapkan metode tersebut. Dia memilih memberikan motivasi dengan kata-kata menampar ketimbang dengan kata-kata membelai.

Yang sudah dilakukan: berusaha menulis blak-blakan tanpa banyak “filter”, yang membuat saya terus ragu dan minder.

2. Paham Etika Menulis

Menulis bukan tentang merangkai kata menjadi kalimat, lalu paragraf. Lebih dari itu. Menulis itu tentang bagaimana memberikan pesan, meninggalkan kesan. Menulis juga mesti memerhatikan pemilihan kata (sesuai PUEBI), gaya bahasa, dan orisinal (tidak plagiat). Demikian juga dengan penunjang tulisan berupa media gambar, video, dan dokumen yang tidak mengandung unsur plagiarisme.

Yang sudah dilakukan: bergabung dengan grup menulis di Facebook, mengecek kata-kata meragukan via KBBI, belajar bahasa lewat akun Twitter Ivan Lanin, selalu menyertakan sumber, dsb.

3. Mengatur Waktu

Waktu yang tersedia sudah ditentukan. Saya tak bisa menambah dan menguranginya. Tetapi saya masih berpeluang mengaturnya. Saya tidak membatasi kalau blogger keren itu mesti mem-publish tulisan 1-3 kali sehari. Asal rutin saja. Jangan sampai hiatus terlalu lama.

Yang sudah dilakukan: membuat dan mentaati jadwal ngeblog (diisi dengan menulis, memosting, mencari referensi, mengunjungi blog lain, dsb). Tak semua target harus terpenuhi. Kalau tidak memproduksi sesuatu (konten), setidaknya saya mendapatkan sesuatu (inspirasi).

4. Bergaul dengan Sesama Blogger

Hampir dipastikan tak ada kerugian jika berteman dan berinteraksi dengan blogger lain. Malah peluang akan semakin terbuka. Bisa saling menilai postingan, bermitra, diskusi, dll.

Yang sudah dilakukan: bergabung dengan komunitas blogger via media sosial, saling follow Google +, mengunjungi dan mengomentari postingan blog lain, berinteraksi di media sosial, dll.

5. Kontak (Mudah Dihubungi)

Banyak pihak yang ingin menghubungi blogger keren. Tujuannya berbeda-beda. Ada yang ingin sharing, meminta nasihat, mengajak kerja-sama, mengundang ke sebuah event, dsb.

Yang sudah dilakukan: memudahkan akses kontak dengan menyediakan alamat email dan nama akun media sosial. Terus terhubung dan memberikan respons secepat mungkin.

6. Paham SEO (Search Engine Optimization)

Mengingat Google masih menjadi andalan para pengguna Internet untuk searching ini-itu, maka blogger keren tak bisa berpaling dari SEO.

Yang sudah dilakukan: membaca dan mempelajari buku tentang SEO, bergabung dengan grup Facebook khusus membahas SEO, dan melakukan tanya-jawab dengan blogger senior atau master SEO.

7. Menjadi Pakar Media Sosial dan Online Marketing

Tak bisa dipungkiri, medsos menjadi primadona generasi zaman now. Kalau tidak menyesuaikan diri, kemungkinan untuk ketinggalan jadi besar. Apalagi bagi seorang blogger. Selain membantu promosi, media sosial bisa menjadi lumbung ide agar tetap up to date.

Yang sudah dilakukan: membuat akun-akun medsos dan aktif beraktivitas (menyediakan konten bagus, mempopulerkan hashtag, belajar dari akun yang lebih baik)

8. Rencana/ Tujuannya Jelas

Blogger keren tahu kalau blogging bukan hanya menjadi tempat persinggahan. Ada tujuan jangka panjangnya. Karena itu, blogger keren terus menyusun rencana dan berusaha mewujudkannya.

Yang sudah dilakukan: mempersempit pembahasan blog, membuat schedule khusus, mengerjakan keywords yang sesuai, memperkuat branding, merancang produk, mengatur kerja-sama, dll.

Blogger keren tak pernah percaya kalau dirinya sudah sempurna. Karena itu, dia akan terus menjadi pembelajar sejati. Mendengar dan membaca pun masih sudi. #RD

SHARE

6 COMMENTS

    • Oh begitu. Mirip kasusnya, Mas. Tapi kalau saya sih, untuk sekadar bertemu langsung memang antusias. Tapi palingan cuma bisa diam memerhatikan saja. Hehe..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.