5 Cara Praktis Agar Kamu Tidak Terus-Terusan Menjadi People Pleaser

Posted on
people pleaser adalah, istilah people pleaser, terlalu baik sama orang, terlalu baik, orang mauan, suka mengalah, gak enakan
Image via: aconsciousrethink.com

Seseorang pernah mengeluh tentang pasangannya yang sangat suka pedas. Kalau makan, menunya itu serba membakar lidah. Sewaktu masih awal hubungan, dia manut saja, dan ikut mengonsumsi makanan bercabai tersebut. Dia hanya ingin membahagiakan pasangannya, dia takut menyinggung perasaan pasangannya, takut hubungannya terusik, dan bahkan takut putus. Padahal aslinya dia tak suka pedas sama-sekali. Tak dia sangka, sikap pura-puranya itu lama-lama sering menjadi sumber konflik mereka.

~

Pernah mendengar istilah ‘people pleaser’?

Secara harfiah, people pleaser adalah orang-orang berkenan atau mauan. Mereka gak enakan, mengedepankan kepentingan orang lain, sering mengorbankan diri sendiri, sering menjadi pihak yang minta maaf, yang suka mengalah, dan seakan memiliki misi untuk selalu mendahulukan kebahagiaan yang lain.

Kamukah itu?

Apakah kamu benar-benar bersedia melakukan apa saja agar orang lain bahagia? Atau agar orang lain menerima dan menyukaimu?

Meski terkesan ‘mulia’, namun menjadi people pleaser bisa menjadi gangguan juga. Misalnya kamu susah menolak teman yang meminjam uang, padahal kamu sendiri sedang membutuhkannya. Akhirnya urusan kamu terhambat demi kepentingan temanmu. Kamu sendiri melakukannya karena tak kuasa bilang ‘tidak’ dan merasa takut hubungan pertemanan jadi rusak.

Coba pikir lagi. Barangkali kamu memerlukan 5 latihan di bawah ini.

1. Coba untuk Menjadi Dirimu Sendiri

Ada seorang perempuan yang mengeluh karena pacarnya membandingkan dia dengan orang lain. Sang pacar bilang kalau perempuan lain menyukai moto GP dan sepak bola, sehingga asyik dan nyambung diajak ngobrol. Karena alasan itu, si perempuan bela-belain update jadwal dan menyaksikan pertandingan dua cabang olahraga itu.

Well, bad move.

Dia tersiksa sendiri, sebab merasa sudah menjadi “orang lain”. Padahal hubungan itu, idealnya tidak dimulai dengan keterpaksaan. Tak perlu berpura-pura. Apa tidak melelahkan kalau kamu harus terus mengenakan topeng agar si dia bertahan menyukaimu? Pertimbangkan lagi, apalagi kalau hubungan tersebut untuk jangka panjang. Kamu layak dicintai sebagai dirimu sendiri.

2. Coba Jangan Terpengaruh Kata-Kata dan Pendapat Orang Lain

Di era media sosial ini, mayoritas dari kita hanya menampilkan yang terbaik dan sempurna. Ada ketakutan kalau menampilkan postingan sesuai kenyataan, maka orang lain akan berkomentar atau men-judge negatif. Padahal kita tidak bisa benar-benar mengendalikan pendapat, perasaan, dan pikiran orang lain. Orang bilang, mau buruk atau baik tetap diomongin.

Maka cobalah untuk tidak menjadikan orang lain sebagai kamus. Mereka tak berhak menerjemahkan postinganmu, pilihanmu, ucapanmu, penampilanmu, tindakanmu, dan dirimu secara keseluruhan. Ketika kamu menggunakan cadar, dan masih ada saja segelintir orang yang mendefinisikanmu sebagai teroris, tak perlu terpengaruh. Masih banyak orang yang berpikir positif kalau kamu sedang dalam proses memperbaiki diri.

