Home et cetera (etc.) Diary Tentang Musik 4 Catatan Psikologis Dari Album Terbaru Bebe Rexha “Expectations”

4 Catatan Psikologis Dari Album Terbaru Bebe Rexha “Expectations”

0
SHARE
lagu bebe rexha, lagu bebe rexha i'm a mess, album bebe rexha expectations, lirik lagu bebe rexha, makna lagu bebe rexha, review lagu bebe rexha
Image via: aab-edu.net

Lagu I’m A Mess muncul di beranda Youtube yang saya buka. Penyanyinya Bebe Rexha. Hmm… sudah familiar, ya, sebab namanya sempat bersanding dengan Louis Tomlinson dalam lagu Back to You. Dia juga berkolaborasi dengan penyanyi lain dan lagu-lagunya cukup ngehits.

Bahkan lagu The Monster, yang dibawakan oleh Eminem Ft Rihanna, merupakan karya Bebe. Namanya semakin menggaung di telinga orang Indonesia, sebab dulu pernah menjadi tamu khusus ulang tahun sebuah stasiun TV.

Sebenarnya saya sudah berburuk sangka duluan. Maksudnya, saya mengira kalau Bebe Rexha itu hanya penyanyi perempuan blonde nan eksotis yang mengedepankan penampilan, suara, dan lagu seksi saja. Saya kurang suka (bukan benci, ya!) musisi dan karya semacam itu. Namun karena kepincut dengan judul lagu dan ‘boneka’ dalam videonya, saya pun mengklik ‘play’.

Dan, kamu tahu?

Saya mengulang-ulang lagu yang rilis pada 22 Juni 2018 tersebut. Apa karena I’m a Mess as well? Hahaha

Yang jelas, dari lagu itu saya jadi tahu kalau Bebe Rexha – kakak tingkat saya – meluncurkan album perdananya yang bertajuk Expectations. Kemudian banyak singles lain, yang tentu saya ‘icip’ juga. Kemudian pada 19 Juli 2018 kemarin, official music video alias video klip resmi I’m A Mess muncul. Saya pun otomatis mengkliknya.

Namun yang menarik perhatian saya adalah pernyataan Bebe Rexha sendiri di kolom komentar yang di-pinned. Intinya dia bilang:

I have been very vocal and honest about my ongoing struggle with anxiety and depression.

Artinya: (selama ini) saya kerap menyuarakan dan jujur tentang perjuangan saya yang berkelanjutan soal kecemasan dan depresi.

I wanted to create a video and song that expressed my truth. This video is a celebration of me finally being able to accept my imperfections.

Artinya: Saya ingin menciptakan video dan lagu yang mengekspresikan (siapa saya) sesungguhnya. Video ini merupakan selebrasi saya yang pada akhirnya bisa menerima ketidaksempurnaan saya.

I’m okay with not being okay all the time. If you feel alone or lost please know you are not, and you are loved.

Artinya: Saya baik-baik saja dengan tidak merasa baik-baik saja sepanjang waktu. Jika kamu merasa sendirian atau tersesat tak tahu arah, ketahuilah… kamu tidaklah dalam keadaan demikian, dan kamu itu (layak) dicintai.

Dalam postingan ini, saya tidak akan membahas semua lagu di album Expectations. Hanya 4 lagu saja:

foto bebe rexha, akun instagram bebe rexha, lagu bebe rexha, lagu bebe rexha i'm a mess, album bebe rexha expectations,
Image via: IG @beberexha

Lagu “I’m A Mess”

Terlepas dari genre elektro-pop yang enak dinikmati, lagu ini memiliki lirik yang kontradiktif. Di satu sisi, I’m A Mess menunjukkan optimisme. Terlihat dalam lirik (dan artinya):

Everything’s gonna be alright

Semua akan baik-baik saja

everything’s gonna be OK

Semua akan oke-oke saja

It’s gonna be a good – good life

(semua) ini akan menjadi kehidupan yang baik – kehidupan yang bagus

that’s what my therapist say

begitulah yang dikatakan terapis saya

Namun di sisi lain, ada kesan skeptis. Orang bilang ‘semua akan baik-baik saja’, padahal kita menyadari banyak yang tidak beres. Sampai kemudian ada lirik yang mengungkapkan ‘aib diri sendiri’.  Bahwa diri sendiri sebenarnya ‘berantakan’. Kesannya itu jadi kecut, begitu. Isu self-esteem muncul.

