Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Semua Orang Bisa Menjadi Role Model atau Panutan, Mengerikan!

Semua Orang Bisa Menjadi Role Model atau Panutan, Mengerikan!

2
SHARE
role model adalah, role model arti, my role model, role model meaning, pengertian role model
Image via: arryrahmawan.net

Siapa role model-mu?

Ada yang role model-nya memang manusia sempurna, orang tua sendiri, guru mengaji, guru sekolah, penyanyi favorit, selebgram, penulis, politikus, komedian, entrepreneur, dll. Ya, panutan itu bisa datang dari berbagai latar belakang.

Saya menyadari kemungkinan sebagai role model ini setelah bertahun-tahun mengajar di lembaga kursus. Contoh kecilnya, ketika mengajar Bahasa Inggris menggunakan media lagu barat, mereka akan serta-merta mengikutinya. Seperti beberapa waktu lalu, saya memutar lagunya Shawn Mendes, In My Blood.

Adik-adik didik yang duduk di kelas XII itu langsung searching lagu, lirik, dan penyanyinya. Mereka juga langsung update status di media sosialnya. Ada yang menukil potongan lirik, ada juga yang merekam diri sedang mengerjakan tugas sambil memainkan lagu itu. Demikian juga ketika saya menyembulkan kata-kata, yang kemudian mereka kutip atau repost.

Ini bukan momen pertama, di mana saya sadar betul kalau anak-anak seusia mereka bisa mencomot siapa saja menjadi role model-nya.

Bahaya juga kalau saya “mengenalkan” lagu atau penyanyi yang membawa pengaruh buruk. Maka saya berusaha untuk tidak memilih lirik lagu yang sekiranya mengandung kata-kata f*ck, sh*t, b*tch, atau isinya tentang hal-hal negatif seperti menghina keyakinan tertentu, s*ks bebas, pujian pada obat dan minuman keras, hasrat untuk menyakiti diri sendiri,  juga sebisa mungkin tidak menyuguhkan lagu yang berisi kampanye kontroversial.

Saya bahkan selalu kepo tentang selebritis favorit mereka, yang selalu dijadikan teladan oleh mereka. Ada yang menyebutkan nama pemain bola, artis Kpop, Youtuber, peserta acara pencarian bakat, gurunya sendiri, dll. Kalau sosok itu masih ‘aman’, saya tidak banyak komentar. Tetapi kalau pilihannya jatuh pada figur ‘bermasalah’, saya cenderung ingin ‘mencampuri urusannya’.

Rasanya ikut berat hati saja kalau mereka ingin mencontoh orang-orang populer yang tampak memberi pengaruh negatif.

Saya pernah melihat cuplikan video wawancara seorang penyanyi dunia yang selalu tampil tak seronok, dan lagu-lagunya tidak direkomendasikan bagi anak muda. Ketika presenter bertanya bagaimana pendapatnya tentang para fans yang masih di bawah umur, dia dengan santai menjawab, kalau dia bukanlah orang tua fans muda tersebut. Sehingga, dia merasa tidak bertanggung-jawab dan tidak tahu mesti berbuat apa. Wew.

Sejak PPL pun, saya sempat freak out ketika guru pamong bilang, kalau saya harus menjadi role model bagi murid di sekolah. Beliau menegaskan, memang demikianlah citera guru – digugu dan ditiru. Sementara saya selalu merasa bukan contoh yang baik. Entah dari segi penampilan/ berpakaian, berkata-kata, bersikap, dll.

Jujur, saya merasa tertekan kalau harus tampil sempurna dan tiru-able.

Gerak-gerik saya seakan selalu diawasi. Mending kalau mereka mengikuti hal-hal baik dari saya. Kalau sebaliknya, saya pun serasa ikut bertanggung-jawab.

Demikian juga ketika aktif menggunakan Instagram. Ada yang mengaku ikut meninggalkan tanda love pada postingan yang saya suka. Ada yang menjadi follower akun-akun yang saya follow. Ada juga yang protes karena saya menyukai postingan seorang politikus yang dia anggap berjiwa diktator.

Saya mengangkat alis, kaget karena ternyata ada beberapa orang yang mengikuti pergerakan di media sosial. Mending kalau mereka mengikuti hal-hal baik dari saya. Kalau sebaliknya, saya pun serasa ikut bertanggung-jawab. Mengerikan!

Karena keresahan ini, saya sering memosting dan segera menghapus postingan itu, karena takut ada adik kandung, adik didik, keponakan, atau siapa saja yang melihat dan meniru. Padahal terkadang saya pun ingin mengunggah sesuatu yang nakal dan berbeda, misalnya candaan atau apa, gitu. Contoh kecilnya ketika update foto di kedai kopi, ada yang ikutan ngopi dan begadang. Oh well…

Mesti saling memberi kesadaran, bahwa siapapun bisa menjadi role model siapapun.

Tak ada masalah kalau panutan tersebut memang baik. Namun perlu waspada jika anak-anak atau remaja mengikuti arah yang salah. Akibatnya bisa mengerikan. Mereka cenderung mudah mencontoh dan punya rasa penasaran besar. Betapa Mengerikan, Semua Orang Bisa Menjadi Role Model atau Panutan. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Sebaiknya anak2 muda/remaja lebih bijak dalam memilih role model. Paling tidak sebagai langkah awal mereka sadar mana yang baik dan buruk, sehingga bisa memilih role model yang baik saja. Ataupun jika role modelnya buruk, hal2 buruk jangan diikuti, hanya kebaikan saja yang diambil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.