Home My Files Kumpulan Artikel Menarik 3 Fokus Utama Di Hari Kesehatan Mental dan Jiwa Sedunia, Apa Saja?

3 Fokus Utama Di Hari Kesehatan Mental dan Jiwa Sedunia, Apa Saja?

0
SHARE
hari kesehatan mental sedunia, hari kesehatan mental jiwa sedunia 2018, hari kesehatan mental sedunia 2018, tema hari kesehatan mental sedunia 2018, hari kesehatan mental sedunia who
Image via: corporatebytes.in

Hari ini, 10 Oktober 2018, Twitter ramai dengan berbagai hashtag. Beberapa tanda pagar itu bahkan menjadi topik paling menggiurkan. Ada yang membahas #TimnasDay, #Amas, #AmericanMusicAward, #BTS, hashtag politis, dll, termasuk #HariKesehatanJiwaSedunia. Bahasa Inggrisnya, World Mental Health Day.

Jadi di hari ini, orang-orang semakin menggaungkan kesadaran tentang kesehatan mental pada umumnya.

Entah itu tentang advokasi terhadap stigma sosial, kampanye mencintai diri sendiri, pencegahan bunuh diri, kepedulian terhadap sesama, ketaatan beragama, pengembangan hobi, peningkatan pikiran positif, keterbukaan, dan masih banyak lagi.

Dirilis dari Lifestyle.kompas, World Healt Organization (WHO) alias badan kesehatan dunia menyatakan, kalau remaja dan usia dewasa muda itu rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

 

Kenapa?

 

Karena di usia itu terjadi ‘klimaks dari pencarian jati diri’, sehingga banyak perubahan dalam hidupnya.

 

Para remaja atau dewasa muda mulai pindah sekolah, atau merantau, mulai memasuki dunia kerja, stres karena lingkungan baru, tertekan karena media sosial, dll.

 

Belum lagi ditambah dengan aneka krisis kemanusiaan yang sudah macam-macam. Lihat TV, mantengin timeline, atau eksplor medsos saja … postingannya tak jauh dari bencana, kasus korupsi, kejahatan, pelecehan, dll. Hal-hal semacam ini juga menimbulkan rasa frustrasi dan stres.

Karena itu, WHO memiliki 3 hal yang menjadi fokus utama di hari spesial ini. Apa saja?

1 Fokus usia 14 tahun

Image via: verywellmind.com

Rupanya, sebagian kasus penyakit mental di seluruh ini mulai terjadi pada usia 14 tahun. Nahasnya, kebanyakan kasus tersebut tidak terdeteksi dari awal. Para remaja dianggap baik-baik saja, sehingga tidak bisa ditangani secara maksimal.

Efeknya … orang-orang belia yang sudah menanggung beban mental, kalau tidak terarahkan, bisa tersesat. Mereka larut dalam depresi, terjebak alkohol, terperangkap narkoba, terjerat s*ks bebas, berperilaku menyimpang, brutal, sampai bunuh diri.

Sebisa mungkin buat mereka agar tidak merasa sendirian, tidak merasa diabaikan, tidak merasa minder, dan tidak merasa sia-sia. Jangan pernah melarang mereka untuk menangis, atau memberikan pemahaman kalau mengeluarkan air mata itu adalah jiwa cengeng. Barangkali menangis itu bisa membuat hatinya lega, ekspresinya muntah, dan bebannya lebih ringan.

Back
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.