Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Takut dan Mengkhawatirkan Masa Depan, Masa yang Penuh Pertanyaan “Bagaimana Jika?”

Takut dan Mengkhawatirkan Masa Depan, Masa yang Penuh Pertanyaan “Bagaimana Jika?”

0
SHARE
takut masa depan, takut masa depan suram, takut masa depan dalam islam, khawatir masa depan, jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan, menatap masa depan
Image via: photogrist.com

Masa depan memberi dua efek; ya penasaran ya ketakutan, ya keyakinan ya kebimbangan.

Ketidakpastian masa depan sering mengundang pertanyaan “bagaimana jika?” atau “gimana kalo?”.

Di detik-detik kelulusan SMA, saya terperangkap dalam berbagai perasaan. Saya senang karena akan bebas tugas, bebas aturan, bebas memutuskan hendak kerja atau melanjutkan pendidikan, dsb. Rasanya bergairah saja, bagaimana hidup ke depannya. Penuh harap dan optimisme.

Tetapi saya juga diserang pertanyaan “bagaimana jika?”. Bagaimana jika orang tua tidak mampu membiayai kuliah? bagaimana jika masa depan saya suram? bagaimana jika saya tidak bisa beradaptasi? bagaimana jika sulit mencari kerja? bagaimana jika harus merantau dan hidup berpisah dengan keluarga? bagaimana jika kawan-kawan berubah? bagaimana jika orang-orang barunya jahat? bagaimana jika mati muda?

Demikian juga ketika saya lulus kuliah, mulai bekerja, mulai buka usaha, merencanakan pernikahan, merencanakan tabungan masa depan/ dana pensiun, mulai menua, dsb.

Bahkan saya pun ikut panik ketika keponakan-keponakan yang dulu masih bayi dan belajar berjalan, kini sudah sekolah, malah ada yang akan menempuh pendidikan pesantren di tempat yang cukup jauh dari rumah.

Rasa penasaran dan keyakinan itu muncul lagi, bersamaan dengan rasa takut dan bimbang.

Jadi meski momennya berbeda, siklus itu akan kembali terulang.

Ketidakpastian selalu mengundang kekhawatiran. Ketidakpastian selalu mengundang pertanyaan “bagaimana jika?” yang lain, yang lebih banyak dan bikin pusing. Stres.

Tanpa disadari, saya sudah ciut oleh masa depan, yang semua prediksinya belum tentu terjadi.

Saya sudah membiarkan diri terkuras oleh pikiran negatif sendiri.

Hidup Di Sini dan Sekarang Ini

masa depanku, masa depan adalah, artikel masa depan, masa depan quotes, kata kata masa depan, percaya diri menghadapi masa depan
Image via: Twitter @CountryfileMag

Siapa yang percaya diri memprediksi masa depan? Tak ada yang benar-benar tahu. Jangankan 1 tahun yang akan datang, sedetik kemudian pun kita tak tahu apa-apa.

Paling banter manusia akan mengajukan proposal atau susunan rencana, tetap Tuhan YME jua yang memutuskan.

Sementara upaya untuk “mengintip masa depan”, semacam ramalan, seringkali tidak direkomendasikan, sebab hal itu berpeluang menciderai akidah dan keimanan.

Masalahnya, kita hidup di sini dan di waktu kini. Kenapa membebani diri dengan memikirkan hidup di lain tempat dan lain waktu, yang bahkan tak pernah kita tahu?

Apapun yang terjadi masa depan, yang saya bisa hanya menikmati dan melakukan yang terbaik di masa sekarang. Di tengah ketidakpastian ini, saya sedang ditempa untuk memercayakan segala sesuatunya pada Yang Maha Kuasa.

Kalau terus ragu, apa artinya saya juga meragukan kekuasaan Dia? Apa artinya saya keberatan menerima takdir apapun dari-Nya? Padahal saya sudah sering dinasihati, bahwa ketentuan Dia pastilah yang terbaik.

Percaya pada diri sendiri dan beriman pada-Nya

khawatir masa depan, khawatir akan masa depan, takut akan masa depan, menatap masa depan, memikirkan masa depan
Image via: fstoppers.com

Sejauh ini, tanpa terasa saya sudah melalui aneka fase. Waktu berlalu, pernah berpindah-pindah tempat, orang-orang berubah, terus beradaptasi, dsb. Tetapi pada akhirnya saya tetap bisa melaluinya. Apalagi kalau terus-terusan melibatkan Dia.

