4 Alasan Utama Perceraian, Anak Broken Home Harus Maklum

Posted on
alasan perceraian, alasan perceraian menurut hukum islam, alasan cerai yang diterima pengadilan, alasan bercerai yang tepat
Image via: ideas.ted.com

Ceritanya, saya melihat beberapa postingan tentang anak broken home di media sosial. Rata-rata berisi keluhan tentang perceraian orang tua. Well, efek perceraian memang dahsyat. Kalau belum mengalami, sebaiknya tidak menghakimi.

Meski sama-sama menjadi ‘produk broken home’, namun kisah saya dengan mereka pasti berbeda-beda. Saya pun hanya bisa berusaha untuk maklum. Namun, ada beberapa postingan yang sepertinya kurang pas. Sebab, seperti ada arahan untuk memojokkan orang tua. Anak terprovokasi. Mereka menjadi benci, tertutup, dendam, dan membangkang terhadap orang tuanya.

Padahal tidak selamanya begitu, ya. Pahami juga kenapa orang tua sampai memutuskan untuk berpisah. Jangan sampai grusa-grusu men-judge.

Meski kesan dari perceraian itu buruk, namun perceraian justru sering menjadi solusi terbaik.

Kalau menurut Marni Feuerman via Verywellmind, ada dua penyebab utama kenapa orang tua bercerai. Penyebab 1 itu sifatnya soft alias lembut. Misalnya karena orang tua merasa kurang komunikasi, jenuh, terpisah jarak, bonding-nya berkurang, dll. Penyebab 2 itu sifatnya hard alias keras. Penyebab ini sendiri dibagi menjadi 4; adultery, abuse, addiction, dan agenda.

Jika kelompok penyebab 1 (semestinya) masih bisa dimusyawarahkan, lain lagi dengan kelompok penyebab 2, yang justru sebaiknya memilih jalan perceraian. Sebab kalau pun dipaksa bertahan, biasanya akan menimbulkan dosa dan derita berkepanjangan.

Adultery/ Zina/ Perselingkuhan

pasangan bohong, ciri pasangan bohong, selingkuh, ciri pasangan selingkuh, pasangan mendua
Image via: addiction.lovetoknow.com

Dari segi agama, moral, dan sosial, poin pertama ini dicap sebagai dosa besar. Bahkan di beberapa wilayah, zina atau perselingkuhan bisa masuk kategori tindakan kriminal, sehingga ada hukuman tertentu. Karena itu, adultery termasuk masalah serius dalam sebuah pernikahan.

Jika ada kasus pasangan seperti ini, kemudian bercerai, apa anak ‘tega’ menghalang-halangi? Bagaimana pun, orang selingkuh biasanya memiliki karakter buruk. Mereka sudah berkhianat, berbohong, mendobrak larangan Tuhan, dan mempertaruhkan kesucian cinta.

Addiction/ Kecanduan

Gangguan ini terjadi ketika seseorang sangat ketergantungan terhadap sesuatu. Misalnya terhadap obat-obatan terlarang/ narkoba, alkohol, s*ks, judi, belanja, dll. Dia seakan tak bisa hidup normal tanpa memenuhi adiksinya itu.

Lebih parah lagi kalau kecanduannya itu sudah mengganggu kehidupan. Misalnya hubungan dengan keluarga jadi rusak, kesehatan jadi terganggu, pekerjaan dilalaikan, dsb. Butuh orang super sabar untuk menangani seorang pecandu.

Masalahnya, banyak pecandu yang tidak peduli keadaan sekitar,. Baginya, yang penting kecanduannya bisa terpenuhi. Kalau terus-terusan seperti ini, daripada menguras dan menjadi racun bagi semua, perceraian bisa menjadi solusi pilihan.

Penyalahgunaan/ Kekerasan

Abuse tidak hanya yang bersifat fisik. Ada juga kekerasan verbal, emosional, dan ekonomi.

Kekerasan fisik tentu menghadirkan penderitaan fisik. Misalnya pukulan, tendangan, tamparan, dll.

Kekerasan verbal dan emosional itu menguras perasaan serta air mata. Misalnya pasangan yang sangat cemburuan, sangat posesif, sangat suka mengolok-olok, sangat suka berkata kasar, dll.

Adapun kekerasan ekonomi meliputi pengendalian keuangan yang berlebihan. Misalnya nafkah yang tidak mencukupi karena pasangan terlalu kikir, atau kebutuhan tidak dicukupi karena sifat boros.

Semua kekerasan ini memuncak ketika salah-satu menjadi dominan. Lalu pihak yang satunya lagi merasa takut, menutup diri, tidak berdaya, dan justru lebih banyak deritanya ketimbang bahagianya.

Kalau orang tua bernasib seperti ini, apa anak akan cuek saja? Maka, opsi perceraian untuk kasus ini mesti dimaklumi.

Agenda/ Perubahan

alasan perceraian, alasan utama perceraian, pasangan berubah, pasangan berubah cuek, pasangan berubah setelah menikah, pasangan berubah drastis
Image via: isha.sadhguru.org

Sedih tapi nyata, bahwa manusia itu terus berubah. Sosok orang tua sebelum menikah dan pasca menikah barangkali berbeda. Apa jadinya kalau tiba-tiba antara ayah atau ibu memutuskan sesuatu yang ekstrem atau berubah drastis?

