Home My Files Diary Tentang Menulis atau Blogging 6 Cara Terapi Menulis dan Manfaatnya Bagi Psikologis Seseorang

6 Cara Terapi Menulis dan Manfaatnya Bagi Psikologis Seseorang

0
SHARE
terapi menulis, terapi menulis ekspresif, cara terapi menulis, terapi menulis tangan, terapi menulis pengalaman emosional,
Image via: slowchange.com.au

Pernah curhat tentang rumitnya kehidupan, dan mendapat nasihat berbeda-beda?

Kata Si A ‘hidup mah dijalanin, bukan cuma dipikirin’.  Kata Si B ‘kunci kehidupan hanya sabar, solat, dan syukur’. Kata Si C ‘pura-pura bahagia aja kayak orang-orang di media sosial, soal kenyataan pahit, nanti juga ada selesainya’. Kata Si D ‘berpikir positif saja, Tuhan gak mungkin cuma ingin ngerjain, pasti ada maksud di balik semua yang terjadi’. Kata Si E ‘kalau merasa udah gak kuat, mintalah bantuan’. Dan, masih banyak lagi.

Apa yang E katakan tampaknya  efektif. Kita memang diwajibkan berjuang dengan sabar, tapi tak ada perintah untuk menanggungnya sendirian. Ada kalanya kita butuh bantuan, dan itu enggak apa-apa. Wajar adanya.

Salah-satu bantuan yang siap kapan saja, murah-meriah, dan terpercaya terletak pada aktivitas menulis. Tidak ada kantornya, tidak ada biayanya, dan tidak perlu bikin perjanjian. Mau di perjalanan, mau tengah malam, atau sedang wawancara kerja pun – kita selalu bisa menulis.

Sebelumnya saya sudah menulis tentang 3 jenis terapi menulis. Bagi saya pribadi – yang memang ‘berantakan’ – menulis itu berpengaruh banyak. Ke arah positif, tentunya.

Bagaimana? Artikel Sierra Delarosa dari Mindbodygreen yang sudah diolah kembali ini siapa tahu bisa membantu. Jom!

1. Menulis Gaya Bebas

Apa itu sensor? Namanya juga bebas, kamu jadi lepas. Tak terganggu, terhalang, tertekan, atau terjajah. Hal ini saya alami ketika masih SD, atau sudah cukup dewasa namun dalam keadaan emosional. Diterabas saja.

Pokoknya isi pikiran, perasaan, kejadian, sesuatu yang didengar, dilihat, atau dicium langsung ditumpahkan dalam tulisan. Tak peduli susunannya, titik-komanya, pantas-tidaknya, kasar-halusnya, dsb. Manfaatnya seperti tangisan yang tak ditahan. Bikin lega. Plong rasanya. Setelah emosi itu reda dan tulisan tersebut kembali dibaca, kamu mungkin nyengir dan mulai menata apa yang sudah berantakan.

2. Menulis Gaya Ekspresif

Cara menulis yang satu ini memang tak mudah. Perlu kesabaran dan renungan mendalam. Sebab, sosok yang dihadapi adalah diri sendiri. Kalau sudah siap, kamu bisa mulai menulis ekspresif dengan cara mencurahkan isian rasa dan pikiran tentang pengalaman emosional, sesuatu yang bikin stres, dan trauma.

Trauma itu, meski sudah terjadi sejak lama, namun sensasi dan pengaruhnya masih sangat terasa. Misalnya perceraian orang tua saya sudah jadi peristiwa lampau, namun sampai sekarang hati saya masih cukup kewalahan kalau membahas tentang perceraian.

Menulis ekspresif mengajak kita untuk mengeksplor sumber trauma dan sumber depresi itu sendiri. Tentang bagaimana mereka memengaruhi kehidupan. Tak wajib dipublikasikan. Kita seperti sedang mendiagnosis sekaligus memberi obat pada diri sendiri.

3. Gaya Jurnal/ Diary Reflektif

Ada yang masih bisa menulis diary setiap hari? Hhh… saya sudah tidak bisa daily. Entah kenapa, sekarang mulai pilih-pilih pengalaman yang hendak ditulis. Namun konsep menulis jurnal harian tanpa terlewat pernah saya terapkan ketika KKN dan PPL. Setiap hari, sebelum tidur, saya tuliskan kejadian baik dan buruk secara detail. Jangan ditunda-tunda. Mumpung segar dalam ingatan.

Lalu saya juga menambahkan komentar, kesan, dan pelajaran dari semua kejadian tersebut. Secara tidak langsung, kebiasaan ini bisa ‘mendidik’ kita. Jadi lebih dewasa, peka, bijaksana, kosakata bertambah, pikiran lebih kritis, jadi lebih sering introspeksi diri, dll.

terapi menulis, cara terapi menulis, terapi menulis ekspresif, psikologi menulis, macam-macam terapi menulis, terapi menulis pengalaman emosional
Image via: bordersuk.com

4. Gaya Jurnal/ Diary ‘Ungkapan Syukur’

Terlalu fokus pada kesialan, pada hal-hal yang tidak kita miliki, pada berita-berita buruk, dll, memang hanya mengundang keluhan. Jadi ingkar pada nikmat dari Tuhan. Padahal kalau lebih peka dan sadar, karunia Tuhan jelas lebih banyak dan besar.

Pelankan lajumu, hirup napas dalam-dalam, dan tuliskan daftar hal yang patut kamu syukuri. List-nya pasti sangat banyak. Efeknya juga pasti positif. Kalau sudah begitu, siapa tahu kita menjadi pribadi yang banyak bersyukur. Tidak dijamin menyelesaikan semua persoalan, sih. Tetapi paling tidak… hati jadi lebih lapang, stres berkurang, dan tidur lebih tenang.

5. Gaya Menulis Surat

Punya urusan yang belum diselesaikan? Misalnya ingin menyampaikan sesuatu pada seseorang, namun merasa tidak mampu atau tidak mungkin melakukannya, maka gaya menulis yang satu ini barangkali cocok. Kita bisa menulisnya dalam bentuk surat, tetapi tidak mesti mengirimkannya. Terapi menulis ini bisa berfaedah untuk mengangkat beban yang bercokol di pundak. Mirip seperti gaya menulis bebas, efeknya itu bikin lega.

6. Gaya Menulis Puisi

Saya sempat keranjingan menulis puisi ketika sekolah. Random saja. Saya hanya merasa ingin menyampaikan sesuatu, tapi bagaimana caranya agar tidak mudah dipahami orang lain. Akhirnya saya memakai bahasa kiasan dalam bentuk puisi. Metode ini juga efektif menggali unek-unek agar tidak terus-terusan terpendam.

Bagi saya, dan mungkin kawan-kawan yang lain, menulis memang memberi efek terapeutik. Ada sensasi lega dan ringan. Apalagi pemahaman dan kesadaran akan diri sendiri jadi meningkat.

Tak perlu teknik, tak harus sesuai PUEBI, tak wajib ada terapis, dan tak mesti penuh dengan kata-kata puitis. Tinggal menggerakkan jari, mengetik atau menulis manual, lalu membiarkan isi pikiran dan perasaan mengalir dalam kertas atau layar. Bisa dilakukan semua orang. 6 Cara Terapi Menulis dan Manfaatnya Bagi Psikologis Seseorang. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.