Manusia hanya bisa berkomentar. Tetapi tak semua komentar mereka itu valid.

gak enakan, gak enakan sama orang, sifat gak enakan, penyakit gak enakan, bahaya tidak enakan, people pleaser adalah, istilah people pleaser,
Image via: theodysseyonline.com

3. Coba Menciptakan “Batasan Sehat”

Seorang teman yang dulunya dekat namun kini jadi jauh (secara jarak dan hubungan), pernah menghubungiku via media sosial. Dia memintaku untuk membuatkan puisi tema tertentu. Sebenarnya waktu itu pun saya sedang menulis puisi, namun temanya berlainan. Karena merasa tidak enak dan menganggap dia lebih butuh puisi itu, maka saya pun membuatkan semampunya.

Lalu apa yang terjadi? Puisi yang saya cipta dengan susah payah itu saya kirimkan dan tak ada balasan yang datang, sekali pun hanya dua kata ‘terima kasih’. Saya sangat kecewa dengan perlakuan itu. Namun saya juga sadar, mungkin ekspektasi sayanya saja yang ketinggian.

Kalau kamu orangnya gak enakan, pasti sulit bagimu untuk menggeleng atau menolak sesuatu yang sebenarnya membuatmu keberatan. Kamu biasanya terjebak pada rasa bersalah, merasa sudah egois, dan takut bikin kecewa. Ingat pepatah ini ‘kalau kamu terlalu gak enakan sama orang, nanti mereka akan memperlakukanmu seenaknya’.

Mungkin kamu lupa, menolak atau bilang ‘tidak’ itu tak semuanya buruk. Apalagi kalau kamu punya alasan kuat. Orang yang sayang sungguhan pasti memaklumi penolakanmu.

Tindakan tegas ini, selain ‘menyelamatkanmu’ dari hal-hal yang sebenarnya tak kamu mau, juga mengajarkan batasan-batasan orang lain. Kamu tidak bisa dimanfaatkan seenaknya sesuai keinginan mereka.

4. Cobalah Menerapkan Komunikasi Asertif

Karakter asertif membuatmu mampu menyampaikan/ mengekspresikan perasaan, pikiran, dan keinginan tanpa ada yang disembunyikan. Namun penyampaian itu tidak ditujukan untuk merugikan orang lain. Penyampaiannya juga tidak memberi kesan menyinggung atau tidak sopan.

Bukan satu kali dua kali kamu harus menolak seseorang, namun bingung bagaimana cara mengucapkannya agar orang tersebut tidak marah. Misalnya ketika sahabatmu merengek ingin ditemani ke toko buku, namun kamu dalam keadaan ngantuk berat karena sudah begadang, maka kamu bisa bilang ‘udah lama saya juga pengin ke toko buku, tapi sayang sekali sekarang lagi ada kerjaan, mungkin lain waktu bisa deh’.

5. Cobalah Menjadi Sahabat untuk Dirimu Sendiri

Kata orang, cara untuk menghapuskan kesedihan diri sendiri yakni dengan membahagiakan orang lain. Tentu saja. Silakan. Menjadi alasan di balik senyuman dan kebahagiaan orang lain itu memang keren. Asal jangan sampai mengorbankan kebahagiaan diri sendiri, ya.

Jadilah sahabat untuk diri sendiri; yang selalu ada, membela, dan memprioritaskan. Jangan sampai ‘asing’ dengan diri sendiri, sehingga terlalu mengandalkan orang lain untuk bahagia, puas, dan merasa bersyukur.  Silakan merasa senang karena pujian orang lain, namun jangan menempatkan pujian orang lain di atas segalanya.

Orang lain tidak wajib menyukai dirimu apa adanya, kamulah yang berkewajiban melakukannya.

Mari sama-sama belajar harmonis terhadap diri sendiri. Seperti kata Paulo Coelho: kalau kamu bilang ‘ya’ pada orang lain, pastikan kamu juga bilang ‘ya’ pada dirimu sendiri. Demikian, 5 Cara Praktis Agar Kamu Tidak Terus-Terusan Menjadi People Pleaser. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.