I’m a mess

Saya itu berantakan

I’m a loser

Saya itu pecundang

I’m a hater

saya adalah seorang pembenci

I’m a user

Saya adalah seorang pengguna

I’m obsessed, I’m embarrassed

Saya terobsesi, saya (merasa) malu

I don’t trust no one around us

Saya tidak mempercayai siapa pun di sekitar kita

Lagu “Knees”

Lagu pop ballad ini menyorot sikap seseorang yang plin-plan atau kurang tegas. Sadar atau tidak, sikap ini bikin sebal. Contohnya seseorang yang menggantungkan hubungan atau menarik ulur perasaan. Ngakunya cinta, tapi tidak terbukti dalam aksi nyata.

You wanna hold my hand and then you won’t

Kamu ingin memegang tanganku dan kemudian kamu tidak melakukannya

You say you love me then you don’t

Kamu bilang cinta padaku kemudian kamu tidak mencintaiku

You keeping me running and running around

Kamu membuatku terus berlari berputar-putar

Meski pahit, namun ‘putus cinta yang pasti’ itu lebih keimbang ‘menjalin relasi yang penuh ketidakpastian’. Maka lirik lagu ini pun berisi ‘permohonan’ untuk menyudahi hubungan, apalagi kalau koneksi dua jiwa itu sudah rusak. Daripada terus menggenggam rasa sakit, lebih baik melepaskannya.

If I’m not all you need

Jika saya bukan sosok yang kamu butuhkan

Then just set me free

Maka, bebaskanlah saya

I’m down on my knees

Saya berlutut

If you’re not the one for me

Jika kamu bukan sosok satu-satunya untukku

Then just let me be

Maka biarkanlah saya

I’m begging you please

Saya mohon padamu

Hubungan percintaan kerap menjadi biang kegalauan. Namun kalau hubungan tersebut sudah toxic alias beracun, lebih baik putuskan saja. Tak perlu takut untuk pergi dan kembali sendiri. Dengan ‘menutup pintu’, masih ada jendela yang terbuka. Masih tampak kesempatan untuk merajut hubungan baru yang lebih baik dan tidak menyiksa.

I’m praying for closed doors and open windows

Saya berdoa agar pintu tertutup dan jendela terbuka

I’ll follow where the wind blows

Saya akan mengikuti ke mana angin bertiup

Don’t be scared to leave

Jangan takut untuk pergi

If I’m not all you need

Jika saya bukan sosok yang kamu butuhkan

Then just set me free

Maka, bebaskanlah saya

I’m down on my knees, tonight

Saya berlutut malam ini

Lagu “Sad”

Bisa dibilang, lagu inilah yang memicu saya untuk menulis postingan khusus Bebe Rexha. Saya jadi teringat Tyler Joseph (vokalis Twenty One Pilots) yang mengaku suka kalau dia merasa sedih. Aneh, ya? Tetapi terkadang saya pun merasa demikian. Ada sensasi ‘nyaman’ ketika sedang melow atau bersedih. Sebaliknya, rasa was-was menjalar ketika sedang merasa sangat bahagia. Hhh…

Lagu ini seakan menunjukkan ‘power’ dari kesedihan. Di bagian verse-nya, lirik ini mengandung pertanyaan demi pertanyaan. Ujung-ujungnya kita dibawa pada gambaran kesedihan; tentang suasana melankolia, kesepian, kerumitan, murung, dsb.

Do you ever sit in silence all alone?

Apa kamu pernah duduk terdiam sendirian?

Drowned out by your thoughts?

Tenggelam dalam pikiranmu?

