Faktor Penyebab Emosi Orang Introvert dan Cara Mengatasinya

Posted on
penyebab emosi, penyebab emosi orang introvert, orang introvert emosi, orang introvert marah, faktor penyebab emosi, penyebab emosi dan cara mengatasinya, penyebab emosi yang berlebihan
Image via: Behance.net

Kalau hati saya diibaratkan seperti remot yang penuh tombol emosi, maka sekarang-sekarang ini sedang banyak yang memencetnya. Ada yang menimbulkan emosi bahagia, banyak juga yang menekan emosi marah, sedih, malu, dan takut. Well, ya, menjadi sosok introvert yang lumayan sensitif itu memang rumit.

~

Kemarin-kemarin saya mengunjungi dua sosok yang sudah dianggap orang tua sendiri. Mereka juga ibarat penasihat paling jujur dan bijaksana. Sang ibu menceritakan sosok ibunya sendiri (nenek).

“Kalau mendengar ada duda punya anak yang menikah lagi, atau ada ibu tiri di tengah sebuah keluarga, beliau (nenek) selalu menangis sambil menceritakan masa lalunya sebagai anak tiri…

Beliau membeberkan bagaimana pengalamannya diperlakukan tidak adil. Misalnya dengan diberi jatah makanan lebih sedikit, atau selalu tidak kebagian makanan enak. Sampai akhirnya hayatnya, cerita tersebut selalu diulang-ulang sambil berurai air mata.”

Saya jadi mengingat-ingat banyaknya peristiwa atau pengalaman masa kecil, yang kalau terulang di masa sekarang, bisa mengundang aneka emosi. Misalnya ketika masih SD, saya sampai sakit hati karena orang tua lupa memberi uang yang saya minta untuk sebuah keperluan.

Sampai sekarang, ada rasa trauma untuk meminta sesuatu – tak hanya pada orang tua, tapi pada siapa pun. Takut permintaan tersebut ditolak/ tertolak. Sebab, rasanya itu lumayan nyesek.

Beda lagi dengan Mimih saya yang merasa belum sanggup mengunjungi dua rumah sakit tertentu, sebab dahulu almarhum kakak dirawat dan meninggal di sana. Melintas ke rumah sakit itu saja, beliau langsung murung. Maka ketika ada saudara yang sakit dan dirawat inap di RS tersebut, beliau selalu absen menengok.

Hal itu pun tak jauh dari pengalaman masa silam.

Pemicu/ Penyebab Emosi

Untuk fenomena di atas, orang barat sana bilangnya “emotional trigger” alias pemicu/ penyebab emosi. Hal yang memicu emosi bisa jadi berupa situasi yang mirip, wajah seseorang, istilah/ kata, tempat, dsb. Biasanya pemicu tersebut hadir karena kita sudah familiar dengan sensasi rasa yang diakibatkannya.

Misalnya Si A akan cepat emosional ketika menyaksikan film tentang bullying, karena dia pernah menjadi korban bullying di masa kecil.

Si B akan baper ketika ditinggal sendirian di rumah, sebab dia pernah ditelantarkan orang tersayang di masa kecilnya.

Si C akan menangis ketika mendapat kritikan tajam dari atasannya, sebab dulu keluarganya selalu memandang rendah dan mencemooh kemampuannya.

Si D akan baper mendengar kata ‘ibu’, sebab ibunya sudah meninggal ketika dia masih bayi.

Si E akan tak keruan melihat wajah pamannya, sebab dulu sang paman pernah menamparnya.

Si F akan panik di tengah pertengkaran orang-orang, sebab dulu orang tuanya kerap cekcok di rumah. Dsb.

Apa pun pemicu emosi itu, yang jelas rasanya itu luar biasa. Kita seakan tergugah untuk merasakan sakit yang sama, kecewa yang sama, sesak yang sama – yang dahulu pernah terasa.

Namun tak apa, kita memang hanya manusia biasa. Tak perlu berpura-pura. Tak perlu memaksa diri untuk terbahak-bahak atau menjerit pada dunia, ‘saya tidak apa-apa!’.

Kalau kamu sendiri, apa yang memicu emosimu?

Jika dibuatkan list, pasti lumayan panjang, ya. Masing-masing individu memiliki penyebab emosi tersendiri. Namun khusus orang introvert tentu tidak jauh dari:

  1. Penolakan
  2. Kritik tajam
  3. Kegagalan
  4. Merasa dipermalukan
  5. Merasa tak didengar
  6. Merasa tak penting/ tak berguna
  7. Dipandang sebelah mata/ direndahkan
  8. Diabaikan
  9. Diolok-olok
  10. Dst

Bagaimana Menghadapi Pemicu Emosi?

Karena tak mungkin dihindari, mau tidak mau emosi itu mesti diresapi. Tak perlu mencari ‘jalan pintas’ untuk melupakan emosi itu. Terima saja.

Tak perlu minta bantuan pada minuman keras, pada obat-obatan terlarang, pada pesta-pesta yang hanya menyenangkan sesaat, pada pikiran sekotor bunuh diri, pada kecanduan-kecanduan yang merusak, dsb. Cukup kerja sama dengan diri sendiri. Akan lebih bagus lagi kalau punya “tempat mengadu” terbaik. Kalau kamu mengaku ‘cuma punya Tuhan’, berarti kamu punya segalanya.

Kalau ingin menangis, sebaiknya jangan membendung airmata. Biarkan keluar dan mengalir. Agar emosi yang terpendam bisa menguar dan lepas juga.

Selanjutnya, fokus pada lawan-lawan pemicu emosi. Jangan sampai semua itu dirasakan oleh orang lain, apalagi oleh jiwa-jiwa yang kamu sayang.

Kalau merasa emosional karena pernah dipermalukan di depan umum, belajar untuk selalu menutupi aib orang. Kalau merasa emosional karena pernah dibenci orang terdekat, belajar untuk selalu mencintai siapa pun. Kalau merasa emosional karena pernah dikhianati seseorang, belajar untuk selalu terpercaya. Dsb.

Kita tak akan bebas dari rasa sakit dan kecewa dengan cara menyakiti dan mengecewakan yang lainnya. Faktor Penyebab Emosi Orang Introvert dan Cara Mengatasinya. #RD

6 thoughts on “Faktor Penyebab Emosi Orang Introvert dan Cara Mengatasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.