Home My Files Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi 6 Keuntungan dari Sikap Sedikit Bicara Banyak Mendengar

6 Keuntungan dari Sikap Sedikit Bicara Banyak Mendengar

2
SHARE
sedikit bicara, Sedikit Bicara Banyak Mendengar, Sedikit Bicara Banyak Mendengar dalam bahasa inggris, Sedikit Bicara Banyak Mendengar dalam islam
Image via: inzight.no

Sedikit bicara banyak mendengar; pernah mendengar nasihat ini, bukan?

Saya berusaha menabahkan telinga, sekaligus tetap mengatupkan bibir agar tidak bicara, tepat ketika seseorang berceloteh tentang daftar manusia yang tampak menyukainya.

Cara saya menghadapinya memiliki pola ‘tetap diam dan dengarkan saja biar cepat’. Hal tersebut terbentuk karena saya (merasa) sudah tahu karakternya. Dia senang bercerita sampai rinci, bahkan kadang dilebihkan dan dibuat-buat. Saya berani menyimpulkan ini, karena beberapa kali orang yang dia bicarakan justru memberi kesaksian berbeda. Lah, kok jadi menggosip? Maafkan.

Jadi berpikir saja, ada “untungnya” saya berkepribadian introvert, yang cenderung menjadi pendengar ketimbang menjadi pembicara. Kalau orang barat bilang, talk less listen more.

Namun saya tak menampik kemungkinan untuk bicara terlalu banyak. Apalagi pada orang-orang terpercaya dan bikin nyaman. Tingkat cerewet saya meninggi.

Anehnya, saya seringkali merasa “menyesal” kalau sudah kebanyakan curhat. Ada rasa khawatir pembicaraan saya sudah menelanjangi diri sendiri, membuka aib, dan mengekspos kebodohan belaka. Selain itu, saya juga merasa tidak enak sudah memonopoli obrolan. Fungsi komunikasi jadi terusik.

Jadi, seuntung apa kalau kita mampu bicara minimal dan mendengar/menyimak maksimal?

talk less listen more artinya, sedikit bicara banyak mendengar, sikap bijaksana, hikmah sedikit bicara banyak mendengar
Image via: paulkingsman.com

1. Kita Jadi Berpikir Dulu Sebelum Bicara

terlalu banyak bicara, fakta orang banyak bicara, cara menghadapi orang banyak omong, banyak bicara disebut, banyak omong sinonim
Image via: inc.com

Pernah tidak, ada seseorang yang bicara di depan umum, namun audiensinya justru sibuk sendiri? Tak ada yang benar-benar menyimak. Apalagi kalau konten pembicaraannya sudah ngalor-ngidul, atau pembicara seperti asbun (asal bunyi).

Demikian juga ketika kita ngobrol secara individu atau kelompok kecil.

Karena itu, ada baiknya untuk mengendalikan nafsu bicara. Tarik napas dulu. Pikirkan jawaban, kata-kata, dan cara penyampaian terbaik sebelum menyuarakannya.

2. Kita Jadi Mendengar Dulu Sebelum Menyimpulkan

mendengar, mendengarkan secara seksama, menyimak, dengar dulu, coba dengar dulu, dengar dulu sebelum menyimpulkan, mendengarkan penjelasan
Image via: thoughtco.com

Karena enggan mendengar, bukan sekali-dua kali kita terjebak pada penghakiman dini. Padahal kesimpulan kita belum tentu akurat. Sahabat yang tidak mengundang kita ke pernikahannya belum tentu sudah melupakan persahabatan. Jika mau mendengar, barangkali kertas undangannya yang sudah dititipkannya pada seseorang tidak sampai ke tangan kita.

Pantas saja banyak yang sering mengingatkan, ‘kita punya 1 mulut dan 2 telinga agar tidak banyak bicara dan lebih banyak mendengarkan’. Nasihat ini memang efektif untuk mengerem mulut agar tidak menuding sembarangan.

3. Kita Jadi Membatasi Diri, Memprioritaskan Pada Hal-Hal Penting (Saja)

Ketika menyekrol media sosial, dengan niat mencari inspirasi, saya justru pusing sendiri karena orang-orang memosting aneka informasi. Mulai dari curhat tentang rumah tangga yang retak, politik yang penuh intrik, intoleransi, tangga lagu, perang netizen, penyakit ayam, rekor terbaru, berita terkini, transgender, olahraga,  feminisme, dll. Information overload. Overwhelming.

Susahnya hidup di zaman sekarang, sebab kita selalu terpincut untuk ikut berkomentar tentang apapun, apalagi yang sedang panas. Namun sikap ‘sedikit bicara dan banyak mendengar’ meredakan kehendak ini. Tahan. Tahan. Tak semua hal mesti dikomentari. Serap yang penting-pentingnya saja.

4. Kita Jadi Mengenal dan Memahami Lebih Baik

Beberapa minggu kemarin, A saya menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Rupanya ada suatu hal yang tidak B suka dari saya, namun beliau tidak bilang-bilang. Beliau kemudian mengutarakannya pada A.

Saya merutuk pada diri sendiri yang tidak peka atas ketidaknyamanan B. Saya juga merasa tertampar, karena ternyata belum memahami B sepenuhnya. Setelah minta maaf, saya berusaha lebih sensitif, sering ngobrol, dan memperbanyak momen kebersamaan. Mungkin hal ini diakibatkan oleh jarangnya obrolan real diantara kami, atau karena memang saya tidak menyimak gelagat beliau.

5. Menciptakan Produktivitas dan Perdamaian

Berbicara memang melegakan. Kita jadi bisa mengekspresikan diri. Namun kalau tanpa kendali, justru kita sendiri yang rugi. Waktu lebih banyak terisi oleh ngomong ketimbang beraksi nyata.

Kemudian di sela-sela celotehan panjang, kemungkinan ada kebodohan dan kebohongan yang bocor. Tak jarang semua itu justru menggiring masalah baru. Apalagi kalau sampai terjebak pada kebiasaan menggosip.

Lagipula, orang yang ‘banyak bicara dan sedikit bekerja serta tidak mau mendengar’ itu kesannya tidaklah keren, bukan?

6. Kita Jadi Lebih Banyak Berkarya

Bicara tentang cara mengekspresikan perasaan tak hanya lewat omongan. Kita masih bisa melakukannya lewat tulisan, lagu, karya seni, atau apapun itu. Tindakan ini memungkinkan kita untuk lebih mendengar diri sendiri, kemudian mengekspos emosi dan pikiran dengan benar. Bukan tak mungkin kita lebih mengenal jati diri lewat pembuatan karya ini. Selama karya tersebut bisa dipertanggung-jawabkan, kita bisa menikmati kebaikannya.

Nah, siap untuk merasakan kelebihan dari sedikit bicara dan banyak mendengar? Demikian, 6 Keuntungan dari Sikap Sedikit Bicara Banyak Mendengar. #RD

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.