Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Saya Sudah Siap Mati

Saya Sudah Siap Mati

2
SHARE
siap mati, siap mati salam islam, saya siap mati, saya sudah siap mati, dulu aku siap mati untukmu
Image via: culturacolectiva.com

Siapa yang bernyali menyatakan ‘saya sudah siap mati’?

Ternyata ada. Saya mendengarnya sendiri. Tak meminjam mata dan telinga siapa pun.

Pagi itu, seperti biasa, saya membantu Mimih di kios. Kebetulan ada beberapa pembeli yang minta dilayani. Sementara saya menghadapi seorang ibu-ibu. Saya taksir usianya menjelang 40 tahunan. Beliau membawa gadis kecil, sekitar 7 tahunan. Entah putrinya, adiknya, keponakannya, atau siapanya, saya tak tahu.

“Beli mori (kain kafan) ya, Teh.”

“Baik, Bu. Berapa meter?”

“Biasanya berapa, ya?”

“Ada yang 8, 10, atau 12 meter sesuai ukuran.”

“Oh, yang 12 meter saja.”

Ibu muda tersebut berkerudung dan berkacamata. Tubuhnya gempal, tinggi badannya sedang. Dia mengambil posisi duduk di kursi yang sudah tersedia. Lalu beliau mengatakan sesuatu yang lumrah dikatakan seorang konsumen.

“Harganya kurangi ya, Teh.”

“Iya, ini sudah sesuai harga yang kami berikan buat masjid kok, Bu.”

“Masjid?”

“Iya, masjid kampung atau dusun biasanya membeli mori buat persediaan,” Saya menatapnya, “Kematian kan gak bisa ditebak, kalau ada yang meninggal malam-malam jadi gak usah mencari ke sana-kemari lagi,” lanjut saya, sambil mengingat momen di mana ada tamu-tamu yang mengetuk pintu tanpa kenal waktu (bahkan tengah malam sekali pun). Mereka mengantarkan berita kematian sekaligus memohon disediakan perlengkapan kain kafan.

“Oh gitu,” ada jeda dalam omongannya, “Saya pun buat persediaan, Teh.”

Tak tahu harus merespons bagaimana, saya hanya bisa tersenyum. Lalu, saya berinisiatif untuk mengukur kain sesuai keinginan ibu-ibu tersebut. Dia tampak memerhatikan gerak-gerik saya membentangkan pengukur meteran.

“Saya beli buat persediaan saya sendiri.”

“Oh…”

“Sudah dua kali saya menjalani operasi,” suaranya tercekat karena terisak.

“Maaf, ibu sakit apa?”

“Kanker payudara, Teh.”

“Ya Allah…”

Dia menghela napas, “Tapi keadaannya masih tetap begini. Saya sudah pasrah. Saya sudah siap mati.”

“Tapi, Bu, maut enggak ada yang tahu,” Saya sempat berhenti mengukur kain, “Bisa jadi yang sehat yang justru meninggal lebih awal.”

Saya tidak tahu apakah ujaran tersebut membesarkan hatinya atau justru tak membawa pengaruh sama-sekali. Tetapi saya melihatnya tersenyum kecil, seakan menganggap omong kosong belaka. Seakan senyumannya hanya tersungging demi menghormati jawaban saya saja. Well, siapa yang mudah menasihati orang jatuh cinta dan orang yang sudah frustrasi?

“Saya sudah capek, saya sudah siap mati.”

Pernyatannya “dikhianati” oleh tangisannya sendiri. Tetapi saya sungkan menggali lebih dalam mengenai alasannya menangis. Entah karena sedih harus meninggalkan dunia, orang-orang, kenangan, dan kenikmatan di dalamnya. Saya hanya melihat sekilas tangan gadis mungil di sampingnya, yang terus mengelus lengan ibu itu.

Beruntung tugas saya untuk mengukur dan melipat kain sudah selesai. Tetapi saya diam sejenak untuk memberi ruang pada ibu itu melepaskan segala emosinya. Setelah menarik napas dalam, dia mengendalikan diri dan menuntaskan transaksi.

“Semoga lekas sehat dan panjang umur ya, Bu, kematian itu rahasia Allah,” Saya memberanikan diri mengatakan hal tersebut ketika memberikan uang kembalian.

Syukurlah beliau mengapresiasi dengan mengucapkan terima kasih.

~

Jadi teringat ceramah seorang Ustaz. Beliau bertanya pada jemaah ‘siapa yang ingin masuk surga?’. Semua angkat tangan. Lalu ketika beliau menambah pertanyaan ‘kalau gitu, siap mati duluan, dong?’. Seketika itu juga, jemaah menurunkan tangannya. Ada yang tertawa, ada yang terbengong-bengong. Ustaz melanjutkan, ‘lho mau masuk surga kan mesti meninggal dulu?’. Nah…

Katanya takut mati bisa baik, bisa juga buruk. Takut mati itu baik apabila kita merasa belum memiliki cukup “bekal”, merasa belum layak menghuni surga, sehingga selalu resah ketika berdosa dan berupaya sekeras mungkin untuk beramal baik.

Lalu takut mati bisa jadi buruk karena kita kadung sangat cinta dan betah di dunia. Semakin mampu menuruti hawa nafsu, semakin engganlah kita meninggalkan dunia. Terhipnotis dan bikin mabuk.

Jadi, siapa yang bernyali menyatakan ‘saya sudah siap mati’? Saya Sudah Siap Mati. #RD

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.