Ketika duduk di bangku SD, saya dimarahi kakak karena nilai Matematika saya 0. Kejadiannya sudah lama, tapi sangat membekas. Saya begitu down. Sampai bertanya-tanya, ‘apakah nanti saya bisa baca-tulis-hitung? apakah mengaji saya bisa lancar? apakah saya akan lulus?’, dsb.

Perlu usaha dengan rasa percaya diri, ditambah doa, bahwa kita bisa melewati semuanya. Justru ketidakpastian itu mengasah akal dan kemampuan menyesuaikan diri.

Entah bagaimana jadinya kalau saya tidak percaya diri dengan tidak mau sekolah lagi, atau keluar dari pengajian.

Keseimbangan masa kini dan nanti

Meski masa depan masih misterius, tak ada salahnya untuk bersiap diri. Kita mencari uang sekarang untuk digunakan sekarang. Tetapi jika masih ada sisa, alangkah baiknya uang tersebut menjadi tabungan/investasi masa mendatang.

Kalau bukan berasal dari keluarga kaya-raya beberapa turunan seperti saya, tentu ada tuntutan harus berpikir dari sekarang, jika hendak menghadapi proyek besar. Mungkin kamu punya rencana untuk buka usaha, traveling, naik haji, umrah, khitbah, menikah, dll. Walau dicanangkan di masa depan, persiapannya bisa dimulai dari sekarang.

Kita bisa mensiasatinya dengan menyeimbangkan diri sesuai kebutuhan sekarang dan masa nanti. Jika ada acara silaturahmi dengan teman-teman SMA di restoran, beberapa anak tajir mungkin bisa menghabiskan banyak uang untuk pesan makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup, minuman, dan aneka camilan. Sedangkan saya (plus beberapa “sobat miskin” yang lain), mungkin sekadar memesan makanan utama dan minuman. Jadi kita bisa ngumpul, namun juga tetap berada pada trek hidup tidak foya-foya.

Hidup bukan ilmu eksak

Mayoritas dari kita sudah menanamkan rumus. Bahwa usia 20 ke bawah harus puas bersenang-senang, bahwa usia 25 ke bawah harus jadi sarjana, bahwa usia 30 ke bawah harus sudah menikah dan punya pekerjaan tetap, bahwa usia 40 ke bawah harus punya anak dan rumah sendiri, dst.

Sehingga ketika kita tidak bisa seperti “rumus kebanyakan orang”, rasanya minder dan seakan gagal.

Padahal hidup bukanlah ilmu eksak. Tak ada yang pasti. Ada orang berusia 20-an, tapi sudah menjadi pekerja atau merintis bisnis. Ada yang berusia  40-an, tapi baru menikah. Mereka terlambat, tetapi bukan berarti tidak bisa menyusul. Lagi-lagi, manusia hanya berencana, keputusan akhir tetap ada pada-Nya. Tidak perlu terlalu fokus pada pakem manusia.

Menerima misteri dan ketidakpastian masa depan

Pernahkah merasa, bahwa apa yang terjadi sekarang tidak pernah terbayangkan di masa lampau?

Saya tidak pernah merancang rencana untuk memiliki blog, tinggal di beberapa hotel, mengajar komputer di lembaga kursus, menggunakan kacamata, menyerah pada banyak hal, berpisah dengan sahabat, dll.

Saya juga sempat merancang aneka rencana, tetapi beberapa diantaranya tidak terwujud. Well, tak ada yang salah dengan rancangan rencana itu. Setidaknya saya sudah berjuang dengan mencoba dan berdoa. Hanya saja, saya tidak bisa mengontrol segalanya.

Saya mesti menerima fakta bahwa masa depan itu misterius, serba tidak pasti, dan tidak bisa dikendalikan diri sendiri.

Mau yang memilih berencana atau memilih untuk menjalani apa adanya seperti air yang mengalir, pada akhirnya, Sang Sutradara yang sudah mengatur semuanya.  Takut dan Mengkhawatirkan Masa Depan, Masa yang Penuh Pertanyaan “Bagaimana Jika?” #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.