Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Tidak Akan Menghakimimu Sebelum Mendengar Penjelasanmu

Tidak Akan Menghakimimu Sebelum Mendengar Penjelasanmu

4
SHARE
ngejudge, ngejudge orang lain, ngejudge orang mulu, stop ngejudge, kata kata jangan ngejudge, menjudge artinya, arti ngejas orang
image via: travelweek.ca

Saya tidak ingin menghakimi atau nge-judge, tapi kebiasaan ini terus terulang, bahkan tanpa disadari. Huft.

Saya tergoda untuk ngejudge orang dari penampilannya, kata-katanya, postingan medsosnya, perbuatannya, pilihannya, keputusannya, dsb.

Ketika Si A curhat kalau pasangannya selingkuh tapi dia memaafkan dan tetap bertahan, hati saya berkomentar ‘bodoh, payah’. Ketika ada wanita menghardik balita di angkot, hati saya berkomentar ‘ibu-ibu kejam, gak tahu adab!’. Ketika orang lewat memakai baju kusut, hati saya berkomentar ‘emang itu orang males nyetrika’.

Segalanya jadi serba ‘komentar-able’. Mending kalau komentarnya benar dan tepat. Kebanyakan justru salah kaprah.

Kebiasaan ini sudah lama mengakar.

Saya masih ingat waktu SMA, ketika mengajak salat dzuhur sama seorang teman, dia selalu mengelak. Saya pun dengan jahatnya menghakimi yang tidak-tidak. Sampai kemudian, saya mendengar percakapannya dengan teman lain. Si teman lain itu mengajaknya nongkrong dulu pasca pulang sekolah, lalu dia menolak dengan alasan ‘mau pulang dulu, mau mandi dan ganti baju biar salat dzuhurnya dalam keadaan bersih dan suci’. Gila! Iya, saya yang gila karena sempat menuduhnya yang tidak-tidak.

Kemudian, saya juga sempat sebal sendiri ketika sosok-sosok penting jarang menghubungi atau tidak responsif. Saya mengira yang bukan-bukan. Pokoknya larut dalam pikiran negatif. Tetapi ketika dibicarakan – ketika mereka menjelaskan dan saya mendengarkan – hadirlah kesimpulan bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.

Saya tak semestinya menghakimi sepihak. Kalau dipikir-pikir memang kurang adil. Mesti ada kesempatan bagi mereka untuk menjelaskan.

Jangan Menghakimi Kalau Tidak Mau Dihakimi

Patokannya: put yourself in their shoes. It could be you.

Maksudnya, coba bayangkan kalau saya yang ada di posisi mereka. Saya bisa juga mamakai baju kusut, menghardik balita di angkot, menunda-nunda salat, jarang memulai kontekan, kurang merespons, dll. Lalu bayangkan juga kalau orang lain menghakimi saya. Tidak enak, bukan?

Well, semua itu kemungkinan besar terjadi karena suatu alasan. Namun karena alasan tersebut tidak diketahui dan dipahami, maka kehendak untuk ngejudge itu semakin tinggi. Pantas orang sana bilang, ‘don’t judge if you don’t know the whole story’. Jangan ngejudge kalau kamu enggak tahu keseluruhan ceritanya.

Kalau sudah berpikir seperti itu, saya jadi malu sendiri. Merasa buruk sendiri. Sebab, saya pun pernah sering dijudge sepihak.

Nah… nah… selalu seperti itu. Ketika orang lain yang menghakimi, otomatis saya menolak. Tetapi sayanya malah sering main hakim sendiri. Tidak mau jadi korban, tapi malah jadi pelaku. Kurang-lebih seperti itu.

Padahal jadi korban atau pelaku penghakiman itu sama-sama tidak bikin bahagia. Apalagi kalau kita sampai ngejudge orang-orang terdekat. Entah itu keluarga, pasangan, sahabat, tetangga, dsb. Taruhannya tidak main-main: keretakan hubungan kita dengan mereka.

Perlu usaha keras untuk memonitor hati dan pikiran agar tidak negatif. Perlu kelapangan hati untuk mendengar penjelasan mereka. Perlu kebijaksanaan untuk memahami mereka.

Tapi tak apa. Kesalahan kadang menjadi guru terbaik agar kita berubah menjadi lebih baik. Yang terpenting, sampai detik ini, keinginan untuk berubah menjadi lebih baik – jadi pribadi yang tidak mudah ngejudge – itu masih ada. Tidak Akan Menghakimimu Sebelum Mendengar Penjelasanmu. #RD

SHARE

4 COMMENTS

  1. bener, sist..
    kadang (sering) aku pun demikian.
    “Perlu usaha keras untuk memonitor hati dan pikiran agar tidak negatif. Perlu kelapangan hati untuk mendengar penjelasan mereka. Perlu kebijaksanaan untuk memahami mereka.”

    thanks for sharing..
    semoga diri ini menjadi lebih baik dan tidak mudah menghakimi..

  2. Bener. Kadang selalu ngomong atau main hakim sediri padahal belum tau alasan atau kejadiannya kayak gimana. Apalagi sekarang ada medsos yang omongannya kadang netizen tajem-tajem. Semoga jadi pribadi tambah baik deh hehe!

    • Hehe iya nih, Mbak Awi. Apalagi kalo di medsos bisa pakai nama dan poto palsu, jadi ‘para hakim’ itu semakin merajalela melancarkan aksinya. Tetapi kita mah sebisa mungkin tidak perlu ikut-ikutan, ya. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.