Misalnya salah-satu diantara mereka ingin pindah agama, pindah kewarganegaraan, hengkang dari pekerjaan, memilih menjadi relawan perang di negara konflik, dll. Kalau keputusan itu masih bisa diterima, ceritanya tentu agak berbeda. Namun kalau perubahan drastis itu justru bersebelahan dengan keinginan keluarga, anak bisa apa?

~

Bisa saja orang tua mempertahankan pernikahan demi anak. Namun jaminan kebahagiaannya sangat tipis. Anak pun akan kena risikonya. Malah, keluarga akan terus dilanda krisis yang semakin parah dan tak bisa pecah.

Kalau anak-anaknya sudah dewasa, orang tua bisa berdiskusi. Bila perlu, musyawarahkan dengan keluarga besar atau minta nasihat pada tokoh agama, sahabat, psikolog, terapis, dll. Jika mengerucut pada perceraian, sebagai anak, mesti maklum, ya.

Perceraian pasti tidak pernah direncanakan orang tua mana pun. Mereka juga tidak menyusun skenario agar anaknya terus kecewa dan bersedih sepanjang hidup. Tetapi, demikianlah nasib.

Serahkan pada Tuhan. Terus libatkan Dia dalam setiap langkah kehidupan. Dukung dirimu, dukung juga orang tuamu. Semuanya berhak mendapat kesempatan untuk melepaskan yang sudah-sudah, move on, dan berbahagia.

Perceraian bukan akhir dari segalanya. Masa lalu memang tak bisa diedit, namun masa depan masih bisa dirancang. Semoga jadi lebih baik. 4 Alasan Utama Perceraian, Anak Broken Home Harus Maklum. #RD

8 thoughts on “4 Alasan Utama Perceraian, Anak Broken Home Harus Maklum

  1. Bener banget, mba. Kadang agak gimana gitu sama orang yg bilang bahwa pasangan yg bercerai itu egois nggak mikirin anak. Padahal lebih baik mereka berpisah daripada harus berantem terus menerus di depan anak, kan. Banyak yang lupa bahwa menikah tujuannya bukan hanya membesarkan anak. Tapi juga ketentraman hati. Kalau itu sudah tidak didapat, masa harus mati-matian berkorban perasaan?

    1. Kalau tidak tahu permasalahan dan asal berkomentar saja memang selalu gimana ya, Mbak Enny. Barangkali orang tua sudah berusaha maksimal untuk bertahan, namun seperti yang Mbak bilang kalau hubungan itu tidak menentramkan (justru meresahkan) bisa menderita seumur-umur. Bisa menjadi contoh dan memori negatif juga untuk anak-anak. Heuheu

      Maka saya hadirkan postingan ini, semoga saling belajar dan memaklumi. :))

  2. yang penting ortu hrs siap mental dulu baru memberitahu anak dg cara yang bijaksana shg anak mengerti , kalau bisa sih jangan sampai bermusuhan karena jangan sampai anak membenci salah satu dr ortunya

    1. Ah benar sekali, Mbak Hastira. Pasti sulit ya untuk mendiskusikan masalah ini. Tetapi kalau tidak, nanti bisa ada kesalahpahaman. Karena kurang komunikasi juga, “permusuhan” dan rasa benci sering menjadi akibatnya..

  3. Saya salah satu korban perceraian mbak. Ya memang banyak alasan kalau memang ternyata harus bercerai, saya maklum dan itu menurut saya memang jalan yang terbaik.. tapi entah kenapa saya terus mikir ‘kenapa dulu nikah kalau akhirnya cera, kenapa gak bisa menekan ego masing-masing kan udah tau konsekuensi pernikahani’ dan saya paling nggak suka lagi kalau banyak yang bilang anak korban perceraian itu anak broken home karena gak semua begitu. ada yang justru bahagia :)) apalagi dikait2kan sama hal-hal negatif

    1. Tos dulu, Mbak Awi. ^^
      Iya, sampai sekarang saya pun enggak habis pikir, yang dulunya mesra sekarang bisa jadi seperti saling asing. Tetapi siapa saya yang bisa menghakimi mereka. Mungkin dalam hati, mereka juga bertanya-tanya sendiri, ‘kenapa bisa jadi begini?’.

      Dulunya pernah membayangkan bisa menghabiskan masa tua yang bahagia bersama pasangan sahnya. Namun sebagai manusia biasa, mereka tak tahu apa-apa di masa depan. Mereka hanya bisa menjalaninya. Jika Tuhan berkehendak lain, mereka pun hanya berserah diri pada keputusan terbaik. Itu pun pasti setelah pertimbangan matang.

      Ah, sama, Mbak. Memang saya tidak menampik banyak anak korban perceraian yang terjebak pada jalan salah. Namun banyak juga yang bisa move on, positif, dan bahagia. Klise, sih. Tetapi semuanya kembali pada pribadi masing-masing, ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.