Trying to get a grip, but just keep on spiralling down

Mencoba untuk mendapatkan pegangan, tetapi malah terus berputar ke bawah

Voices getting loud, feeling something now

Suara semakin keras, sekarang merasakan sesuatu

Only you know way too well

Hanya kamu yang tahu yang terbaik

Lalu, ‘keajaiban’ tertuang di bagian chorus-nya. Nadanya upbeat, sangat jauh dari pesan lagu yang isinya berupa kesedihan. Liriknya bahkan menyatakan kalau ‘sedih itu nyaman’. Bagian ini seakan menjadi ‘bantahan’ kalau sedih itu selalu buruk.

Sedih itu tak harus berisi keterpurukan, tangisan, suasana suram, dan rasa putus asa. Seringkali, kesedihan itu justru mendatangkan banyak hikmah. Entah berapa karya yang hasilnya indah karena penciptanya sedang sedih. Entah berapa sering kesedihan sudah mengingatkan. Entah berapa sering kesedihan sudah memberikan pelajaran.

Guru terbaik pun kadang bukan datang dari tawa, melainkan dari airmata.

Maybe I’m just comfortable

Mungkin saya hanya merasa nyaman

Maybe I’m just comfortable

Mungkin saya hanya merasa nyaman

Baby, maybe I-I-I’m just comfortable being sad (oh woah)

Sayang, mungkin saya-saya-saya hanya merasa nyaman ketika bersedih (oh woah)

Lagu “Don’t Get Any Closer”

Lagu beraura gelap ini mengingatkan saya pada ‘Dark Side’-nya Kelly Clarkson. Suara Bebe yang dibarengi petikan gitar terdengar sendu, lalu seperti membubung tinggi di bagian ‘all the things I’ve been hiding from you’. Ya, lagu ini menjelaskan keberadaan ‘sisi lain’ dari dalam diri seseorang. Bagaimana pun, ada yang ditampilkan, ada juga yang disamarkan atau disembunyikan.

Siapkah kita untuk membuka diri pada seseorang yang sudah begitu dipercaya? Apakah orang tersebut akan berubah setelah mengetahui semuanya? Beranikah kita mengambil risikonya?

What if I let you in and you don’t like what you see?

Bagaimana jika saya mengizinkanmu masuk dan kamu tidak menyukai apa yang kamu lihat?

‘Cause it’s not what it seems, let me tell you why

Karena semua tak seperti yang terlihat, maka biarkan saya menjelaskan kenapa

You have no idea, yeah, you only seen a piece

Kamu tidak tahu-menahu, yeah, kamu cuma tahu sebagian

But now it’s underneath, no, I cannot lie

Namun sekarang semuanya ada di bawah, tidak, saya tidak bisa berbohong

Jika belum percaya sepenuhnya, ada keraguan dalam diri kita untuk terbuka atau transparan. Sehingga daripada membangun jembatan, kita malah sibuk mendirikan tembok. Artinya, seringkali kita justru memilih menjauh atau jaga jarak ketimbang dengan mulai membuka diri. Bagi sebagian orang, menjadi pribadi yang terbuka memang bukan perkara gampang.

Don’t get any closer

Jangan mendekat

These walls are super high

Tembok ini sangat tinggi

So don’t even try

Makanya jangan coba-coba

To get any closer

untuk lebih dekat

I’m scared you’re gonna find

Saya takut kamu akan menemukan

All the things I’ve been hiding from you

Semua hal yang selama ini saya sembunyikan darimu

All the things I’ve been hiding from you, oh

Semua hal yang selama ini saya sembunyikan darimu, oh

Saya tidak mengklaim diri sebagai bagian dari Rexhars. Saya juga tidak mewajibkan untuk mendengar karya-karya Bebe Rexha. Tetapi saya selalu suka karya-karya yang membahas isu-isu mental atau kejiwaan. Apalagi kalau yang meningkatkan awareness terhadap isu tersebut. Well, postingan ini hanya menjadi bentuk apresiasi. Demikian, 4 Catatan Psikologis Dari Lagu di Album Terbaru Bebe Rexha “Expectations”. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.